Berhati-hati Di Hari Kedua

hati-hati*cerita ini agak jorok dan menjijikkan, jangan dilanjutkan membaca bagi yang tak suka dan tak siap. Entah apa motovasiku menulis ini. Aku nulis ini hanya buat arsip saja karena menurutku kejadian ini sulit untuk dilupakan.

            Entah sudah yang ke berapa kalinya aku berbagi rasa sakit yang konstan ku rasakan tiap bulannya. Kalau istilah medisnya sih PMS (pra menstruasi) yang dibagi menjadi PMS mayor dan minor. Aku pun kurang mengerti aku sudah sampai di kategori yang mana karena hingga umur yang hampir seperempat abad ini rasa sakitnya tak kunjung hilang. Aku pun tak pernah berniat untuk memeriksakannya ke dokter karena beberapa alasan. Pertama, aku takut, kedua aku takut, ketiga, aku takut hahaha. Dulu pas masih SMA sakitnya bisa sampai 5 hari dan makin ke sini rasa sakitnya berkurang menjadi 3 hari dan akhir-akhir ini menjadi 2 hari. Hari sakitnya berkurang tapi sepertinya intensitas rasa sakitnya masih sama. Jadi bisa dibayangkan, masanya makin pendek tapi intensitasnya sakitnya sama, sehingga rasa sakit yang ku rasakan semakin menjadi-jadi. Kalau dulu hanya sakit perut dan pinggang, sekarang menjadi rasa sakit perut, pinggang, kepala, dan muntah-muntah. Hari pertama tak ada rasa sakit yang terasa, hanya rasa ketar-ketir soalnya udah ketebak banget hari kedua pasti bakalan sakit banget. Banyak yang bilang ini semua salahku karena selalu mensugesti diri kalau hari kedua bakalan sakit. Beneran dah, ini semua bukan karena sugesti, aku pernah kok mensugesti diri kalau aku nggak bakalan ngerasain rasa sakit. Tapi tetep aja tuh sakitnya dateng-dateng aja.

            Dalam rangka untuk membuktikan hipotesis sugesti itu, berangkatlah aku ke Depok untuk membeli baju dari sebuah brand online yang kala itu sedang mengadakan diskon di store offlinenya. Yup, hari itu adalah hari kedua. Paginya udah kerasa nggak enak sih, tapi berhubung udah janjian sama saudaraku (read: kembaranku) buat beli tuh baju jadinya berangkat deh. Niat awalnya mau berangkat jam 07.00 soalnya kalau siang-siang suka gangguan commuternya kalau hari minggu. Eh… malah kesiangan, jadinya baru berangkat sekitar jam setengah sembilan. Sampai di stasiun Depok baru sekitar jam 10an lebih dan nunggu kembaranku yang tak kunjung datang. Sambil nunggu rasanya garing banget kalau nggak sambil makan atau ngemil makanan, maklum memamah biak wkwkwk. Tapi kok rada aneh ya, biasanya hari kedua tuh bakalan sakit, ini kok kayaknya baik-baik saja. Alhamdulillah sih. Aku mencoba untuk menganalisis, akhir-akhir ini aku sering makan daging sih, jangan-jangan selama ini aku kekurangan zat besi makanya jadi sering sakit perut. Karena alasan itulah, aku memutuskan untuk membeli roti maryam rasa daging dan susu rasa coconut delight yang akhir-akhir ini aku sukai dengan pertimbangan biar zat besi di tubuhku makin bertambah (sok iye banget gue analisisnya wkwkwk). Habis makan kedua makanan itu, mbak Dila tak kunjung datang. Aku menunggu sambil ngecas HP di sana. Ketika memperhatikan sekitar, tertujulah mataku pada seseorang yang terasa begitu familiar. Setelah aku timbang-timbang ternyata itu teman sekantorku yang juga punya tujuan sama. Tuh kan, kalau nggak janjian suka ketemu. Alhamdulillah jadi ada temennya. Tak selang beberapa lama, rasa sakit itu tiba-tiba datang tanpa permisi. Rasanya sakit banget, mual, pusing.

            Setelah mbak Dila datang, berangkatlah kita betiga ke tempat baju itu. Kondisiku udah nggak enak banget tapi tetep aja maksain buat ke tempat tujuan, nanggung banget udah sejauh ini. Pas nyampe di tempat tujuan, mereka berdua langsung milih-milih baju. Aku memasrahkan model bajunya pada kembaranku, apa yang dia suka nanti itu yang bakalan aku beli, aku di sana hanya duduk saja menahan rasa sakit. Hal yang paling aku butuhkan kala itu hanyalah bantal, guling, kasur, dan selimut. Setelah cukup lama duduk, aku tiba-tiba mual dan benar-benar tak bisa ditahan. Segeralah mbak Dila memberikan selembar plastik padaku. Aku langsung ambil posisi ke pojokan yang sepi orang di luar toko dan langsung muntah di sana (maaf menjijikkan, huhuhu). Kenapa nggak di kamar mandi? Kata mbak Dila di toko itu mbaknya judes dan galak, mending nggak usah berurusan dengannya. Duuh… pas banget dah momennya, lagi nggak enak badan dan bertandang ke toko orang jutek dan judes. Setelah mengeluarkan semuanya, akhirnya aku berjalan agak jauh banget untuk mencari kamar mandi dan bertemu dengan sebuah kamar mandi di depan indomaret. Alhamdulillah mbak yang jaga tokonya (yang jualan jus) mengijinkanku untuk memakai kamar mandinya (terimakasih mbak, semoga kebaikan mbak dibalas oleh Allah, amiiin).

