Uang Rakyat

UANG RAKYAT, dua kata yang sederhana namun sarat akan makna. Dua kata yang mampu membangunkanku pada suatu malam. Malam dimana semuanya menjadi semakin jelas. Dua kata yang telah membuatku sadar dengan apa aku kuliah dan bertahan hidup di sini, di tempat kuliahku saat ini. Dua kata yang telah menyadarkanku apa arti dibalik kata beasiswa. Ya, baru ku sadari beasiswa adalah uang mereka, uang rakyat Indonesia yang selama ini selalu direnggut haknya.

Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Aku merasa sangat beruntung karena mendapatkan pendidikan hingga perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah di sini. Selain harus mempunyai kemampuan akademik yang memadai, dibutuhkan pula biaya yang tidak sedikit karena biaya kuliah di Indonesia masih bisa dibilang mahal. Bahkan, para orang tua sudah dari jauh hari menabung untuk mempersiapkan biaya kuliah anak-anak mereka. Namun, biaya kuliah bukanlah masalah bagiku, bukan karena aku kaya, bukan! Tapi karena aku telah mendapatkan beasiswa. Beasiswa ini membuatku tidak perlu membayar uang kuliah sepeser pun dari awal kuliah sampai aku lulus nanti. Selain itu, aku juga mendapatkan biaya hidup yang lumayan, sehingga orang tuaku tidak perlu mengirimiku uang lagi. Nama beasiswa yang ku dapatkan adalah BIDIK MISI yang merupakan kepanjangan dari beasiswa pendidikan untuk mahasiswa miskin berprestasi. Aku adalah angkatan pertama yang mendapatkan beasiswa ini. Beasiswa ini merupkan beasiswa dari DIKTI (pendidikan tinggi) yang merupakan langkah nyata dari pemerintah untuk meningkatkan jumlah sarjana di Indonesia.

Sempat ada rasa bangga saat pertama kali aku mendapatkan beasiswa ini. Telah terbayang berapa banyak uang yang akan ku dapatkan saat aku kuliah nanti. Bahkan, sempat terbesit dalam benakku untuk mencari beasiswa lain sehingga aku bisa menambah uang bulananku. Beginilah sifat alamiah manusia mulai muncul dalam diriku atau lebih tepatnya menggrogotiku, yaitu rakus. Hari berganti hari, tibalah masa dimana aku mulai memasuki dunia perkuliahan dan seperti bayanganku sebelumnya biaya kuliah dan biaya hidupku per bulannya ditanggung oleh beasiswa yang ku dapatkan.

Sebagai seorang mahasiswa baru yang juga mempunyai semangat baru, banyak sekali rencana dan impian yang telah ku rancang untuk masa depanku nanti. Mulai dari rencana harian, bulanan, bahkan tahunan. Namun, rencana hanya tinggal rencana karena aku adalah tipe orang yang yang mempunyai semangat yang naik turun. Saat semangatku sedang naik, aku akan menyusun rencana-rencana cemerlang untuk masa depanku, tapi sebaliknya apabila semangatku turun maka semua rencana yang telah ku tulis tak ubahnya seperti selembar kertas yang tergeletak tak berguna yang ku biarkan begitu saja. Sayangnya, semangatku lebih sering turun daripada naik. Sehingga sering ku isi hari-hariku dengan bersantai-santai, bahkan bolos kuliah pun sering ku lakukan. Berbagai cara telah coba ku lakukan untuk mendongkrak semangatku seperti saat pertama kali aku kuliah dulu, misalnya dengan mengikuti berbagai seminar yang pembicaranya adalah orang-orang hebat, berdiskusi dengan teman, sharing dengan kakak kelas, dan sebagainya. Namun, tak ada yang bertahan lama. Semangatku tetap tak beranjak dari kata malas.

Uang beasiswa yang ku dapatkan pun tidak ku manfaatkan dengan baik. Aku sering membeli barang-barang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kuliahku sehingga aku selalu meminta uang kiriman tambahan karena uang yang ku dapatkan tiap bulannya tidak bisa mencukupi kebutuhanku. Tapi di kelas aku termasuk anak yang kritis dan aktif mengemukakan pendapat. Setiap ada diskusi aku selalu aktif bertanya dan memberikan tanggapan. Topik yang paling aku senangi adalah masalah politik, terutama yang berhubungan dengan pemerintah dan rakyat. Setiap kali memberikan tanggapanku tentang kebijakan pemerintah yang selalu merampas hak rakyat, aku selalu menyampaikannya dengan berapi-api. Seakan-akan pemerintah adalah orang yang paling bersalah atas penderitaan rakyat selama ini. Padahal, disadari atau tidak, aku tak ada bedanya dengan mereka yang selalu merampas hak rakyat, dan aku baru menyadarinya sejak malam itu. Malam dimana teman sekamarku menyadaranku akan semua itu.

Malam itu teman sekamarku sedang belajar untuk mempersiapkan praktikum esok harinya. Tiba-tiba dia berkata “udah ah, capek, ngantuk, tidur aja, eh,,, ga, ga, aku ga boleh ngantuk, ini uang rakyat”. Aku yang mendengarnya langsung tersentak. Ya Allah, aku juga menggunakan uang rakyat. Apa yang telah aku lakukan selama ini, seperti malas-malasan, sering bolos kuliah, itu tak ubahnya seperti pemerintah yang selama ini selalu merampas hak rakyat. Ya, aku baru sadar bahwa aku sama seperti mereka. pemerintah yang selalu aku kritisi kebijakannya, pemerintah yang selalu membuatku jijik dan amat benci melihat keangkuhan mereka. Padahal aku sama saja seperti mereka. Memang benar kata pepatah, gajah di pelupuk mata memang tak kelihatan. Selama ini aku tak sadar bahwa rakyat Indonesia menggantungkan harapannya padaku melalui beasiswa yang mereka berikan. Besar harapan mereka untuk mendapatkan pemimpin yang tak silau akan jabatan dan uang. Tapi, apa yang ku lakukan selama ini? Yang ku lakukan adalah sebuah bentuk kezaliman yang amat sangat besar. Aku tak pernah menyadari bahwa beasiswa ini adalah amanah rakyat yang diberikan kepadaku dan akan dimintai pertanggungjawabannya, tak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak.

Terimakasih ya Allah atas petunjuk yang engkau berikan kepadaku.Uang rakyat ini akan selalu menjadi motivator terbasar di antara motivator-mativator hebat yang selama ini aku temui. Memang benar, motivator terbesar adalah motivator yang ada dalam diri kita dan aku telah menemukannya, yakni uang rakyat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s