Sejatinya, Semua Adalah Nikmat

large            Aku sekarang sedang hobi masak, suka masak tapi belum cinta hahaha #apasih. Awalnya aku tak pernah ada gambaran jikalau seorang aku akan menggandrungi hobi masak ini, seorang aku lho. Orang yang mualesnya minta ampun, jangankan masak, nyuci piring aja males. Bayangin dong kalau masak kan barang-barang yang harus dicuci jadi bejibun. Rasa sukaku pada masak entah dari mana datangnya tiba-tiba datang menghampiri. Dilatarbelakangi oleh keenggananku untuk makan di kantin kampus karena lumayan mahal dan males aja kalau tiap mau makan harus mikir buat milih makanan. Cukuplah pikiranku terfokus untuk memikirkanmu memikirkan materi kuliah yang kadang terlalu abstrak untuk dipikirkan. Jadi, berasa mubadzir pikiran aja kalau tiap kali makan haru mikir dulu, milih, bingung, dan kadang dapet makanan yang tak sesuai ekspektasi. Jadilah ku putuskan untuk masak saja, lebih simple, lebih hemat, tinggal lep, nggak usah banyak mikir. Pagi itu aku lagi nongkrong di dapur kosan. Hampir sepertiga waktu yang kugunakan masak habis karena bolak balik kamar buat ngambil barang-barang buat masak. Alat dan bahan buat masak sengaja aku taruh di kamar tidak di dapur karena tau sendiri kan kalau di kosan suka ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, berbuat tapi nggak mau nyuci. Daripada dongkol tiap mau masak, mending cari aman aja, amankan alat dan bahan masakan di kamar. Nice solution banget kan. Jadi tak ada pihak yang tersakiti dan terhianati #apasih.

            “nggak capek apa mbak bolak-balik kamar?” tanya temanku, jengah bercampur kasihan kali ya melihat kehebohanku bolak balik kayak setrikaan.

            “capek sih mbak, tapi nggak papa. Jadi nanti pas kita udah punya dapur sendiri kita bakalan ngerasain nikmatnya masak tanpa harus bolak-balik” jawabku ngasal. Jawabanku ini membuat temanku senyum-senyum sendiri dan ngangguk-ngangguk. Aku pun jadi mikir, dari mana ya aku bisa dapet jawaban sekece itu. Percakapan ini terus terngiang sampai aku keluar dari kosan. Ku putar semua kejadian yang terjadi dalam hidupku selama ini dan aku berakhir pada satu kesimpulan bahwa, sejatinya semua adalah nikmat. Jika kita sedang mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan, menyedihkan, membosankan, itu semua sejatinya untuk menunjukkan pada kita bahwa sesungguhnya setiap apa yang kita alami dan kita miliki, semuanya adalah nikmat. Mungkin kalau kita tidak mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan, menyedihkan, atau membosankan, kita hanya akan merasa bahwa sesuatu yang kita miliki atau kita alami ya memang sudah seharusnya, bukan sebagai nikmat, padahal sejatinya semua adalah nikmat. Semua orang mungkin udah tau teori ini kali ya, tapi aku baru benar-benar menyadarinya sekarang.

            Aku pun berangkat kuliah dengan banyak kejadian yang ku putar ulang di otak, ku mulai menganalisis dari sesuatu yang terdekat. Kala itu aku berangkat kuliah naik motor. Naik motor ke kampus menjadi sesuatu kenikmatan sendiri, karena ketika S1 dulu ku lalui dengan berjalan kaki. Mungkin akan berbeda kejadiannya seadainya sudah sejak S1 dulu aku berangkat kuliah dengan mengendarai motor, maka mengendarai motor sekarang akan menjadi biasa dan tak ada istimewanya, dan tak ada tambahan kenikmatannya. Jadi ya udah gitu aja, ngerasa ya emang seharusnya ke kampus naik motor, istilahny ga ada rasa syukurnya udah dipermudah dengan adanya motor. Analisis selanjutnya mengenai suasana Bandung yang sejuk dan cenderung dingin, ini juga menjadi kenikmatan tambahan karena sebelumnya aku tinggal di Bekasi yang terkenal dengan ‘dua mataharinya’ karena memang panas dan gerah. Dulu aku sempat bertanya-tanya, kenapa aku bisa terdampar di Bekasi dengan suasana dan cuaca yang begitu panas, tapi sekarang aku menemukan jawabannya. Sejatinya Allah ingin aku merasakan betapa nikmatnya tinggal di tempat yang sejuk. Kenikmatannya menjadi berlebih karena sebelumnya aku berada di sisi yang sebaliknya. Seandainya, sehabis kuliah di Bogor aku langsung ke Bandung maka kenikmatan tinggal di Bandung tak akan semaksimal ini karena Bandung dan Bogor suasananya tak jauh berbeda.

            Selanjutnya masalah kuliah. Kenapa Allah menunjukkan jalan padaku untuk bekerja terlebih dahulu? Bekerja di tempat yang mungkin tidak terpandang di mata manusia? Yang terkadang membuatku agak minder untuk menyebutkan profesiku kala itu? Ya balik lagi, karena sejatinya semua adalah proses pendewasaan diri. Agar pandanganku tak dangkal dan sadar bahwa sesuatu yang baik menurut manusia pada umumnya belum tentu baik di mata Allah. Agar aku bisa melihat dari banyak sisi bahwa pandangan umum manusia itu tak selamanya benar. Maka sudut pandangku sekarang tak selalu berdasar pada kriteria manusia tetapi lebih pada esensi dan makin menyadari bahwa sejatinya semua adalah nikmat. Kuliah sekarang menjadi kenikmatan sendiri karena aku tahu bahwa mencari ilmu itu jauh lebih menyenangkan daripada mencari nafkah wkwkwk. Aku lebih menghargai setiap proses perkuliahan yang ku jalani di sini karena untuk sampai pada tahap ini bukanlah perkara mudah.

            Selanjutnya adalah tentang rasa sakit. Aku rutin mengalami rasa sakit yang amat sangat ketika siklus bulananku datang. Aku seringkali mengeluh, kenapa harus aku? Kenapa dari sekian banyak perempuan di muka bumi, kenapa salah satunya aku yang mengalami rasa sakit ini? Setiap kali bertemu dengan orang yang sama sekali tak mengalami rasa sakit ketika siklus bulanannya, aku akan selalu berkata ‘anugerah terindah banget kalau ga sakit’. Ternyata, aku baru sadar, bahwa aku salah besar. Rasa sakit juga merupakan nikmat. Seandainya tak ada rasa sakit yang ku rasakan, maka tiap hari ketika hari sehatku berjalan, aku tak akan pernah merasa bersyukur, tak akan pernah merasa feeling blessed, dan akan selalu merasa bahwa sehatnya badan adalah hal yang memang seharusnya dirasakan. Padahal sejatinya nikmat sehat adalah anugerah yang perlu selalu disyukuri. Menikmati setiap prosesnya semakin membuatku sadar bahwa Allah itu memfasilitasi manusia dengan limpahan nikmat yang tidak ada batasnya dan tidak ada hitungannya. Lantas, masihkah kita merasa kurang beruntung padahal setiap inchi dari kehidupan kita adalah limpahan nikmat yang tak pernah sedikitpun Allah kurangi, malah selalu ditambah setiap detiknya? Pantaslah manusia itu bergelimang dosa dan sejatinya tak akan pernah masuk syurga dari amalan yang dimiliki ya karena itu, lupa akan pemberian Allah yang sejatinya semua adalah nikmat.