            Setelah bersih-bersih, kembalilah aku ke toko itu dan mereka belum selesai memilah milih baju. Tak selang berapa lama, aku kembali ke luar toko dan duduk di luar saja karena kondisi badanku kembali tak menentu. Serangan mual kembali datang dan kali ini dengan kekuatan yang lebih besar, ditambah lagi aku tanpa persiapan apa pun untuk menghadapinya. Jadilah aku lari tunggang langgang ke samping toko dan langsung muntah di sana dan ternyata setelah aku kembali sadar, kerudung dan bajuku juga kena (huhuhu, jorok banget). Kita pun langsung memutuskan untuk pulang saja. Mbak Dila nyaranin buat ke stasiun sekalian bersih-bersih dan ganti baju baru yang baru aja di beli. Pas nyampe kamar mandi stasiun, aku pun kembali muntah. Duh… kondisi badanku emang bener-benar lagi nggak enak banget waktu itu. Aku malu banget, bahkan pas nulis ini pun rasa malunya masih kerasa. Aku malu banget sama teman sekantorku itu. Bahkan pas aku nanya mbak Dila, ‘kamu malu nggak kalau jadi aku?’ tanyaku. ‘ya malu banget lah, masak nggak bisa ditahan sih?’ jawabnya enteng. Ya aku bisa apa, itu benar-benar di luar kendali aku. Aku juga nggak mau ini terjadi padaku. Benar-benar harus berhati-hati di hari kedua. Jangan pergi kemana-mana kalau nggak mau kejadian memalukan semacam ini terjadi lagi. Nggak lagi deh keluyuran di hari kedua. Itu juga yang jadi alasan aku nggak mau dijadiin yang kedua eaaaa. Teteup ya, nyambungnya ke sana juga hahaha.

Hilangnya Rasa Aman

http://www.parenting.co.id/img/images/x39e8b41fb4f3dbd8397e2d141d9a88b6.jpg.pagespeed.ic.YZFZVM0-C9.jpg

Entah sejak kapan ingin menuliskan banyak hal di sini. Tapi, akhirnya hanya berakhir dengan tak menuliskan apa pun. Benar apa kata tahu bulat ‘mending dadakan, soalnya kalau direncanain suka nggak jadi’. Pertempuran dengan rasa malas situ akhirnya ku menangkan dini hari ini, tepatnya jam 03.19 pagi di akhir bulan Februari tahun 2017, ya 28 Februari. Cerita kali ini tentang kejadian yang baru-baru ini terjadi padaku, bukan hal penting sih, tapi sedikit horror. Sebelumnya aku pernah menuliskan peritiwa pembobolan tetangga kosanku di tulisan ini. Bisa kalian tebak kan, ya… pembobolan itu akhirnya terjadi padaku. Seakan-akan si pencuri ini telah menetapkan targetnya untuk menjadikan kosan ini sebagai sumber mata pencahariannya. Bisa dibilang begitu, sekarang giliranku untuk merasakan pahitnya kehilangan, kehilangan rasa aman.

            Pulang kerja seperti sebelumnya, tak ada yang aneh dan janggal. Setelah membeli makanan untuk mengisi perut, aku putuskan untuk kembali ke kosan. Cukup lama aku berputar-putar hanya untuk membali makanan, maklum anak kosan yang tak masak sendiri pasti merasakannya. Kebosanan akan makanan yang itu-itu saja. Setelah semuanya selesai, kembalilah aku ke kosan. Kebetulan kamarku terletak di lantai dua sehingga dari jarak yang agak begitu jauh pun aku bisa memperhatikan nyala lampu di kamarku. Eh… sebentar, seingatku aku tak pernah menyalakan lampu dan aku ingat betul ketika berangkat tadi pagi aku benar-benar tak menyalakannya. ‘Ah… mungkin lupa’ pikirku menghibur diri. Hari itu aku hanya berdua dengan tetangga kosan karena teman sekamarku sedang pulang ke rumahnya di Bandung. Naiklah kita berdua ke lantai dua, lantas setelah ku perhatikan dari jarak sekitar lima meter ternyata pintu kamarku telah terbuka. Lututku pun langsung lemas seketika. ‘Pintu kamarku’ kataku lemah. Tetangga kamarku mengira aku hanya bercanda, tapi ketika dia mengalihkan pandangannya ke pintu kamarku, dia pun juga terkejut.

