Tidur Berjamaah?

Aku tak tahu kapan tepatnya hal ini menjadi kebiasaanku yang sulit untuk dihilangkan dari diriku. TERLAMBAT. Ya, datang terlambat pada setiap kegiatan yang harus aku ikuti, baik formal apalagi informal. Salah satu kejadian yang baru-baru ini ku alami yang berkaitan dengan terlambat adalah ketika aku datang terlambat untuk mengikuti salah satu mata kuliah minor yang ku ambil. Kejadiannya bermula ketika aku dan kedua temanku (Naila dan Liya) memutuskan untuk sholat dzuhur di sebuah musholla yang ada di kampusku. Hujan pun turun dengan derasnya sehingga merayu kita bertiga untuk merebahkan diri sejenak sebelum mengikuti kuliah selanjutnya.

Kita bertiga pun memutuskan untuk tidur dan berani menanggung semua resiko yang ada. Selang beberapa saat, Naila terbangun.

“bangun yuk, udah jam setengah 3, kita kan masuk jam 3”

“ lima menit lagi ya” jawab lia, yang langsung diseujui oleh semua pihak yang terkait.

Continue reading

Berawal dari Kata “BIASA”

            Menjadi seorang mahasiswa adalah impian setiap anak yang duduk di bangku SMA. Menikmati indahnya bangku kuliah, berdiskusi dengan para dosen, pakar, dan profesor hebat, serta memakai pakaian tanpa harus seragam dengan yang lain adalah hal yang sangat dinanti-nantikan oleh setiap anak. Tak terkecuali denganku. Masih teringat jelas dalam ingatanku ketika dengan bangganya ku tuliskan ingin melanjutkan kuliah di sana, di dua perguruan tinggi negeri ternama di negeri ini, yaitu UI dan Univ. Airlangga. Pun demikian ketika dengan lugunya aku berkomentar bahwa ITB adalah universitas yang tidak terkenal. Sungguh sangat menggelikan ketika saat ini ku tahu bahwa ITB adalah universitas yang sangat terkenal yang begitu sulit untuk dimasuki oleh anak-anak yang memiliki kemampuan yang pas-pasan, baik dari segi ekonomi maupun intelektualnya.

Tak terbesit sedikitpun dalam benak untuk melanjutkan kuliah di kampus rakyat ini, Institut Pertanian Bogor yang sekarang sedang dirintis untuk menjadi World Class University. Pun ketika untuk kedua kalinya aku berkunjung ke universitas ini, tak ada keinginan sedikit pun untuk kuliah di tempat ini. Tapi kenyataannya aku sekarang berada di sini, membangun impian di sini, menimba ilmu di sini. Ya, di sini, di Institut Pertanian Bogor. Kampus rakyat yang selama ini tak pernah masuk dalam daftar kampus impianku. Baiklah, akan aku ceritakan asal muasal, sebab akibat, atau apalah namanya yang telah membawaku kesini.

Continue reading