Advertisements

Almamater Baru

menuntut-ilmu                Puji syukur atas segala nikmat yang Allah titipkan padaku yang notabene dengan ibadah yang seminim ini bisa mendapatkan nikmat hidup yang tak bisa dihitung banyaknya. Nikmat sehat yang tak pernah diminta, nikmat tidur nyenyak tiap malamnya, nikmat bersama keluarga yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan doanya, serta nikmat untuk kembali menuntut ilmu di jenjang selanjutnya. Alhamdulillah setelah rentetan ke ‘kekeuh’an itu akhirnya aku sekarang berada di sini di kota yang tiap aku bertemu dengan orang yang pernah tinggal di sini, mereka selalu berkata bahwa kota ini adalah kota yang penuh dengan kenangan manis. Bandung, not just a city, it’s home, it’s a story, it’s a history.  Ditambah lagi dengan wali kotanya yang dicintai tak hanya oleh warganya, tetapi oleh warga di daerah lainnya. Aku sudah sejak lama berangan-angan untuk bisa setidaknya ‘pernah tinggal’ di kota ini dan Alhamdulillah angan-anganku ternyata diijabah oleh Allah, tak henti-hentinya berucap syukur. Aku pindah ke Bandung per tanggal 1 Agustus 2017, berangkat dari Bekasi jam 10.00 dan nyampe di Bandung jam 2.00 dini hari. Itungannya tanggal 2 Agustus berarti ya. Tempat tujuan kala itu adalah kost yang aku booking by phone, jadi aku nggak survey tempat sama sekali, jadi yang penting ada. Tapi Allah maha baik, tempat kost ku ternyata nyaman banget jadi sepertinya akan tetap tinggal di kosan ini untuk dua tahun ke depan. Bahaya sih punya kosan terlalu nyaman karena bikin males keluar kosan ditambah lagi wifi yang 24 jam nyala dengan kecepatan yang cukup buat nonton youtube seakan-akan nonton TV dengan kamar mandi di dalem, lengkap sudah fasilitas buat jadi individu ansos (anti sosial) hehe. Tapi aku nggak bakalan gitu lah, rugi banget jauh-jauh ke Bandung terus temennya dikit, iya nggak sih? Hehe.

                Pindahan kali ini aku merasa sangat boros karena aku harus beli barang-barang kebutuhan di kamar. Perasaan pas dulu pindah ke Bekasi nggak seboros ini, mungkin karena dulu aku nggak sendiri tapi berdua sekamar, jadinya temen sekamarku yang notabene udah duluan di sana meminjamiku dengan barang-barang yang dia punya. Itulah yang membuat aku tak perlu membeli barang-barang terlalu banyak dan dampaknya aku rasakan ketika pindahan sekarang, berasa boros pake banget. Belum genap sebulan tapi pengeluaranku kayaknya udah cukup buat beli iphone7 wkwkwk. Tapi ya nggak (mama) papa juga sih kan barang-barangnya toh jadi punyaku kan. Keborosan ini juga didukung karena aku belum tahu dimana tempat beli barang-barang yang murah dan tempat beli makan yang murah. Kalau dibandingkan Bekasi, biaya hidupnya hampir sama lah ya tapi mahalan Bekasi dikit jadi aku nggak terlalu kaget. Nggak sekaget dulu pas pertama kali pindah dari Bogor ke Bekasi, rasanya kok apa-apa jadi mahal. Baru nyadar ternyata kota rantau yang pernah aku singgahi berawalan huruf B, Bogor-Bekasi-Bandung. So? There is somethihg special? Nggak sih, kocak aja.

                Nggak hanya kotanya yang baru tapi almamataernya juga baru, dari Institut Pertanian Bogor ke Institut Teknologi Bandung. Sampai tulisan ini dibuat pun aku masih berusahan menyesuaikan lidah dan jari agar nggak kepeleset bilang Institut Pertanian Bogor padahal niatnya Institut Teknologi Bandung. Pas upacara penyambutan mahasiswa baru juga sempet lidah kepleset bilang IPB padahal harusnya ITB. Kayaknya sih yang mendarah daging itu almamater S1 kali ya, ini pendapat subjektifku aja sih, mungkin orang lain nggak sama. Jadi gimana? Apa bedanya IPB sama ITB? Banyak. Mulai dari mana ya? hm… dari fisik kampusnya dulu kali ya. IPB itu luas banget sampe bus kampus hilir mudik untuk membantu mobilitas mahasiswa dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Kalau ITB sempit, dari pintu depan ke pintu belakang aja bisa aku tempuh dengan hanya berjalan kaki, agak ngos-ngosan sih soalnya medannya naik terus. Lahan parkir, kalau IPB luas banget dan gratis, nggak bingung buat markir motor dimana-mana ada. Kalau di ITB karena mungkin lahannya sempit jadi berdampak juga pada lahan perkir, di ITB lahan parkirnya terbatas, mbayar kisaran 2000 sampai 3000, dan buat markirin motor kayak nyari jodoh #susah #eh hahaha, kayaknya nih lengan bakalan berotot soalnya ngangkatan motor pas mau markir sama mau ngambil motor. IPB itu udah kayak pesantren, banyaaaak banget yang pake kerudung panjang dan lebar, hampir homogen lah suasanya. Nah kalau ITB lebih heterogen, yang pake kerudung panjang dan lebar biasanya aku temuin di sekitar masjid kampus, namanya masjid salman. IPB lebih ramah orang-orangnya, kalau jalan banyak yang senyum (ini subjektif ya) tapi kalau ITB orang-orangnya terlihat lebih serius dan jarang senyum. IPB nggak terlalu keluar aura orang pinter yang mengintidasi gitu tapi kalau ITB aura pinter dan mengintimidasinya kuat banget hahahaha.

                Itu sih sekilas tentang almamater baruku, dari perkuliahan yang aku ikuti sih kayaknya aku nggak bisa lagi santai-santai kayak pas jaman S1 dulu. Sekarang belajarnya harus keras dan ekstra. Berasa pengen nginep di perpus kalau udah denger petuah dosen-dosen di sini ditambah lagi obrolan teman-teman seangkatan yang risetnya kayaknya udah jauh banget. Aku mah apa atuh, udah lupa semua yang pernah dilakukan di lab karena emang pada dasarnya kurang suka lab. Mulai sekarang harus mulai menyukai sesuatu yang tidak disukai, mulai dari lab, hal-hal detail, dan tepat waktu. Harus mulai manata diri karena adanya aku di sini bukanlah kebetulan, semuanya by design, dan aku sendiri lah yang memilih design ini maka jalan yang paling tepat adalah lakukan yang terbaik. Semoga semangat ini terus berkobar, kalau pun toh redup semoga Allah kirimkan pengingat dari jalan yang tak diduga-duga. Oya tak lupa doakan juga, semoga ngejar Master dapet Mister juga ya, Amin.

Konsisten dan Profesional

konsisten-mengelola-blogBerawal dari kegabutanku di kosan karena ditinggal teman sekamar yang sedang pulang kampung ke Bandung untuk mempersiapkan perhelatan agung dalam hidupnya, yang ikrarnya menggetarkan alam semesta, yang disebut sebagai mitsaqan ghalidza ‘perjanjian yang agung’, yakni pernikahan. Hari pertama aku ditemani teman sekantor yang kosannya tidak terlalu jauh dari kosanku, tapi hari selanjutnya sepertinya tak enak rasanya merepotkan orang lain, jadilah aku nikmati saja kesendirian ini. Kadang sendirian membuat kita bisa memikirkan banyak hal yang mungkin tidak terpikirkan ketika kita bersama orang lain. Jadi, menyendiri sepertinya bisa jadi alternatif untuk menjernihkan pikiran sesekali. Mungkin karena aku kurang terbiasa sendiri, rasanya ingin sekali melakukan suatu hal daripada hanya bengong atau berpikir tak tentu arah. Hal yang biasanya ku lakukan adalah nonton drama, drama korea. Tapi, berhubung drama yang ku suka belum tayang lagi karena drama ini on going, jadilah aku tak melakukan apa-apa kemarin malam. Ditambah dengan kondisi badanku yang sedang benar-benar tidak enak, kepala migrain, pencernaan kurang lancar, dan Bekasi yang sepertinya sedang mencapai suhu terpanasnya. Rasa panasnya bukan main, jangankan di kosan yang tanpa AC, di kantor yang ber-AC pun keringat tak henti-hentinya bercucuran. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Tak heran sih banyak meme yang bilang Bekasi punya dua matahari, panasnya benar-benar maksimal, numero uno.