            Aku pun langsung bergegas masuk ke kamarku. Layaknya di sinetron-sinetron, barang-barang di kamarku berantakan habis diacak-acak sama si maling. Aku langsung kehilangan selera makan, ku letakkan makanan yang ku beli begitu saja. Ketika akan mengambil HP, ternyata HPku tak tau ada dimana. Aku pun langsung sadar, sepertinya tertinggal di tempat aku beli makanan tadi. Makin menjadi-jadilah detak jantungku. Aku pun meminta tetangga kamarku untuk menjaga kamarku dan aku langsung bergegas mengambil sepeda dan balik ke tempat penjual makanan. Alhamdulillah HP ku masih tergeletak manis di meja untuk pembeli. ‘Mbak saya ambil HP ya, tadi ketinggalan’ kataku, ‘duh… untung belum ada yang beli lagi’ jawab ibunya. Aku langsung bergegas ke kontrakanku untuk mengecek barang-barang apakah yang hilang. Setelah sampai di depan kosan aku berteriak pada temanku di lantai dua, ‘aku ke pak RT dulu ya, mau laporan’ kataku.

            Sesampainya di pak RT ternyata pak RT nya sedang tidak di rumahnya, sedang ada urusan di luar. Aku pun menitipkan pesan pada anaknya bahwa telah terjadi insiden pembobolan di kosanku. Aku pun langsung menuju kosanku. Rasanya pengen nangis, marah, kesel, teriak dalam waktu bersamaan. Seakan-akan privasiku ternodai. Pernahkan kalian merasa ingin mengadu dan meminta perlindungan atas kedzaliman yang terjadi pada kalian tapi seakan-akan tak ada orang yang bisa untuk melakukannya. Bisa saja aku langsung menelpon orang tuaku kala itu tapi apa iya dengan mengadukan semuanya pada mereka akan menyelesaikan masalah ini? Masalah tak terselesaikan, malah hanya memberikan beban-beban baru pada orang tua kita yang mungkin juga sedang banyak sekali masalah. Menuliskan kalimat tadi membuatku merasa sudah benar-benar dewasa sebagai anak hahaha. Aku masuk ke kamar dengan ekspresi wajah campur aduk. ‘aku pengen nangis’ kataku pada tetangga kosanku. Aku mengecek barang-barang di kosanku, melihat dan meniliti kira-kira barang apakah yang maling itu ambil. Barang-barangku tidak ada yang hilang karena laptop selalu aku bawa tiap harinya dan aku memang tidak punya barang berharga lain hahaha #miris.

            Tetangga kosanku menyarankanku untuk memberitahu ibu kosan keesokan harinya. Tapi aku tak setuju dengan idenya, kalau kita lapornya besok, seakan-akan kita pasrah akan kedzoliman ini dan aku tidak bisa membiarkan ini. Selain itu, kalau besok, artinya peristiwa ini menjadi tidak aktual dan terkesan basi. Aku pun langsung kembali mengambil sepeda dan mengayuhnya ke rumah ibu kosan. Beliau kebetulan sedang pergi umroh, jadilah aku menemui bapak kosan. Beliau langsung naik pitam karena hanya selang beberapa minggu, malah terjadi lagi pembobolan di kosannya. Kan nantinya bakalan buruk juga buat image kosannya, jadi branding kosan sering dibobol. Beliau langsung memanggil keluarga dan tetangga di sekitar kosanku. Jadilah kosanku rame banget kala itu. Kayak abis ada hajatan. Aku pun banyak ditanyai ini itu. Aku sedikit terobati dengan banyaknya orang-orang ini, setidaknya rasa sendirian dan tak ada tempat mengadu menjadi tak terasa lagi.

Setelah aku menghubungi teman sekosanku dan mengecek semua barang-barang, taukah kalian apa yang hilang? Maling itu sungguh receh. Mengapa aku bilang demikian? Jadi ceritanya teman sekosanku punya kebiasaan ngumpulin koin seribuan di dompetnya, ada sekitar 30.000an. Yup, barang itu yang diambil, benar-benar receh bukan? Padahal ya, di lemari itu ada dua dompet. Satunya uang receh dan satunya lagi uang kertas yang tentunya nominalnya lebih banyak. Mungkin saking buru-burunya kali ya, mungkin yang ada di pikirannya, daripada nggak dapet sama sekali, receh pun jadi. Antara kesel dan kocak sih ya peristiwa pembobolan di kosan ini. Tapi, ada satu hal penting yang benar-benar hilang, yaitu hilangnya rasa aman. ‘Makanya segera cari seseorang yang bisa memberikan rasa aman’ kata atasanku yang sukses membuatku terdiam dan pegawai lain tertawa ketika aku menceritakan peristiwa pembobolan ini. ‘Ok pak, Noted it!’ kataku, padahal dalam hati mah ‘cariin dong makanya’ eaaa.

Jadilah malam itu aku tidur dengan rasa parno yang luar biasa menghantui. Engsel pintu kosanku rusak dan baru akan diperbaiki keesokan harinya. Kebetulan banget sendirian dengan peristiwa sehoror ini, komplit horornya. Aku takut malingnya kembali. Jadilah aku memutuskan untuk mengganjal pintuku dengan galon yang kebetulan baru aku beli sehingga isinya masih penuh. Aku pun tidur di dekat galon itu, ya aku tidur di dekat pintu dengan pertimbangan kalau ada orang yang mau masuk aku bisa langsung merasakannya dan bisa langsung terbangun. Benar-benar kejadian yang tak kan pernah terlupakan dan tak kan pernah pula mau diulang. Buat kalian yang baca tulisan ini, berhati-hatilah, karena kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah… Waspadalah (bang napi banget, wkwkwkwk).

