Dita atau Dika?

Pagi itu terasa mendung. ga mendung juga sih, tapi berhubung semua jendela di kamarku itu semuanya ditutup (untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan) karena tetangga sebelah para penghuninya adalah para ikhwan (ceile ikhwan, hehe). seperti biasa, pagi-pagi adalah waktu yang paling kondusif untuk berleha-leha bagi para penghuni kontrakan “wisma angen” tak terkecuali denganku. pagi itu adalah bagianku untuk mengurusi baju-baju kotor dan menyetornya sama ibu laundry. tahapan untuk meyetor baju tersebut ada 3 tahap. tahap pertama, kumpulkan baju-baju kotor. tahap kedua, kirim SMS sama mas-mas laundry dengan format ” Assalamualaikum mas, tolong ambil baju saya di kontrakan ya, makasih”. dan tahap ketiga, memberikan baju-baju kotor tersebut kalau mbaknya udah dateng (pasti pada bingung ya, kenapa smsnya sama mas-mas tapi yang ngambil kok ibu-ibu? hal ini dikarenakan yang punya hp itu si mas-mas, terus yang bertugas ngambil baju-baju kotor itu si mbaknya, begitulah ceritanya).

Nah, ketiga tahap itu udah aku lakuin semua. hanya saja, ada kesalahan pada tahap ketiga yang menurutku cukup fatal (ga juga sih). sembari menunggu si mbak datang, ku putuskan untuk tidur-tiduran sejenak di kamar. tiba-tiba, dari luar ada yang berteriak (begitulah kebiasaan di kontrakanku, kalau ada tamu cara memanggil tuan rumah yang bersangkutan dengan cara berteriak, dasar pada Mager -malas gerak-).
“Dita…… ada temenmu” kata salah seorang penghuni kontrakan
“hm… pasti si mbak nih” pikirku
aku pun tergopoh-gopoh mengambil mukenah (cara praktis menutup aurat kalo mau keluar rumah). tak lupa ku ambil baju-baju kotorku.
ketika keluar rumah, betapa kagetnya, ternyata yang dateng itu si mas-mas. “untung udah pake mukenah” pikirku. yang buat aku kaget, gaya si mas-mas ga keliatan kalau dia tukang laundry malah terkesan kayak mahasiswa gitu -keren, hehehe- ditambah lagi pake motor gede. tapi, aku udah menanamkan dalam diri “don’t judge someone from it’s cover” atau bahasa kerennya itu jangan tertipu sama penampilan. oleh karena itu tanpa rasa ragu, aku langsung menyodorkan baju-baju kotorku dambil berkata
“nih mas bajunya”
ternyata si mas-mas malah bingung sambil berkata “Dikanya ada mbak, saya mau ngambil buku”
APA? dika? jadi mas-mas itu bukan mas-mas laundry? aku pun langsung berlari ke dalam kontrakan -dengan rasa malu tentunya- sambil memanggil dika. memang di kontrakanku ada yang namanya Dika (tapi cewe ya).

Aku pun langsung bertanya sama temen yang memanggil namaku tadi
“Kok ga bilang sih kalau itu temennya dika?”
“kamu aja tuh yang salah denger wong kita bilangnya Dika kok” jawab temanku
“terus kenapa tadi ga ngelarang aku pas keluar rumah” kataku membela diri
“gimana mau bilang, kamunya ja buru-buru kayak gitu, emang kenapa?”
“ih,,, tadi aku ngira mas-masnya itu mas-mas laundry tau…”
“hahahaha…..” serempak teman-temanku yang lagi nonton TV tertawa

satu pelajaran yang aku dapatkan dari kejadian ini, “malu bertanya, sesat di jalan” eh aku edit aja ya “malu bertanya, salah mengenali orang”, ga lucu ya, lucu-lucuin aja lah, ngebuat orang bahagia ga ada ruginya kan? hehehe 😀

Advertisements

7 thoughts on “Dita atau Dika?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s