            Rasa pusing yang ku alami tadi malam membuat tidurku makin ku perpanjang, tapi tetap saja sepertinya rasa pusingnya tak mau lepas dari kepala. Aku segera mandi agar kondisiku kembali pulih, yang ada di kepalaku pagi tadi hanyalah beli tolak angin cair atau minum kopi karena biasanya dengan salah satu barang itulah rasa pusingku bisa hilang. Pilihanku jatuh pada minum kopi walaupun ketika minum kopi itu rasa pusingnya sudah mendekati kata sembuh, tapi tetap saja ku beli untuk memaksimalkan proses penyembuhannya. Ketika akan pulang ke kosan, aku ingat aku harus punya tontonan, jadilah aku putuskan untuk mendownload sebuah film yang direkomendasikan seorang temanku di media sosialnya.

            Temanku ini adalah teman yang beberapa tahun belakangan ini aku kagumi. Setiap postingannya, entah itu di IG ataupun wordpress selalu membuat kekagumanku makin bertambah padanya. Selalu saja ada hal baru yang dia posting. Entah karena pengetahuanku yang sempit atau pengetahuan dia yang luas, seakan-akan apa-apa yang dia posting adalah hal baru bagiku dan selalu meninggalkan kesan. Tentunya hal ini membuatku semakin menyukainya. Aku menyukai dia dari penggambaran yang ada di kepalaku karena memang kita sudah tidak bertemu beberapa tahun. Akan ada dua kemungkinan ketika aku kembali bertemu dengannya, aku makin menyukainya atau mungkin malah tidak menyukainya. Apakah dia menyukaiku? Sepertinya tidak karena kemungkinan tidak ada kesan menarik yang ku tinggalkan ketika kita berteman. Kenapa aku begitu yakin? Nggak tau, yakin aja. Pesimis? Nggak juga. Menyukaiku ini bukan dalam taraf aku harus memilikinya, bukan. Aku bukan anak kecil, aku hanya kagum, suka, ya itu saja.

            Postingannya kali ini mengenai sebuah film dokumenter yang berjudul ‘Jiro, The Dreams of Sushi’. Sampai di kalimat ini mungkin akan banyak yang tahu siapa gerangan yang aku kagumi, hehe. Ya dia. Cukup sampai di sini, mari lanjutkan bahasan intinya mengenai film dokumenter ini. Film ini sukses membuatku tertampar, melongo, dan sadar. Film ini juga sukses mambuatku membereskan kamar yang berantakan, melipat baju yang sudah dicuci, kembali punya ‘ghiroh-semangat’ untuk melakukan banyak hal. Dahsyat bukan? Bukan lagi. Aku bisa menjadi sebegitunya ketika menemukan hal yang berhasil menaikkan motivasi. Apa sih isi film ini sampai sebegitu membekasnya di hati? Intinya sih tentang konsistensi dan profesinalitas. Dan semua yang ku tonton di film ini benar-benar berkebalikan dengan apa yang ku lakukan hingga saat ini. Dan aku berniat untuk merubahnya agar hidupku lebih punya arti, ceilah.

            Film menceritakan seorang pemilik restoran sushi di Jepang yang hingga umur 85 tahun masih bersemangat untuk bekerja membuat sushi, namanya Jiro Ono. Di awal film ini beliau berkata bahwa seseorang harus mencintai dan professional dalam pekerjaannya untuk menjadi orang yang sukses di bidangnya. Beliau begitu konsisten membuat sushi bahkan disebutkan di film itu beliau berangkat kerja menaiki kereta dengan posisi yang sama tiap harinya, saking konsistennya. Karena kecintaannya yang sangat besar pada pekerjaannya, beliau sampai tidak suka hari libur dan menurutnya hari libur itu terasa sangat lama, sampai sebegitunya loh. Emang ada orang jaman sekarang yang merasa kalau hari libur itu adalah hari yang tidak menyenangkan? Ada kali ya, tapi aku belum pernah ketemu orang seperti itu. Bahkan ketika beliau tidur pun, beliau bisa membuat sushi dalam mimpinya dan terbangun dengan ide-ide baru tentang sushi. Restoran yang beliau punya sangat kecil tetapi popularitasnya benar-benar telah mendunia. Dianugerahi penghargaan Michelin sebagai restoran bintang 3 (aku nggak tau ini penghargaannya sebergengsi apa tapi dari ceritanya sepertinya penghargaan ini bergengsi banget, mungkin sekelas Nobel kali ya, tapi di bidang kuliner), masuk guiness book world of records, dan berpredikat restoran termahal di dunia. Kalau mau buat reservasi harus dua bulan sebelumnya dan harga sushi per buahnya mulai dari ¥30.000 (kurs rupiah ke yen, 1¥ = 119.11, berarti ¥30.000 setara dengan Rp 3.573.300). What??? Mihil bingit? Aku baru konversi harganya pas nulis ini dan ternyata emang muahaaaaallll bangeeeet. Kalau harganya mulai dari ¥30.000, artinya itu harga termurah kan ya? Pantesan dibilang restoran termahal di dunia. Jangan bayangkan porsi yang besar dengan harga semahal itu, porsinya keciiiil banget sushinya, nggak nyangka semahal itu. Dan jangan bayangkan pula restorannya mentereng dan mewah khas restoran eropa, nggak, nggak sama sekali. Restorannya itu kecil, sempit, hanya berisi 8 kursi kayak warung gitu, benar-benar kecil untuk mendapatkan predikat restoran termahal di dunia. Lantas apa yang membuat restoran dan Jiro ini menjadi begitu tenar dan spesial? Coba nonton deh, kalian bakalan mengerti kenapa bisa sebegitunya. Aku akan sedikit bercerita, tapi mungkin nggak bakalan terlalu menggambarkan kehebatan kakek Jiro ini.

            Jiro telah terkenal sebagai master of sushi, tidak ada yang bisa menyamai kualitasnya selama dia masih hidup, bahkan anak tertuanya pun tidak akan bisa. Ini pendapat seorang penulis buku resep yang telah berulang kali makan di restoran Jiro. Jiro dilahirkan dari seorang Bapak yang mempunyai banyak uang dari usaha kapal angkutan miliknya. Akan tetapi bisnisnya bangkrut dan hidup keluarganya berantakan, bapaknya menjadi peminum dan tidak peduli pada keluarga. Menjadi anak yang tidak terurus membuatnya hidup disiplin dan selalu bekerja keras karena tanpa kerja keras dia tidak akan bisa makan. Jiro bekerja sebagai pegawai di sebuah rumah makan dan sangat konsisten di pekerjaannya, bahkan tetap bertahan walaupun dimarahi dan ditampar ketika melakukan kesalahan (gileee…. Kalau aku kayaknya bakalan langsung ngacir). Sikap disiplinnya inilah beliau tularkan pada anak-anaknya. Ketika anak keduanya akan membuka restoran sushi, pesannya beliau adalah ‘ketika kau pergi (untuk memulai usaha maksudnya), tidak akanada jalan kembali’. Jadi menurut Jiro, ketika orang tua memberikan nasehat kepada anaknya seperti ini ‘berusahalah, pintu rumah akan selalu terbuka ketika kau gagal’ justru akan mengantarkan seorang anak untuk gagal. Banyak pegawai dan pengamat yang berpendapat bahwa Jiro sangat perfeksionis dan sangat keras pada dirinya sendiri. Bahkan ada yang berpendapat ‘harusnya dia tidak menyesali hidupnya karena dia telah berusaha sangat keras, aneh saja kalau dia masih menyesal’. Perumpamaan bekerja pada Jiro adalah ‘kau tidak bisa merasakan kakimu ketika akan tidur’, mungkin saking lamanya berdiri kali ya. Saking jarangnya pulang, ketika anak-anaknya masih kecil, mereka berlari mencari ibu mereka dan berkata ‘bu… ada orang asing tidur di rumah kita’, padahal itu bapaknya sendiri, hahaha.