Kita tidak sedang baik-baik saja. — Musafir Tinta

Kaum muslimin bagaikan satu tubuh, dimana ketika satu bagian sakit maka seluruh bagian pun ikut gusar merasakan sakitnya. Saat ini ada bagian dari tubuh kita yang tengah merasakannya, itu artinya kita tidak sedang baik-baik saja. Ada rintih yang nyaris tak terdengar, ada tangis yang tak digubris, ada luka yang mengiris. Tapi kita tak sadar […]

via Kita tidak sedang baik-baik saja. — Musafir Tinta

Pendongeng

danbo-menikahBanyak sekali yang terjadi beberapa minggu ini tapi rasanya berat sekali untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Rutin sih ngunjungin blog tapi hanya sekedar lihat-lihat saja sebentar lantas setelah itu close tab. Membaca tulisan blogger yang lain pun amat sangat jarang. Sesekali ku baca beberapa tulisan yang judulnya menarik, memberikan satu dua komentar untuk satu dua tulisan lantas setelah itu sama seperti sebelumnya close tab. Benar-benar tak ada niatan untuk mencurahkan kisah sendiri di blog. Sepertinya kejenuhan ini telah merajai diri. Hari ini memaksakan diri untuk menulis karena rasanya hampa sekali kalau tiap kali buka blog, tulisan teratasnya itu-itu saja. Sama jenuhnya diriku dengan banyaknya postingan foto pernikahan teman-teman yang membanjiri hampir semua media sosial yang ku miliki. Bukan jenuh juga sih lebih tepatnya kepengen hahaha. Cerita tentang cinta dan pernikahan sepertinya memang tak aka nada matinya. Karena cinta dan pernikahan memang tak akan pernah mati selama pelakunya (read: manusia) masih tetap eksis di dunia. Kisah cinta yang lantas berakhir di pernikahan banyak sekali modelnya, ada yang awalnya tak kenal tapi berujung di pernikahan, bahkan mungkin awalnya bermusuhan tapi ujung-ujungnya nikah juga. Kali ini aku akan bercerita kisah cinta menuju pernikahan yang menurutku antimainstream banget.

Mudik lebaran tahun 2015 kemarin

            Kala itu aku mudik sendirian, benar-benar sendirian, tak ada yang menemani, semoga mudik tahun ini nggak sendirian lagi hahaha #ngarep. Bawaanku standar-standar saja, koper ukuran sedang, tas ransel, dan satu plastik berisi makanan dan camilan. Ku langkahkan kaki ke ruang tunggu pemberangkatan para penumpang kereta api di stasiun senen. Ada yang berbeda di ruang tunggu kala itu. Ada segerombolan kakak-kakak yang sepertinya sibuk mempersiapkan seperangkat alat pementasan. Hal ini semakin diperkuat dengan posisi gerombolan kakak-kakak itu tepat di depan jajaran kursi tunggu para penumpang. Di sana juga berserakan balon-balon dan properti pementasan. Benar saja, mereka adalah relawan (aku lupa nama perkulpulan relawan itu) yang tujuannya adalah memberikan hiburan bagi anak-anak yang akan ikut mudik bersama orang tuanya. Tema yang mereka bawa adalah “mudik ramah anak”. Kegiatan itu sepertinya bekerja sama dengan PT. KAI yang dilatarbelakangi keprihatinan mereka akan anak-anak yang banyak terlantar karena orang tua mereka sibuk mengangkat barang-barang yang ingin mereka bawa mudik. Menarik sekali kegiatan para relawan ini, pikirku kala itu. Ketertarikanku pada kegiatan relawan ini semakin menjadi-jadi ketika mereka memulai pertujukan, mereka mendongeng. Duuuh…. Lucu banget bikin ketawa tak henti-henti. Padahal aku udah gede loh, banyak anak kecil yang mulai mendekat ke depan, anak-anak itu juga tertawa renyah. Ketika pertujukan dongeng telah hampir selesai, mereka memperkenalkan diri satu per satu dan aku benar-benar terperangah ketika mereka memperkenalkan ketua dari perkumpulan itu. Seorang mas-mas yang masih sangat muda, paling muda malah di antara para pendongeng yang lain (kalau diliat dari wajahnya ya) dan ada nilai tambahnya lagi, mas-masnya ganteng hehehe. Biasanya kan orang ganteng tuh jaim ya, tapi si mas-masnya keren banget pas ngedongeng, pantesan beliau jadi ketua. Ku fotolah si mas-mas itu dan ku share ke saudara kembarku untuk menceritakan kejadian yang ku alami kala itu. Fotonya sepertinya masih ada di HPku tapi males banget yang mau ngobrak-abrik lagi soalnya udah lama banget. Tapi ini ceritanya benaran kok, jadi no picture belum tentu hoax ya hehe.

            Pas aku udah kirim tuh foto ternyata tanggapan saudara kembarku bikin aku tuh ngerasa dunia sempit banget.

“ih… itu kan mas Ojan” katanya.

“seriusan kamu kenal? Iya sih tadi pas perkenalan dia bilang namanya kak Fauzan” jawabku.

