Berawal dari Kata “BIASA”

            Menjadi seorang mahasiswa adalah impian setiap anak yang duduk di bangku SMA. Menikmati indahnya bangku kuliah, berdiskusi dengan para dosen, pakar, dan profesor hebat, serta memakai pakaian tanpa harus seragam dengan yang lain adalah hal yang sangat dinanti-nantikan oleh setiap anak. Tak terkecuali denganku. Masih teringat jelas dalam ingatanku ketika dengan bangganya ku tuliskan ingin melanjutkan kuliah di sana, di dua perguruan tinggi negeri ternama di negeri ini, yaitu UI dan Univ. Airlangga. Pun demikian ketika dengan lugunya aku berkomentar bahwa ITB adalah universitas yang tidak terkenal. Sungguh sangat menggelikan ketika saat ini ku tahu bahwa ITB adalah universitas yang sangat terkenal yang begitu sulit untuk dimasuki oleh anak-anak yang memiliki kemampuan yang pas-pasan, baik dari segi ekonomi maupun intelektualnya.

Tak terbesit sedikitpun dalam benak untuk melanjutkan kuliah di kampus rakyat ini, Institut Pertanian Bogor yang sekarang sedang dirintis untuk menjadi World Class University. Pun ketika untuk kedua kalinya aku berkunjung ke universitas ini, tak ada keinginan sedikit pun untuk kuliah di tempat ini. Tapi kenyataannya aku sekarang berada di sini, membangun impian di sini, menimba ilmu di sini. Ya, di sini, di Institut Pertanian Bogor. Kampus rakyat yang selama ini tak pernah masuk dalam daftar kampus impianku. Baiklah, akan aku ceritakan asal muasal, sebab akibat, atau apalah namanya yang telah membawaku kesini.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, dengan ekspresi yang BIASA-BIASA saja ku masuki kelas yang sudah sangat ku hafal tiap detail isinya, XII IPA F. Tempat anak-anak pintar (kecuali diriku) berada.

“ Eh dit, kamu mau masuk universitas apa?” sapa temanku.

“ Hm,,, liat nanti aja deh, aku belum mikirin itu” Jawabku.

Begitulah jawabanku setiap ada teman yang menanyakan tentang universitas. Bukan karena aku tak ingin kuliah, tapi aku memang belum siap berfikir sejauh itu. Begitulah pemikiran orang  BIASA sepertiku dengan impian yang juga BIASA-BIASA saja pada waktu  itu.

Hari demi hari berlalu, tak terasa telah ku lewati setengah periode masa jabatanku di kelas XII IPA F tercinta. Dan obrolan tentang universitas makin gencar terdengar walaupun tak sedikitpun mengubah diriku yang BIASA untuk mencari jawaban yang tak sekedar BIASA untuk ku berikan pada temanku yang sesekali bertanya tentang universitas. Pun demikian ketika seorang guru (yang dianggap killer tapi sangat perhatian terhadap murid-muridnya) suatu ketika bertanya padaku tentang universitas.

“ saya nggak tahu bu mau masuk dimana” jawabku seperti BIASA.

“gimana kalau masuk IPB, kan kamu udah dua kali ke sana, kalu masalah jurusan kamu ambil biokimia saja”

“oh… iya bu” jawabku. Bukan karena setuju, tapi entah mengapa setiap berhadapan dengan guru yang satu itu hanya jawaban itulah yang mampu keluar dari mulutku.

Tak selang beberapa lama, formulir IPB mendatangi sekolahku. Tanpa berfikir dua kali ku ambil dan ku isi formulir itu sesuai dengan saran guruku tadi. Ku pilih biokimia di pilihan pertama. Alasannya karena aku suka kimia (walaupun tidak suka biologi), saran guru, dan dorongan impianku yang saat itu masih BIASA-BIASA saja. Selang beberapa pekan, pengumuman datang, dan diriku mutlak diterima tanpa syarat dan ketentuan yang berlaku (loh…. kok, hehehe). Tak tahu mengapa, untuk pertama kalinya aku merubah eksperisiku yang BIASA menjadi tak BIASA. Berlari memasuki kelas dan dengan lantang berteriak, “aku diterima di IPB” dan teman-temanku pun tersenyum dan menghapiriku untuk memberikan selamat.

Lalu apa yang aku rasakan sekarang? Apakah tetap BIASA saja seperti sebelumnya? Maka dengan lantang ku jawab TIDAK. Memang sudah ku rasakan sebelumnya bahwa IPB bukanlah tempat yang BIASA. Bukan karena letaknya yang jauh dari pulauku tercinta (Madura). Butuh waktu 24 jam perjalanan dengan bus, 16 jam dengan kereta ekonomi, dan kurang lebih 1 jam dengan pesawat (walaupun aku tak pernah naik yang ini). Bukan, bukan karena itu. IPB memang penuh dengan aura positif yang dipancarkan oleh orang-orang hebat di dalamnya, dan telah mengubah orang yang BIASA sepertiku mempunyai tekad untuk menjadi orang yang luar BIASA yang akan mengubah peradaban dengan ide-ide yang tak sekedar BIASA-BIASA saja. Maka janganlah takut menjadi orang BIASA karena perubahan itu pasti ada yang akan merubah yang BIASA menjadi luar BIASA.

Advertisements

7 thoughts on “Berawal dari Kata “BIASA”

  1. ini tulisan membuat jariku ingin komentar meski ngetik lewat mobile phone…

    selamat..semangat…hahaa…dulu kalian yg pertama bebas dari bygan kata “kemana…kemana..kemana”

    • iya nih, iseng-iseng nulis,
      hahaha, jadi inget dulu pas pengumuman, ayo kamu kapan mau k Bogor, temennya bak dila udah banyak yang ke sini, aku juga pengen pamer temen nih, hahahah 😀

  2. hahaa..,lalu iseng nulis itu jg “biasa”..haa

    jujur pgen ke bogor.., ktmu klian d prantauan..pgen ke gnung salak..wkw, but hopelessly smthing big waiting at home…hiks

    • maunya sih dijadiin kebiasaan, tapi susah bnget ngatur jadwalnya

      ke gunung salak? aku aja belum, hanya memandang dari kejauhan, apalgi setelah terjadi tragedi itu, makin g ada niat yang mau ke sana. ayo kamu k sini aja, di sini banyak kok tempat wisata yang lebih bagus dari gunung salak

      something big? terjadi sesuatukah di rumahmu? jgn lupa kasih kabar ya kalo ada apa2, ok ok

  3. Wah, tulisan yg renyah nan mengalir. Hehehehe.
    Mengenai IPB, sbnrx dulu aku pengen banget kuliah dsana. Tp trnyata Kampus Merah Universitas Hasanuddin berjodoh denganKu. Hahhhha

    • makasih udah meluangkan waktu untuk berkunjung ke blog ku, hehehe
      kuliah dimana pun itu ga masalah asalkan masih tetap bisa mengukir prestasi, apalagi kamu tuh yang bentar lagi mau k jerman, selamat ya buat BYEE nya. semoga selamat sampai tujuan dan tak lupa bawa oleh-oleh kalo udah balik k Indonesia. aku nunggu oleh2 dari jermannya ya #loh ngarep, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s