            Kesan yang didapatkan ketika makan sushi di restoran Jiro katanya selalu enak luar biasa. Ada kepuasan yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata dan digambarkan dengan permisalan. Kombinasi rasanya luar biasa enak dan mengagumkan. Nggak kebayang seenak apa tuh sushi. Aku aja yang nonton sampe ngiler-ngiler gitu walaupun aku nggak suka sushi tapi kayaknya wenaaaak banget. Pas liat harganya jadi nelen ludah sendiri tapi wkwkwk, iya sih, ada harga ada rasa, tapi kan nggak harus semahal itu juga kaleee. Harganya sebanding sih menurutku karena bahan-bahan yang mereka ambil juga bahan-bahan dari orang yang memang sudah professional dan konsisten di bidangnya. Misalnya kayak ikan tuna, si Jiro udah punya langganan dari penjual tuna yang memang sudah konsisten dan professional di bidang per-tuna-an, udangnya juga gitu, guritanya juga gitu, berasnya pun juga gitu, berasal dari orang-orang yang memang sudah lama di bidang itu, konsisten dan professional. Bahkan bapak-bapak si penjual berasnya sampe bilang, beras jenis itu hanya Jiro dan karyawannya yang bisa ngolah. Pernah mau dibeli sama hotel Grand Hyatt tapi nggak dikasih karena menurut dia hanya Jiro dan karyawannya yang bisa ngolah, bakalan dijual kalau Jiro ngijinin buat dijual. Ampe segitunya lo. Semacam udah nge-link gitu satu sama lain, tidak terpisahkan. Bahkan si penjual bahan-bahan itu kalau ada barang bagus selalu mikir ‘wah… bagus nih barang buat Jiro’. Aku nggak ngerti lagi kenapa bisa sebegitunya ya membangun kepercayaan, ya itulah kekuatan konsistensi dan profesinalisme. Mereka selalu bilang tidak peduli dengan uang padahal kan bisnis ya tapi bagi mereka yang terpenting adalah kualitas.

            Tidak ada bumbu rahasia kayak ayam K*C, tekniknya juga tidak dirahasiakan, hanya saja mereka melakukan itu berulang-ulang kali hingga bisa professional di bidang itu. Dan yang paling penting Jiro tidak pernah merasa puas dengan teknik dan resep yang dia buat, jadi terus menanjaklah kemampuan dan kepiawaiannya membuat sushi. Dia bilang nggak akan berhenti berinovasi karena dia nggak tau puncaknya dimana, bahkan ada pesan bagus dari penjual gurita ‘ketika kau merasa ahli di suatu bidang berarti kau telah membohongi diri sendiri bahwa sesungguhnya kau tak tahu apa-apa’. Kata si penulis resep, untuk menjadi ahli membuat sushi, kita harus belajar dari Jiro selama setidaknya 10 tahun. What? Belajar 10 tahun? Lama banget. Entah orang dulu emang penyabar dan aku generasi sekarang yang katanya tidak bisa sabar dan maunya instant. Menurut mereka generasi muda lebih suka hal yang cepat tanpa memikirkan keahlian dan kualitas dan suka sekali waktu santai (ini aku banget). Iya juga sih…. Aku tipe yang tidak bisa menetap pada satu bidang yang sama, konsisten, melakukan hal yang sama tiap hari. Beda banget sama Jiro atau mungkin orang Jepang yang lain yang begitu konsisten dan prosefional di bidang mereka masing-masing. Mungkin karena aku belum pertemu passionku (ah… excuse lagi… excuse lagi). Intinya sih aku nggak habis pikir bagaimana caranya orang jepang itu menanamkan rasa cinta dan bangga akan profesi mereka masing-masing sehingga mereka bisa terus konsisten di bidang yang sama hingga berpuluh-puluh tahun. Di Indonesia tercinta ini kebanggaan justru muncul ketika kita bekerja di bidang yang dianggap prestisius di masyarakat dan menjadi minder ketika bekerja di bidang yang dianggap ecek-ecek. Ini juga yang terjadi padaku sekarang. Aku tuh ya, pas awal kerja, tiap hari mengutuki diri sendiri, kenapa aku di sini? Kenapa aku kerja cuma segini doang? Kenapa nggak di perusahaan gede? Kenapa hanya jadi guru? Guru les? Kenapa nggak kayak yang lain? Bener-bener minder dan nggak percaya diri. Kenapa? Ya karena doktrin yang berkembang di masyarakat seperti itu. Kebanggaan hanya ada pada pekerjaan dan posisi-posisi tertentu saja.

            Aku dari dulu sudah mengagumi Jepang di banyak lini dan nonton film ini makin menambah kekagumanku. Mungkin akan banyak yang mengira hidup konsisten dan professional itu kan kaku, nggak menarik, dan nggak bahagia. Hey… itu juga pendapatku sebelumnya tapi coba deh nonton film ini dan lihat betapa bahagianya si Jiro menceritakan pekerjaan yang amat sangat dia cintai, lihat bagaimana bahagianya dia ketika mengunjungi teman-teman sekolahnya dulu di kampung halamannya. Mereka sudah sama-sama kakek nenek dan terlihat sangat bahagia. Aku sampe mikir, orang jepang tuh hidup sehat banget ya kok bisa sampe setua itu tapi terlihat masih segar dan bugar. Aku kagum seada-adanya sama profesioanalisme dan konsistensi orang Jepang. Kayak gimana ya pola pendidikan yang mereka tanamkan sehingga bisa sedisiplin itu dan konsisten bahkan pada diri sendiri. Berkaca pada diri sendiri, sepertinya aku terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk bersantai dan hal tidak produktif lainnya. Mungkin malam ini aku sadar tapi bisa jadi hari-hari barikutnya aku akan kembali ke pola hidup santai kayak di pantai, sellow kayak di pulow. Nah ini yang aku maksud, bagaimana caranya menanamkan konsistensi dan profesinalisme serta bisa istiqomah menjalankannya. Hanya satu sih kurangnya orang jepang tuh, kurang baca syahadat, hahaha.

Ketemu Fans

danbo-1870361_1280Judulnya sok iye banget ya, wkwkwk. Cuma judul itu yang terpikirkan pas ada niatan buat nulis cerita ini. Nggak mama (papa) lah sekali kali narsis dikit, jarang-jarang ini kan. Kalau boleh jujur, narsis itu bukan aku banget, aku tipe orang yang bisa dibilang kurang percaya diri, kurang mengapresiasi diri sendiri, susah bangga akan hal yang dimiliki (bukan nggak bersyukur ya, tapi gimana ya ngejelasinnya, intinya aku nggak pernah menganggap wow apa yang aku punya, entah itu barang atau pencapaian, menurutku semua yang ada padaku adalah hal biasa, it’s so common). Karena perasaan biasa dan minim apresiasi inilah aku menjadi pribadi yang agak minder (walaupun nggak segitunya) dan agak kurang percaya diri. Kalau sekarang sih udah berkurang rasa minder dan kurang percaya diri itu, kalau dulu beuuuuh… iya banget, mau ngelakuin apa bawaannya takut, minder, takut salah, takut diomongin orang. Tapi sekarang aku sudah banyak berubah, mulai tak terlalu peduli dengan semua, yang penting aku berjalan dan melakukan sesuatu on the right way, walaupun kalau jalan aku selalu in the left side sih wkwkwk #ApaSih.

            Jadi ceritanya gini, beberapa minggu yang lalu aku dan saudara kembaranku berniat untuk membelikan ibuk dan mbahku baju. Baju ini rencananya akan beliau gunakan untuk nikahan sepupuku yang umurnya lebih muda dua tahun dari aku (lah aku kapan? Ya tunggu aja, bentar lagi #TalktoTheMirror). Akhirnya kami berdua sepakat untuk membeli baju itu di tanah abang biar banyak pilihan. Padahal aku lebih suka belanja online sih, tapi agak susah mencari baju untuk orang tua kalau online shop. Nggak mama (papa) lah itung-itung jalan-jalan ke tanah abang. Karena kami berdua terpisah tempat tinggal, aku di Bekasi dan mbak Dila di Bogor, akhirnya kita berdua sepakat untuk bertemu di tengah perlintasan commuter yaitu stasiun Manggarai. Berhubung jarak stasiun Bekasi ke stasiun Manggarai lebih dekat, kami sepakat untuk berangkat di jam yang berbeda, mbak Dila akan berangkat lebih cepat daripada aku. Setelah sampai pada waktu yang disepakati, aku pun langsung meluncur ke stasiun Bekasi dan tanpa halangan berarti akhirnya sampai di stasiun Manggarai. Tapi ternyata, mbak Dila belum sampai di sana karena ternyata ada gangguan di jalur Bogor-Manggarai karena ada rel yang anjlok aku lupa di stasiun mana tepatnya. Ya mau gimana lagi, aku udah kadung sampai di Manggarai, akhirnya ku putuskan untuk membeli makanan karena pas berangkat tadi memang belum sempat sarapan.