             Benar-benar dunia sempit kan. Ternyata kakaknya itu satu kantor sama kembaran aku. Beruntung banget dia sekantor sama kakak yang berbakat dan ganteng macam kak Ojan. Lantas semuanya berakhir begitu saja. Cerita tentang kak Ojan kembali berlanjut ternyata.

Di kosan kembaranku kemarin, Desember 2016

            Entah virus atau wabah dari mana, banyak orang-orang di sekitarku yang sedang sangat digandrungi sinetron india Mohabbattein yang pemeran utamanya kalau nggak salah Ishita dan Raman. Tak hanya perempuan (read: emak-emak) tapi juga ternyata laki-laki pun sama. Aku telah berkali-kali mencoba untuk ikut nimbrung nonton tapi ya nggak suka-suka, biasa aja. Emang pada dasarnya aku kurang suka nonton TV sih. Pas kebetulan lagi main ke kosan kembaranku kemarin, semuanya lagi pada nonton TV, aku iseng-iseng ikut aja daripada nggak ada kerjaan. Tetiba saja aku terlibat obrolan perihal pernikahan dengan teman-teman kosan mbak Dila yang lagi nonton TV itu. Teman sekosannya kembaranku bercerita tentang temannya yang Alhamdulillah telah hamil setelah menunggu selama 10 tahun lebih menikah. Wah… sangat membahagiakan sekali karena apa yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Hal yang membuatku semakin terperangah adalah karena 10 tahun lebih itu dijalani dengan orang yang berbeda, maksudnya? ceritanya gini.

            Teman sekosan kembaranku ini punya temen. Nah temannya ini telah menikah 10 tahun lamanya tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Entah karena masalah apa akhinya mereka memutuskan untuk bercerai. Nah… selang beberapa tahun, si mbak ini dilamar sama rekan satu kerjanya yang umurnya 10 tahun di bawah dia dan dia belum pernah menikah sebelumnya. Lebih mencengangkannya lagi, setelah enam bulan menikah akhirnya si mbak ini hamil, Alhamdulillah. Luar biasa sekali bukan. Berkat kesabaran akhirnya si mbak ini dikaruniai keturunan. Bukanlah waktu yang sebentar menunggu lebih dari 10 tahun. Aku tak henti-hentinya berkata ‘wah… keren banget ya mereka’. Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk melihat seperti apa pasangan yang sedang berbahagia itu. Pas aku lihat, ternyata mereka pasangan yang serasi, si laki-laki ganteng dan si perempuan cantik, tak terlihat perbedaan umur yang cukup jauh di antara mereka berdua. Aku merasa tak asing dengan wajah si laki-laki, berasa pernah lihat dimana gitu ya. Pas lihat foto yang kedua akhirnya aku sadar siapa si laki-laki itu,

“lah… ini kan mas ojan yang dulu dongeng di stasiu bukan?” tanyaku antara percaya dan tidak.

“iya… itu mas ojan yang sekantor sama aku. Kata Dila (read: kembaranku) kamu pernah cerita mas Ojan yang dongeng di stasiun kan ya” jawab teman sekosan mbak Dila.

            Tuh kan dunia benar-benar sempit, ternyata pendongeng yang pernah ku kagumi itu telah menikah dengan cerita pernikahan yang tidak biasa. Terlihat jelas bagaimana rona kebahagiaan terpancar dari pasangan itu. Barokallah mas Ojan dan istri, walaupun kalian tak mengenalku tetatpi kisah kalian berdua benar-benar mengispirasiku, bukan untuk ku tiru tapi untuk ku ambil hikmah dari jalan cerita yang telah kalian torehkan. Bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis pada kahirnya walaupun pahitnya seringkali mewarnai awalnya. Semoga kelak anak yang dinanti-nantikan ini menjadi anak yang sholeh/ah, berbakti kepada kedua orng tua, mengharumkan nama agama, bangsa, serta berguna bagi orang-orang di sekitarnya. Amiiin.

Membunuh Berhala

96349-0-663-382-55e8e0cba2afbde1071c4a3e“Kenapa sih kak harus ada olimpiade-olimpiade gitu?” tanya seorang siswa padaku suatu hari karena dia sepertinya sudah jengah dengan semua rutinitas yang dia jalani. Dia anak yang cerdas, tak hanya soal pelajaran tetapi di bidang olahraga pun dia mumpuni. Bahkan di umur yang menurutku sangat dini (read: SMA) dia sudah sangat paham apa itu pola makan yang baik, pengaturan asupan yang baik, pola hidup sehat. Tak hanya tahu, tapi dia juga mengaplikasikannya. Ini menurutku sangat luar biasa, di saat yang sama, ketika teman sebayanya banyak disibukkan dengan urusan hati yang sulit mereka kendalikan atau menjadi remaja hits yang posting foto kesibukan sana sini. Dia malah lebih tertarik untuk mempersiapkan masa depan karier dan kesehatannya di masa depan. Pun aku sangat kagum karena di umur segini pun aku sebenarnya sudah sedikit paham apa itu pola makan yang baik, pengaturan asupan yang baik, pola hidup sehat, tapi bedanya sangat sulit sekali bagiku untuk mengaplikasikannya. Banyak alasan yang ku buat, ah… entar aja deh ngatur pola makannya kan sekarang masih muda, ah… entar aja deh ngaturnya kan sekarang masih hidup sendiri, entar aja ngaturnya kalau udah nikah, ah… entar aja deh kan ini kan itu. Gitu aja terus sampe nggak kerasa tiba-tiba udah tua dan tiba-tiba udah sakit-sakitan, naudzubillah.