            Setelah melihat-lihat sesaat, akhirnya ku putuskan untuk masuk ke circleK yang ada di sana. Aku berjalan ke deretan minuman yang dijual, ada minuman rasa coklat dan alpukat. Cup yang disediakan ada yang ukurannya sedang dan besar, setelah bertanya pada mas-mas yang jaga akhirnya aku ambil cup yang besar. Pas mau ngambil minuman, ada mas-mas yang mempersilahkan aku ngambil menuman duluan, mungkin si masnya tau kalau aku tadi yang pertama mau ngambil minuman di situ, tapi karena nanyain harga dulu jadinya aku nggak bisa duluan. ‘untung mas nya baik’ pikirku kala itu, jadi aku nggak usah ngantre lagi buat ngambil minumannya, ‘terimakasih mas –ganteng’ kataku, lagi-lagi di dalam hati. Setelah mengambil minuman, aku langsung keluar dan duduk di peron yang terbuat dari besi yang di sana juga ramai orang-orang duduk buat nunggu, ya nunggu kereta, nunggu temen, atau mungkin nunggu jodoh eh nunggu orang kayak aku. Nikmat banget minum sambil main HP di tempat seramai itu, berasa santai sejenak. Tempat dudukku nggak terlalu jauh dari circleK sehingga aku masih bisa melihat orang-orang yang keluar masuk toko itu. Tak lama dari aku duduk, aku melihat mas-mas yang tadi mempersilahkan aku buat ngambil minuman duluan. ‘oh mas-masnya baru keluar’ pikirku dan ternyata mas nya juga duduk di peron tak jauh dari tempat dudukku. Aku pun melanjutkan kegiatan santaiku sambil menikmati minuman yang ternyata jauh dari prediksiku, hm… gimana ya, nggak enak dan unluckily aku ngambil yang ukuran besar, berhubung prinsipku ‘anak pertanian pantang buang makanan’ jadi bisa ku pastikan minuman itu akan aku habiskan hingga tetes terakhir.

            Pas lagi enak-enaknya minum, eh mas mas yang duduk di deketku (ini mas yang sama dengan yang di circleK) menanyakan sesuatu,

Mas: mbak mau tanya, kalau peron yang ke stasiun Bekasi jalur berapa ya?

Aku: jalur 2 sama jalur 4 mas, jalur 4 apa 5 gitu ya

Mas: kalau mbaknya mau kemana?

Aku: oh… saya? (agak sedikit kaget karena nggak nyangka bakalan dapet pertanyaan tambahan) saya mau ke tanah abang

Mas: mau belanja ya mbak?

Aku: iya mas, hehe (kataku agak aneh karena nggak biasa-biasanya diajakin ngobrol sama orang asing, apalagi di stasiun)

Mas: mbak, saya boleh kenal nggak?

Aku: apa mas? (makin kaget dengan pertanyaan unpredict dari si masnya)

Mas: boleh kenalan nggak?

Aku: oh… boleh-boleh aja (makin merasa ada yang tidak beres di sini)

Mas: mbaknya dari mana?

Aku: saya dari Bekasi, kalau mas nya dari mana? (mencoba untuk bertanya balik, karena sepertinya pertanyaannya daritadi hanya satu arah saja)

Mas: saya dari Bekasi juga, Bekasi mana mbak?

Aku: (akum akin panik, ternyata sama-sama Bekasi. Kalau bukan Bekasi kan enak bisa selesai sampai di situ aja pertanyaannya) di tambun mas, grand wisata

Mas: masih kuliah apa udah kerja?

Aku: saya udah kerja mas (hehe… plis plis… hentikan percakapan menakutkan ini ya Allah. Saking paniknya aku sampe menumpahkan minuman yang tadi aku beli. Untung tutupnya kenceng jadi nggak luber kamana-mana. Aku gagal seada-adanya untuk bersikap santai dan rileks)

Mas: mbaknya masih single apa udah nikah?

Aku: belum nikah mas (hehe… makin takut)

Mas: mbaknya udah daftar buat nonton ustadz Zakir naik nggak ntar?

Aku: hah? Ustadz Zakir Naik? (jawabku bertanya balik karena aku makin panik)

Mas: tau ustadz Zakir Naik kan?

Aku: iya mas tau, belum mas saya belum daftar

Mas: udah tau kan link buat daftarnya?

Aku: iya mas saya udah tau (aku sih sebenernya belum tau linknya tapi kayaknya kalau aku bilang belum tau si masnya bakalan minta no. Hp aku buat ngirim linknya, suudzan banget ya aku. Tapi kemungkinan besar sih gitu soalnya si masnya megang-megang HP gitu, maap GeEr)

            Aku baru kali itu dapet pengalaman aneh semacam itu. Tak henti-hentinya clingak-clinguk sana sini buat mastiin nggak ada kamera tersembunyi di sana karena kan aku sering liat tuh di FB yang suka bikin social project. Tapi di sana sepertinya tak ada kamera tersembunyi.

Mas: mbak dulu kuliahnya di UNJ ya mbak?

Aku: nggak mas saya nggak kuliah di sana. Emangnya saya mirip sama temen mas ya? (aku pun memberanikan diri bertanya, udah gregetan banget soalnya. Malah sebenernya pengen nanya, ‘mas di sini nggak ada kamera tersembunyi kan?’ wkwkwkw)

Mas: iya mbak mirip sama temen saya (jawabnya sambil tersenyum)

            Aku benar-benar sudah tidak tahan, akhirnya aku kembali minum dan menghubungi orang-orang biar seakan-akan aku sibuk dan cara ini berhasil. Mbak Dila juga nggak dateng-dateng, kayaknya gangguan di relnya serius banget. plis… dateng dong. Akhirnya si mas-masnya sepertinya mulai enggan untuk bertanya dan kebetulan kereta menuju Bekasi diinfokan sudah datang. Si mas-masnya langsung beranjak berdiri dari tempat duduknya ‘saya duluan ya mbak’ katanya. ‘iya mas silahkan’ kataku. Fiuuuh… aku lega banget. Sebenernya aku penasaran banget kenapa si masnya begitu kepo padaku, kita kan baru kali itu bertemu. Apa masnya fall in love for the first sight? Ah… kayaknya nggak mungkin banget. secara penampilanku waktu itu berantakan banget, mana lagi jerawatan sejadi-jadinya wkwkwkw, intinya mah nggak karuan banget. Jadi kemungkinan yang ini nggak banget. Apa masnya orang nggak waras? Ya kaleee… masnya bersih kok, kayak mahasiswa gitu dan lumayan ganteng wkwkwk. Apa ini penipuan jenis baru? Bisa jadi, aku bersyukur tidak melanjutkan percakapan kami, setidaknya jika niatnya benar-benar penipuan, aku sudah terhindar dari niat jahat seseorang. Apa dia fans? Hahaha…. sesuai judul tadi, aku menganggap masnya fans, makanya judulnya ‘bertemu fans’, kemungkinan ini yang sementara aku percaya wkwkwk. Kalau kamu mengalami hal yang serupa denganku pasti bakalan ngelakuin hal yang sama kan? Karena bertemu orang yang baru dikenal dan nanya banyak hal adalah hal yang sangat-sangat aneh menurutku apalagi di jaman yang penuh dengan tipu daya seperti sekarang. Karena kata bang Napi, ‘kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah… waspadalah’. Sungguh pengalaman yang lucu-menakutkan-aneh gimana gitu. Sayang banget kalau disimpen dalam kenangan, makanya aku share ke sini, hehe.

Kematian

Berapa banyak manusia yang hidup dalam kelalaian sedangkan kain kafannya sednag ditenun? –Imam Syafii-

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan muncul seiring bertambahnya usia, sepertinya aku benar-benar mulai dewasa. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan dan sepertinya aku sudah memilih pilihan itu walaupun aku sendiri pun tak pernah menyadari kapan tepatnya aku memilihnya. Ya… sepertinya aku memang benar-benar telah dewasa. Bukankah orang baik tak pernah mengakui bahwa dirinya baik, lantas apakah aku benar-benar dewasa hanya dengan pengakuan dari diri sendiri bahwa aku telah dewasa? Tak taulah, aku sungguh tak terlalu peduli aku telah dewasa atau tidak, setidaknya ada banyak pertanyaan yang sepertinya mengindikasikan bahwa aku benar-benar telah dewasa. Pertanyaan yang begitu bergejolak adalah pertanyaan tentang kematian. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang muncul, tapi hanya satu pertanyaan inilah yang sepertinya butuh jawaban dan semakin aku mencarinya justru aku merasa semakin takut untuk mengalaminya. Walaupun aku tau betul bahwa kematian adalah kewajiban bagi setiap insan yang bernyawa.

            Bicara tentang mati, kematian, meninggal, dan orang meninggal bukanlah hal yang asing bagiku. Di sekolah, di madrasah, di ceramah, bahkan di sinetron sering sekali bahasan tentang kematian ini dibahas. Bahkan ada satu lagu daerah ‘madura’ yang bercerita tentang kematian yang setiap kali ku mendengarkannya atau melantunkannya serasa ada yang tersekat di tenggorokan, menohok relung hati, dan memaksa air mata untuk keluar. Tapi ya hanya sebatas itu, aku masih merasa kematian itu jauh, kematian itu teori, kematian itu menyedihkan. Intinya aku merasa kematian itu masih amat sangat jauh dariku. Pun ketika kakekku meninggal, aku masih belum merasa bahwa kematian itu sangatlah dekat. Mungkin karena waktu itu aku masih sangat kecil untuk mengerti arti kehilangan dan kematian. Seiring berjalannya waktu, aku memasuki setiap fase dalam hidup TK, SMP, SMA, kuliah, lulus kuliah, dan kerja semuanya ku lalui dengan lancar, selamat dari kematian. Ketika lulus kuliah aku mulai memasuki masa dimana aku mulai banyak berpikir tentang lingkungan sekitar apalagi ketika pulang kampung. Melihat aku yang telah banyak berubah dan lingkungan sekitar masih begitu-begitu saja. Banyak mimpi yang ku bangun, tapi tiap aku pulang selalu ada saja tetangga yang berkurang karena telah meninggal. Aku merasa ‘masaku’ telah tiba, masa untuk menggantikan generasi tua padahal aku belum benar-benar siap. Tiap kali ada telepon dari orang rumah selalu saja ada saja tetangga yang katanya meninggal dan aku semakin merasa bahwa kematian itu dekat tapi belum benar-benar dekat.

            Kematian yang terasa amat sangat dekat itu ketika dia datang pada orang yang sangat dekat denganku. Memang benar kata orang, kita akan merasa benar-benar merasakan suatu peristiwa ketika kejadian itu terjadi pada kita atau paling tidak pada orang yang benar-benar dekat dengan kita. Siapakah orang itu? Beliau adalah bapakku. Sepeninggal bapakku aku benar-benar tidak percaya bahwa beliau telah benar-benar tiada bahkan sampai tulisan ini dibuat, aku belum benar-benar percaya bahwa beliau telah satu tahun yang lalu meninggal. Aku tidak sempat melihat beliau menghembuskan nafas terakhir, aku tidak sempat melihat beliau dimandikan, aku tidak sempat melihat beliau dikafankan, dan aku tidak sempat melihat beliau dikuburkan. Aku pulang ketika beliau akan melakukan operasi jantung dan aku kembali lagi ke tanah rantau ketika melihat kondisi beliau yang baik-baik saja setelah operasi. Sama sekali tidak ada perasaan bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami. Memang benar, jangan terlalu mengandalkan perasaan karena banyak sekali perasaan yang ternyata salah haluan. Aku sedih tapi aku sungguh tak peduli dengan rasa sedih ini, abaikan saja perasaanku, yang terpenting adalah aku selalu berdoa semoga beliau meninggal dalam keadaan khusnol khotimah, digugurkan semua dosanya, diterima semua amal ibadahnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah, amiiin. Setelah bapak meninggal aku merasa kematian sangatlah dekat. Pernah suatu ketika bapakku terbangun di rumah sakit dan bercerita pada ibu kalau dalam mimpi itu beliau meninggal dan dibawa pulang ke rumah. Di sana beliau telah disiapkan tempat untuk pemandian jenazah, beliau begitu takut menceritakan mempinya dan ibuku pun menghibur ‘kalau masih mimpi mati dan takut mati berarti ga bakalan mati’ dan semua orang di sana pun tertawa termasuk aku. Kalimat ibuku benar-benar mayakinkanku bahwa bapak akan sembuh dan tidak akan mati. Tapi buktinya? Beliau meninggal, itu artinya kematian akan tetap terjadi pada orang yang takut atau berani akan kedatangannya.

            Satu tahun setelah kematian beliau, Om ku yang begitu dekat denganku juga meninggal, dan aku merasa orang-orang terdekatku satu per satu mulai pergi dan tidak menutup kemungkinan aku pun akan segera mati. Aku benar-benar merasakan kematian amat sangat begitu dekat ketika bapak meninggal. Pernah suatu malam aku terbangun dan kemudian sholat dan aku merasakan kalau kematian seakan-akan memanggilku. Satu per satu ku pegang anggota badanku hingga berakhir dan dada, dan ku bayangkan bahwa aku bisa mati tiba-tiba hanya dengan berheninya detak jantungku. Benar-benar rapuh manusia itu ya. aku benar-benar takut membayangkan kematian. Hari dimana bapak meninggal aku langsung memesan tiket pesawat untuk pulang kampung dan sepeti biasa fobia naik pesawat itu kembali datang. Ketika pesawat akan take off aku benar takut tapi aku membayangkan bahwa bapakku telah mengalami hal yang jauh lebih menakutkan dari sekedar take off pesawat yaitu kematian. Bukankah hal yang paling menyakitkan adalah terlepasnya nyawa dari raga? Katanya rasa sakitnya tak ada yang menandingi. Memabayangkan itu semua membuat aku semakin takut. Oleh karena itu aku tidak pernah mau menjadi penyebab hilangnya nyawa makhluk hidup semisal semut, kecoa, atau bahkan tomcat yang sering menggigit dan meninggalkan bekas merah gatal di kuliatku. Aku benar-benar tidak tega menjadi perantara peristiwa yang sangat menyakirkan itu, yaitu kematian. Hewan-hewan kecil juga punya nyawa kan? Itu artinya mereka juga akan merasakan rasa sakit ketika sakaratul maut dan aku tidak mau mereka mati gara-gara aku karena aku tau itu menyakitkan.

            Aku selalu bertanya-tanya, kapan kiranya kematian akan mendatangiku, seperti apa akhir hayatku nanti, seperti apa proses terlepasnya nyawa dari raga ini, dan membuat aku semakin takut. Aku selalu bertanya-tanya kenapa orang-orang begitu semangat mengejar dunia sedangkan akhirnya mereka semua akan mati dan dunia itu akan mereka tinggalkan. Bahkan pertanyaan paling ekstrem, kenapa aku harus lahir ke dunia jika akhirnya akan mati dan mengalami proses kematian yang menyakitkan itu? Tapi aku sangat bersyukur dilahirkan ke dunia sehingga aku bisa bertemu dengan orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-teman, dan orang-orang yang hadir dan mewarnai hidupku. Akan tetapi rasa takut akan datangnya kematian tak kunjung hilang dan bahkan ketakutan itu semakin bertambah seiring bertambahnya usiaku. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah video yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tentang kematian, apa sejatinya kematian itu, apa yang harus kita lakukan untuk menyambutnya, dan apa yang harus disiapkan untuk menghadapinya. Video ini membuatku semakin mencintai Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Quran lebih dari apa pun. Semoga imamku nanti adalah orang yang juga mencintai Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Quran lebih dari apa pun. Amiiin.