Kembali ke pertanyaan yang tadi. Setelah pertanyaan itu terlontar, banyak sekali jawaban yang muncul di kepalaku, aku harus bisa memilih satu jawaban yang tepat, tapi sayangnya aku bukanlah pemberi jawaban ulung, sama sekali tak bisa meyakinkan, sehingga sering sekali pertanyaan-pertanyaan bagus hanya berakhir dengan jawaban yang apa adanya. Ya harus gimana lagi, beginilah adanya aku. Setelah sekian detik berpikir, akhirnya ku jawab dengan jawaban yang bisa ditebak sendiri lah, ngasal dan ada apanya eh apa adanya,

“hm… kenapa ya? Ini yang kamu maksud olimpiade pelajaran apa bidang olahraga?” tanyaku, sengaja ku selipkan pertanyaan agar ada jeda lagi buatku untuk berpikir. Sebetulnya ini retoris, pertanyaan yang tak butuh jawaban. Tanpa bertanya pun sebenarnya aku udah tau jawabannya. Tapi ya hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengulur waktu hingga jawaban meyakinkan bisa ku dapatkan.

“ya dua-duanya kak, olimpiade pokoknya. Kenapa harus berlomba-lomba. Buat nunjukin bahwa kita yang terhebat gitu atau gimana?” tanyanya makin penasaran. Bahkan ditambah dengan satu pertanyaan lagi padahal pertanyaan sebelumnya belum bisa ku jawab. Yup, time is up, waktunya untuk menjawab pertanyaan, jangan sampai ngulur-ngulur waktu lagi, segera eksekusi, berikan jawaban segera dan kalau bisa meyakinkan.

“olimpiade itu diadakan sebagai tolak ukur, sudah sejauh mana sih kemampuan kita, sudah sejauh mana sih usaha kita, sudah sejauh mana sih posisi kita sekarang. Seandainya tak ada olimpiade maka kita tak akan pernah tahu bahwa masih ada langit di atas langit, kita tak akan pernah tahu posisi kita sebenarnya dimana dan selalu merasa bahwa kita adalah yang terbaik. Padahal mungkin kalau kita berlomba dengan yang lain, kita sebenarnya tak ada apa-apanya. Olimpiade itu ada agar kita bisa membunuh berhala-berhala yang tanpa sadar kita bangun sendiri akibat kekaguman pada diri yang berlebihan. Olimpiade membuat kita sadar bahwa usaha kita, perjuangan kita, pengorbanan kita belum ada apa-apanya” kataku panjang lebar. Entah dari mana jawaban itu muncul. Memberikan jawaban itu membuatku teringat pada diriku dulu. Kalau boleh jujur, aku benar-benar pernah membangun berhala-berhala itu, kagum berlebih pada diri sendiri. Tapi sekarang aku sadar, lebih tepatnya disadarkan, bahwa aku bukan siapa-siapa. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang pernah melewati tahapan ini, membangun berhala. Atau mungkin ada yang belum dan berpotensi untuk membangunnya di masa depan. Saranku, bunuh segera berhala-berhala itu.

“oh… iya kak, gitu ya” begitulah tanggapan si adek yang tadi bertanya padaku. Entah dia terpuaskan atau tidak dengan jawabanku. Setidaknya tak ada pertanyaan lanjutan yang akan membuatku kembali memutar otak untuk mencari jawaban. Tapi tak disangka, pertanyaan lanjutan justru muncul dari diriku sendiri, seperti ini,

“iya kalau kita mengambil sudut pandang dari orang yang kalah dalam olimpiade itu. Bagaimana ceritanya jika kita menjadi orang yang terbaik di olimpiade itu? Bukankah itu malah akan jadi potensi membangun berhala yang lebih besar dalam diri?” itu pertanyaan lanjutanku. Iya juga sih, tapi mari sedikit merenung. Seorang juara sejati bukanlah orang biasa, mereka adalah orang yang telah mengalami banyak tempaan baik fisik maupun mental. Sehingga dia telah siap dengan mental juara yang telah dia bangun, bukankah padi yang makin berisi akan semakin merunduk? Seorang yang biasa-biasa sajalah atau dengan kemampuan tanggunglah yang akan membangun berhala dalam diri ketika menjadi juara. Seorang juara sejati tak akan melakukan itu semua. Lantas jika kitalah yang menjadi juara, maka itulah cobaan bagi kita, ujian bagi kita, sejauh mana kita tak menjadi jumawa. Karena kenikmatan dan kebahagiaan sebenarnya bisa jadi hadiah, cobaan, bahkan ujian. Yuk bersama-sama sadarkan diri, posisi kita sekarang, jabatan kita sekarang, kepercayaan yang kita punya sekarang, tanggung jawab yang kita emban sekarang, semua itu hanyalah titipan dan tak seharusnya kita membangun berhala dalam diri hanya karena itu semua. Tugas kita sebagai manusia hanyalah beribadah kepada Allah sehingga hanya padaNyalah kita menyembah dan meminta pertolongan. Jika telah terlanjur kau bangun, bunuhlah dan segeralah bertaubat. Jika belum, Alhamdulillah, semoga tak akan pernah. Memang sulit mengendalikan hati, jika mudah tak akan ada surga sebagai balasannya, kerena masuk surga itu bukan perkara mudah.