Berhati-hati Di Hari Kedua

hati-hati*cerita ini agak jorok dan menjijikkan, jangan dilanjutkan membaca bagi yang tak suka dan tak siap. Entah apa motovasiku menulis ini. Aku nulis ini hanya buat arsip saja karena menurutku kejadian ini sulit untuk dilupakan.

            Entah sudah yang ke berapa kalinya aku berbagi rasa sakit yang konstan ku rasakan tiap bulannya. Kalau istilah medisnya sih PMS (pra menstruasi) yang dibagi menjadi PMS mayor dan minor. Aku pun kurang mengerti aku sudah sampai di kategori yang mana karena hingga umur yang hampir seperempat abad ini rasa sakitnya tak kunjung hilang. Aku pun tak pernah berniat untuk memeriksakannya ke dokter karena beberapa alasan. Pertama, aku takut, kedua aku takut, ketiga, aku takut hahaha. Dulu pas masih SMA sakitnya bisa sampai 5 hari dan makin ke sini rasa sakitnya berkurang menjadi 3 hari dan akhir-akhir ini menjadi 2 hari. Hari sakitnya berkurang tapi sepertinya intensitas rasa sakitnya masih sama. Jadi bisa dibayangkan, masanya makin pendek tapi intensitasnya sakitnya sama, sehingga rasa sakit yang ku rasakan semakin menjadi-jadi. Kalau dulu hanya sakit perut dan pinggang, sekarang menjadi rasa sakit perut, pinggang, kepala, dan muntah-muntah. Hari pertama tak ada rasa sakit yang terasa, hanya rasa ketar-ketir soalnya udah ketebak banget hari kedua pasti bakalan sakit banget. Banyak yang bilang ini semua salahku karena selalu mensugesti diri kalau hari kedua bakalan sakit. Beneran dah, ini semua bukan karena sugesti, aku pernah kok mensugesti diri kalau aku nggak bakalan ngerasain rasa sakit. Tapi tetep aja tuh sakitnya dateng-dateng aja.

            Dalam rangka untuk membuktikan hipotesis sugesti itu, berangkatlah aku ke Depok untuk membeli baju dari sebuah brand online yang kala itu sedang mengadakan diskon di store offlinenya. Yup, hari itu adalah hari kedua. Paginya udah kerasa nggak enak sih, tapi berhubung udah janjian sama saudaraku (read: kembaranku) buat beli tuh baju jadinya berangkat deh. Niat awalnya mau berangkat jam 07.00 soalnya kalau siang-siang suka gangguan commuternya kalau hari minggu. Eh… malah kesiangan, jadinya baru berangkat sekitar jam setengah sembilan. Sampai di stasiun Depok baru sekitar jam 10an lebih dan nunggu kembaranku yang tak kunjung datang. Sambil nunggu rasanya garing banget kalau nggak sambil makan atau ngemil makanan, maklum memamah biak wkwkwk. Tapi kok rada aneh ya, biasanya hari kedua tuh bakalan sakit, ini kok kayaknya baik-baik saja. Alhamdulillah sih. Aku mencoba untuk menganalisis, akhir-akhir ini aku sering makan daging sih, jangan-jangan selama ini aku kekurangan zat besi makanya jadi sering sakit perut. Karena alasan itulah, aku memutuskan untuk membeli roti maryam rasa daging dan susu rasa coconut delight yang akhir-akhir ini aku sukai dengan pertimbangan biar zat besi di tubuhku makin bertambah (sok iye banget gue analisisnya wkwkwk). Habis makan kedua makanan itu, mbak Dila tak kunjung datang. Aku menunggu sambil ngecas HP di sana. Ketika memperhatikan sekitar, tertujulah mataku pada seseorang yang terasa begitu familiar. Setelah aku timbang-timbang ternyata itu teman sekantorku yang juga punya tujuan sama. Tuh kan, kalau nggak janjian suka ketemu. Alhamdulillah jadi ada temennya. Tak selang beberapa lama, rasa sakit itu tiba-tiba datang tanpa permisi. Rasanya sakit banget, mual, pusing.

            Setelah mbak Dila datang, berangkatlah kita betiga ke tempat baju itu. Kondisiku udah nggak enak banget tapi tetep aja maksain buat ke tempat tujuan, nanggung banget udah sejauh ini. Pas nyampe di tempat tujuan, mereka berdua langsung milih-milih baju. Aku memasrahkan model bajunya pada kembaranku, apa yang dia suka nanti itu yang bakalan aku beli, aku di sana hanya duduk saja menahan rasa sakit. Hal yang paling aku butuhkan kala itu hanyalah bantal, guling, kasur, dan selimut. Setelah cukup lama duduk, aku tiba-tiba mual dan benar-benar tak bisa ditahan. Segeralah mbak Dila memberikan selembar plastik padaku. Aku langsung ambil posisi ke pojokan yang sepi orang di luar toko dan langsung muntah di sana (maaf menjijikkan, huhuhu). Kenapa nggak di kamar mandi? Kata mbak Dila di toko itu mbaknya judes dan galak, mending nggak usah berurusan dengannya. Duuh… pas banget dah momennya, lagi nggak enak badan dan bertandang ke toko orang jutek dan judes. Setelah mengeluarkan semuanya, akhirnya aku berjalan agak jauh banget untuk mencari kamar mandi dan bertemu dengan sebuah kamar mandi di depan indomaret. Alhamdulillah mbak yang jaga tokonya (yang jualan jus) mengijinkanku untuk memakai kamar mandinya (terimakasih mbak, semoga kebaikan mbak dibalas oleh Allah, amiiin).

            Setelah bersih-bersih, kembalilah aku ke toko itu dan mereka belum selesai memilah milih baju. Tak selang berapa lama, aku kembali ke luar toko dan duduk di luar saja karena kondisi badanku kembali tak menentu. Serangan mual kembali datang dan kali ini dengan kekuatan yang lebih besar, ditambah lagi aku tanpa persiapan apa pun untuk menghadapinya. Jadilah aku lari tunggang langgang ke samping toko dan langsung muntah di sana dan ternyata setelah aku kembali sadar, kerudung dan bajuku juga kena (huhuhu, jorok banget). Kita pun langsung memutuskan untuk pulang saja. Mbak Dila nyaranin buat ke stasiun sekalian bersih-bersih dan ganti baju baru yang baru aja di beli. Pas nyampe kamar mandi stasiun, aku pun kembali muntah. Duh… kondisi badanku emang bener-benar lagi nggak enak banget waktu itu. Aku malu banget, bahkan pas nulis ini pun rasa malunya masih kerasa. Aku malu banget sama teman sekantorku itu. Bahkan pas aku nanya mbak Dila, ‘kamu malu nggak kalau jadi aku?’ tanyaku. ‘ya malu banget lah, masak nggak bisa ditahan sih?’ jawabnya enteng. Ya aku bisa apa, itu benar-benar di luar kendali aku. Aku juga nggak mau ini terjadi padaku. Benar-benar harus berhati-hati di hari kedua. Jangan pergi kemana-mana kalau nggak mau kejadian memalukan semacam ini terjadi lagi. Nggak lagi deh keluyuran di hari kedua. Itu juga yang jadi alasan aku nggak mau dijadiin yang kedua eaaaa. Teteup ya, nyambungnya ke sana juga hahaha.

Hilangnya Rasa Aman

http://www.parenting.co.id/img/images/x39e8b41fb4f3dbd8397e2d141d9a88b6.jpg.pagespeed.ic.YZFZVM0-C9.jpg

Entah sejak kapan ingin menuliskan banyak hal di sini. Tapi, akhirnya hanya berakhir dengan tak menuliskan apa pun. Benar apa kata tahu bulat ‘mending dadakan, soalnya kalau direncanain suka nggak jadi’. Pertempuran dengan rasa malas situ akhirnya ku menangkan dini hari ini, tepatnya jam 03.19 pagi di akhir bulan Februari tahun 2017, ya 28 Februari. Cerita kali ini tentang kejadian yang baru-baru ini terjadi padaku, bukan hal penting sih, tapi sedikit horror. Sebelumnya aku pernah menuliskan peritiwa pembobolan tetangga kosanku di tulisan ini. Bisa kalian tebak kan, ya… pembobolan itu akhirnya terjadi padaku. Seakan-akan si pencuri ini telah menetapkan targetnya untuk menjadikan kosan ini sebagai sumber mata pencahariannya. Bisa dibilang begitu, sekarang giliranku untuk merasakan pahitnya kehilangan, kehilangan rasa aman.

            Pulang kerja seperti sebelumnya, tak ada yang aneh dan janggal. Setelah membeli makanan untuk mengisi perut, aku putuskan untuk kembali ke kosan. Cukup lama aku berputar-putar hanya untuk membali makanan, maklum anak kosan yang tak masak sendiri pasti merasakannya. Kebosanan akan makanan yang itu-itu saja. Setelah semuanya selesai, kembalilah aku ke kosan. Kebetulan kamarku terletak di lantai dua sehingga dari jarak yang agak begitu jauh pun aku bisa memperhatikan nyala lampu di kamarku. Eh… sebentar, seingatku aku tak pernah menyalakan lampu dan aku ingat betul ketika berangkat tadi pagi aku benar-benar tak menyalakannya. ‘Ah… mungkin lupa’ pikirku menghibur diri. Hari itu aku hanya berdua dengan tetangga kosan karena teman sekamarku sedang pulang ke rumahnya di Bandung. Naiklah kita berdua ke lantai dua, lantas setelah ku perhatikan dari jarak sekitar lima meter ternyata pintu kamarku telah terbuka. Lututku pun langsung lemas seketika. ‘Pintu kamarku’ kataku lemah. Tetangga kamarku mengira aku hanya bercanda, tapi ketika dia mengalihkan pandangannya ke pintu kamarku, dia pun juga terkejut.

            Aku pun langsung bergegas masuk ke kamarku. Layaknya di sinetron-sinetron, barang-barang di kamarku berantakan habis diacak-acak sama si maling. Aku langsung kehilangan selera makan, ku letakkan makanan yang ku beli begitu saja. Ketika akan mengambil HP, ternyata HPku tak tau ada dimana. Aku pun langsung sadar, sepertinya tertinggal di tempat aku beli makanan tadi. Makin menjadi-jadilah detak jantungku. Aku pun meminta tetangga kamarku untuk menjaga kamarku dan aku langsung bergegas mengambil sepeda dan balik ke tempat penjual makanan. Alhamdulillah HP ku masih tergeletak manis di meja untuk pembeli. ‘Mbak saya ambil HP ya, tadi ketinggalan’ kataku, ‘duh… untung belum ada yang beli lagi’ jawab ibunya. Aku langsung bergegas ke kontrakanku untuk mengecek barang-barang apakah yang hilang. Setelah sampai di depan kosan aku berteriak pada temanku di lantai dua, ‘aku ke pak RT dulu ya, mau laporan’ kataku.

            Sesampainya di pak RT ternyata pak RT nya sedang tidak di rumahnya, sedang ada urusan di luar. Aku pun menitipkan pesan pada anaknya bahwa telah terjadi insiden pembobolan di kosanku. Aku pun langsung menuju kosanku. Rasanya pengen nangis, marah, kesel, teriak dalam waktu bersamaan. Seakan-akan privasiku ternodai. Pernahkan kalian merasa ingin mengadu dan meminta perlindungan atas kedzaliman yang terjadi pada kalian tapi seakan-akan tak ada orang yang bisa untuk melakukannya. Bisa saja aku langsung menelpon orang tuaku kala itu tapi apa iya dengan mengadukan semuanya pada mereka akan menyelesaikan masalah ini? Masalah tak terselesaikan, malah hanya memberikan beban-beban baru pada orang tua kita yang mungkin juga sedang banyak sekali masalah. Menuliskan kalimat tadi membuatku merasa sudah benar-benar dewasa sebagai anak hahaha. Aku masuk ke kamar dengan ekspresi wajah campur aduk. ‘aku pengen nangis’ kataku pada tetangga kosanku. Aku mengecek barang-barang di kosanku, melihat dan meniliti kira-kira barang apakah yang maling itu ambil. Barang-barangku tidak ada yang hilang karena laptop selalu aku bawa tiap harinya dan aku memang tidak punya barang berharga lain hahaha #miris.

            Tetangga kosanku menyarankanku untuk memberitahu ibu kosan keesokan harinya. Tapi aku tak setuju dengan idenya, kalau kita lapornya besok, seakan-akan kita pasrah akan kedzoliman ini dan aku tidak bisa membiarkan ini. Selain itu, kalau besok, artinya peristiwa ini menjadi tidak aktual dan terkesan basi. Aku pun langsung kembali mengambil sepeda dan mengayuhnya ke rumah ibu kosan. Beliau kebetulan sedang pergi umroh, jadilah aku menemui bapak kosan. Beliau langsung naik pitam karena hanya selang beberapa minggu, malah terjadi lagi pembobolan di kosannya. Kan nantinya bakalan buruk juga buat image kosannya, jadi branding kosan sering dibobol. Beliau langsung memanggil keluarga dan tetangga di sekitar kosanku. Jadilah kosanku rame banget kala itu. Kayak abis ada hajatan. Aku pun banyak ditanyai ini itu. Aku sedikit terobati dengan banyaknya orang-orang ini, setidaknya rasa sendirian dan tak ada tempat mengadu menjadi tak terasa lagi.

Setelah aku menghubungi teman sekosanku dan mengecek semua barang-barang, taukah kalian apa yang hilang? Maling itu sungguh receh. Mengapa aku bilang demikian? Jadi ceritanya teman sekosanku punya kebiasaan ngumpulin koin seribuan di dompetnya, ada sekitar 30.000an. Yup, barang itu yang diambil, benar-benar receh bukan? Padahal ya, di lemari itu ada dua dompet. Satunya uang receh dan satunya lagi uang kertas yang tentunya nominalnya lebih banyak. Mungkin saking buru-burunya kali ya, mungkin yang ada di pikirannya, daripada nggak dapet sama sekali, receh pun jadi. Antara kesel dan kocak sih ya peristiwa pembobolan di kosan ini. Tapi, ada satu hal penting yang benar-benar hilang, yaitu hilangnya rasa aman. ‘Makanya segera cari seseorang yang bisa memberikan rasa aman’ kata atasanku yang sukses membuatku terdiam dan pegawai lain tertawa ketika aku menceritakan peristiwa pembobolan ini. ‘Ok pak, Noted it!’ kataku, padahal dalam hati mah ‘cariin dong makanya’ eaaa.

Jadilah malam itu aku tidur dengan rasa parno yang luar biasa menghantui. Engsel pintu kosanku rusak dan baru akan diperbaiki keesokan harinya. Kebetulan banget sendirian dengan peristiwa sehoror ini, komplit horornya. Aku takut malingnya kembali. Jadilah aku memutuskan untuk mengganjal pintuku dengan galon yang kebetulan baru aku beli sehingga isinya masih penuh. Aku pun tidur di dekat galon itu, ya aku tidur di dekat pintu dengan pertimbangan kalau ada orang yang mau masuk aku bisa langsung merasakannya dan bisa langsung terbangun. Benar-benar kejadian yang tak kan pernah terlupakan dan tak kan pernah pula mau diulang. Buat kalian yang baca tulisan ini, berhati-hatilah, karena kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah… Waspadalah (bang napi banget, wkwkwkwk).