Rumor yang Menyakitkan

twit2“dug…dug…dug… centraaaang” bunyi benda mengenai dinding, seperti bunyi badan yang dihantamkan ke dinding diikuti bunyi piring yang dibanting. Sukses membangunkanku dari rutinitas tak sehat yang hingga detik ini belum bisa ku tinggalkan, tidur pagi. Ku buka mata langsung melihat ke arah teman sekosanku yang pada saat yang sama juga sedang memandang ke arahku.

            “bunyi apaan mbak?” tanya kita berdua hampir bersamaan. Kita sama-sama bertanya dan sama-sama menggeleng karena memang sama-sama bingung dan tak tahu apa yang terjadi. Kita pun langsung bergegas ke jendela untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika membuka jendela, tak hanya suara hantaman benda yang terdengar tetapi juga diikuti teriakan dan perdebatan layaknya orang yang sedang berselisih pendapat. Suaranya terasa sangat dekat. Awalnya kami berdua mengira di lantai bawahlah peristiwa perdebatan yang cukup layak disebut ‘pertengkaran’ itu terjadi. Bukan tanpa alasan perkiraan ini muncul karena memang di lantai bawahlah cukup sering terjadi perdebatan yang beberapa kali berhasil menarik perhatian kami berdua. Setelah menfokuskan pendengaran dan didukung dengan intonasi suara yang semakin menguat maka dapat kami simpulkan bahwa sumber suara berasal dari kamar di sebelah kamar kami. Entah apa yang mereka perdebatkan. Apapun itu semoga semuanya akan baik-baik saja dan semuanya memang akhirnya semakin mereda dan suara nyaring tadi perlahan-lahan menghilang. Tapi, rasa shock yang kami berdua rasakan tak semudah itu menghilang. Bahkan sudah umur segini pun, kencangnya suara akibat pertengkaran benar-benar sukses membuat kami trauma, entah setrauma apa jikalau anak kecil polos yang mendengarkannya. Hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini, janganlah pernah bertengkar di depan anak-anak, kalian tak pernah tau kan bagaimana berantakannya neuron-neuron otak mereka dan jejak-jejak trauma itu akan menjadi beban untuk mereka pikul entah sampai kapan. Kembali ke peristiwa pertengkaran tadi, siapakah gerangan penghuni kamar sebelah? Merekalah subjek utama yang akan aku ceritakan di cerita ini. Bukan bermaksud untuk membuka aib orang, sungguh aku tak bermaksud begitu, aku hanya ingin berbagi kisah yang lantas bersama-sama bisa kita ambil hikmahnya.

            Mereka adalah sepasang suami istri yang baru seumur jagung menikah, tak berlebihan jikalau ku bilang pasangan pengantin baru. Kami berdua diundang ketika mereka berdua menikah tapi sayangnya kami tak bisa datang karena satu dan lain hal. Pertetanggaan dimulai ketika si teteh belum menikah kala itu. Hubungan baik kita jalin sehingga tak jarang kami sering diberi makanan sama si teteh. Pernah suatu ketika, pas bulan Ramadhan, aku ingat sekali, kala itu aku sendirian di kosan dan sedang benar-benar tak enak badan. Ku beli makanan seadanya untuk berbuka puasa, benar-benar sedih rasanya, sakit sendirian di kosan di bulan Ramadhan. Ketika adzan berkumandang ada yang mengetuk pintu kamar kosan, dengan langkah berat ku langkahkan kaki ke pintu dan ketika ku buka pintu ternyata teteh sebelah menenteng sebuah plastik yang cukup besar,

“ini teh buat buka puasa” katanya padaku. Aku pun langsung menerimanya dengan kesadaran yang tak sepenuhnya penuh.

“terimakasih banyak teh” kataku berterimakasih. Ketika ku buka, di dalamnya ada dua kotak nasi bebek favoritku dan dua bungkus kurma. Mungkin si teteh mengira mbak kosanku ada, padahal kala itu dia sedang pulang ke rumahnya.

            Itulah sedikit gambaran bagaimana baiknya si teteh tetangga kosanku. Setelah menikah, si teteh tinggal bersama suaminya, di sebelah kamarku. Itu kami ketahui ketika kami memberikan kado sebagai hadiah pernikahan pada mereka berdua. Kala itu terlihat jelas seperti apa raut bahagia pasangan baru itu, si teteh dan suaminya. Itulah mengapa kami begitu shock ketika mendengar hingar bingar di sebelah, antara percaya dan tidak. Aku sedih dan menyayangkan, kenapa harus berdebat pendapat hingga sekeras itu, jikalau memang ada yang tak disuka atau kurang pas kenapa tak dibicarakan baik-baik. Gampang sih menjadi komentator sepertiku, pengamat sepertiku, dan tak ada jaminan pula aku tak akan bersikap yang sama jika berada di posisi mereka. Aku berdoa semoga aku kelak bisa berpikir jernih ketika sedang marah sehingga apa yang ku dengarkan pagi itu tak akan aku lakukan, amin. Tapi tetap saja aku sedih karena aku tau suara itu cukup keras untuk didengar oleh tetangga yang lain.

            Beberapa hari setelah itu, tepatnya hari selasa kemarin, sepulang dari tempat kerja, kudapati banyak orang berkumpul di depan kosanku, lebih tepatnya di depan kamar si teteh dan suaminya. Aku kaget bukan kepalang, jangan-jangan mereka bertengkar lagi, pikirku kala itu. Aku pun mendekat ke kerumunan orang itu dan bertanya, ternyata telah terjadi pencurian di kamar si teteh dan suaminya. Orang-orang di sana menyarankanku untuk mengecek kamarku takutnya ada barang yang hilang. Aku tak terlalu khawatir karena memang tak ada barang berharga di kamarku dan memang benar tak ada posisi barang di kamarku yang berubah ketika terakhir kali ku tinggalkan. Aku sedih sekali atas apa yang menimpa si teteh dan suaminya. Barang-barang yang hilang adalah 3 buah laptop dan sebuah TV plasma 29 inc. Hal yang janggal adalah pintu kamar si teteh dan suaminya benar-benar tak rusak sama sekali, seakan-akan dibuka menggunakan kunci duplikat. Aku benar-benar tak habis pikir sama si pencuri, bagaimana dia bisa sehebat itu, membuka tanpa merusak pintu sama sekali. Si teteh berniat untuk membuat laporan ke polisi dengan tujuan agar si pencuri ditangkap dan jera sehingga tak meresahkan masyarakat yang lain, masalah barang katanya sudah dia ikhlaskan. Kalau tak salah pak polisi datang sekitar jam 11.an malam, aku sudah mau tidur kala itu sehingga tak keluar kamar. Banyak perkiraan yang muncul dan ada satu rumor yang membuatku benar-benar kaget, tak percaya, dan sedikit menyakitkan jikalau si teteh dan suaminya kelak mendengarnya.

            Rumor yang menyakitkan itu adalah banyak yang berpikir bahwa yang menjadi otak pencurian itu adalah suami si teteh sendiri. What the food? Kok bisa mereka berpikiran seperti itu? Aku yang mendengarnya saja kesel bukan kepalang entah bagaimana jikalau suaminya si teteh yang mendengarnya. Mereka berpikir seperti itu bukan tanpa dasar katanya. Menurut mereka, hal itu bisa saja terjadi karena pintu kamar mereka benar-benar tak rusak sama sekali, mereka berdua sering ribut, dan suaminya si teteh yang terlihat seperti ‘tak bekerja’. Ya Allah, tega banget ya mereka, bukannya si suaminya teteh juga diambil laptopnya, nggak mungkin dong dia ngambil punya dia sendiri. Lagian buat apa juga, bukannya kalau sudah suami istri maka semua barang yang ada adalah milik bersama? Terus kalau masalah ‘tak bekerja’, lah… bukannya jaman sekarang bekerja itu tak harus keluar rumah? Bisa aja si suaminya teteh kerjanya di depan computer yang notabene itu tak harus keluar rumah. Hal ini juga didukung dengan background pendidikan beliau yang ku tahu berhubungan dengan computer. Hanya satu yang tak bisa ku elak, yaitu pertengkaran yang kerap mereka lakukan. Seharusnya mereka tak harus berdebat pendapat hingga sampai terdengar orang lain, hingga terdegar ke tetangga sehingga melahirkan rumor-rumor yang menyakitkan seperti itu. Ya Allah lindungilah hamba, keluarga hamba, teman-teman hamba, dan orang-orang yang membaca tulisan ini dari rasa marah yang tak terarah, emosi yang tak terkendali, dan rasa kesal yang menghujam diri yang bisa membuat kita lupa akan hakekat dan kondisi diri dan sekitar, sehingga kami masih bisa berpikir jernih ketika emosi mendidih, bersikap wajar walau rasa marah sedang menajalar, dan menahan lisan untuk senantiasa berkata baik walaupun kondisi diri sedang tak baik. Amin.

Burung Bego

Burung-kolibri.jpgPercakapan absurd siang ini, berlangsung di musholla ketika hendak mendirikan sholat dzuhur,

Dia: mbak jadi imam ya (sambil mengambil posisi di sebelah kananku)

Aku: iya, tapi aku Sunnah dulu ya

Dia: ih… lama, langsung aja yuk

Aku: tau nggak, sholat sunnah tuh kayak sayap burung. Cuma burung bego yang nggak gunain sayapnya buat terbang.

Dia: parah… aku dibego-begoin (sambil ngeloyor langsung sholat Sunnah)

Aku: hahaha.

Ayo… udah pada pake sayap nggak buat terbang? Jangan sampe jadi burung bego ya yang nyia-nyiain sayapnya buat terbang. Kan mubadzir, masak udah disediain sayap tapi nggak digunain. Kata ustad Yusuf Mansyur dalam ceramahnya, “sholat rawatib –qabliyah dan ba’diyah’- itu ibarat sayap pada burung. Cuma ada dua alasan kenapa burung nggak gunain sayapnya buat terbang, karena sayapnya patah atau burung itu burung bego”.