Timingnya Kurang Tepat

Beberapa pekan kemarin aku benar-benar kelimpungan. Kenapa? Ya karena laptop yang selama ini setia menemaniku tiba-tiba koma, kalau dihidupin ya hidup tapi tak memunculkan gambar apa pun. Hanya gambar hitam dengan sedikit cahaya yang tak ku mengerti artinya. Tanpa pikir panjang ku bawa laptop itu ke dokter komputer tak jauh dari kosanku. Ternyata penyakitnya cukup serius sehingga harus dirawat inap selama satu malam. Keesokan harinya, aku langsung menjenguk laptopku. Kata dokternya sih, penyakitnya sudah sangat parah karena ternyata yang rusak adalah LCDnya. Aku pun langsung berniat memperbaikinya, tapi keinginan itu tiba-tiba hilang setelah sang dokter menyebutkan nominal biaya perbaikannya.
“ya kalau yang original sekita 800-900rb.an mbak”
What? Mahal banget, pikirku.
“hehehe…. Ga jadi deh mas… kapan-kapan aja” jawabku.
Continue reading

Advertisements

International Mind

Memasuki ruang kelas A2 seperti biasanya. Duduk di bangku kuliah yang juga seperti biasanya. Mata kuliah ini sangat special karena akan menjelaskan tentang metabolisme pada manusia. ya benar sekali, metabolisme yang selalu kita lakukan. Yang usut punya usut ternyata prosesnya tak sesederhana yang aku pikirkan. Penuh dengan lika-liku. Baik dari dari prosesnya maupun struktur senyawa yang menyusunnya. Benar-benar penuh dengan lika liku. Aku pun berfikir bagaimana para ilmuan mengidentifikasi mereka? Salut-salut. Pelajaran pun dimulai dengan dosen yang ternyata bukan dosen yang minggu kemarin. Karena dosen yang kemarin memang terkenal sibuk, maklum beliau adalah asisten menteri pertanian RI (Republik Indonesia). Ga kecewa sih, soalnya bapaknya masih muda yang tentunya punya semangat yang tak jauh berbeda dengan kita yang masih muda-muda, hehe.
Continue reading

Pelajaran Hidup

Mata kuliah yang paling aku senangi di semester ini adalah genetika untuk pemuliaan tanaman. walaupun notabene pelajaran ini bukan dari departemenku, tapi tak tahu kenapa sangat menyenangkan mempelajarinya. Pemberitahuan saja, system perkuliahan di kampusku ini menerapkan system mayor, minor, dan SC (Supportng Course). Dimana mata kuliah mayor (jurusan kita) SKS nya tidak mencukupi untuk menjadi seorang sarjana (minimal harus melunasi 144 SKS untuk bisa lulus). Jadi, mau tidak mau, kita harus melengkapinya dengan mengambil mata kuliah dari jurusan lain.
Continue reading

Banyak Yang Berubah Di Semester 5 Ini

Cerita ini tentang temen-temen di kelasku yang tak tahu sebabnya mulai berubah di semester 5 ini. Aku tak tahu apa ini cuma perasaanku saja atau gimana. Ya udah lah ya,,, aku mulai cerita aja. Hawa perubahan ini mulai aku rasakan saat masuk pertama kali ke kelas. Perubahan apakah itu? Ya perubahan temen-temenku yang cowok yang awalnya tak pernah duduk di depan, sekarang mulai menampakkan batang tubuhnya di bangku paling depan. Tak hanya itu, lengkap dengan buku catatan dan konsetrasi penuh mendengarkan penjelasan dari dosen, mencatat setiap intisari yang mereka anggap penting dan bertanya jika memang ada yang kurang jelas.
“alah… paling cuma hari pertaman aja” pikirku bersuudzan ria. Tapi perkiraanku salah. Di hari kedua, ketiga, bahkan hingga detik ini (minggu ke-4 perkuliahan) mereka tetap istiqomah melakukannya (duduk di depan, nyatet, dan bertanya bila diperlukan). Mereka ini menarik perhatianku, apakah gerangan yang membuat mereka berubah sedrastis itu? Apakah ini hikmah ramadhan?. Aku juga tak tahu. Aku juga merasa kurang enak kalau tiba-tiba bertanya pada orang yang bersangkutan.
Continue reading

Mie Goreng Rendang untuk Adikku

Jika kau punya TV, maka bisa dipastikan kau akan tau merk mie apa yang akan aku ceritakan ini. Berhubung aku bukanlah marketing dari perusahaan ini, maka kurang etis rasanya jika aku menyebutkan merk di sini. Mie goreng rendang, mie goreng dengan citarasa rendang yang membuatku penasaran untuk mencobanya. Setelah mencoba, enak juga ternyata (kok malah ngiklan ya, hehe). Yuk kembali ke topik utama. Yuk mari…

Liburan lebaran kemarin, aku pulang ke kampung halaman dengan masa liburan yang kurasa cukup lama, yaitu 1 bulan. Ya, satu bulan penuh puasa di rumah ditambah bonus lebaran dan acara walimahannya mbakku. Menyenangkan sekali liburan lebaran tahun ini. Mengisi hari-hari dengan agenda wajib ketika liburan. Tidur, makan, mandi, makan, jalan-jalan, makan, gerak dikit, makan, gerak lagi, makan lagi. Pokoknya banyak makannya deh. Maklum di rumah harus menikmati swasembada pangan sebelum kembali menghadapi masa panceklik pas balik ke tanah rantau dan kembali menjadi anak kos yang penuh dengan kekurangan (ga separah ini juga sih). Suatu ketika, pas mau makan (tuh kan makan lagi), adikku minta dimasakin mie. Mie goreng rendang. Berhubung dia udah ngemis-ngemis buat dibikinin tuh mie, akhirnya dengan terpaksa ku buatkan juga. Walaupun rasa malasnya setinggi gunung Himalaya (hahaha).

Jreng jreng… setelah beberapa menit mengolahnya, sebagai seorang chef profesioanal aku hidangkan mie goreng rendang special itu pada adikku. “gimana? Enak?” tanyaku. “ hm…… enak banget mbak… aku pengen makan mie ini tiap hari”. Waduh… ga segitunya juga kali, wong badanmu udah gendut gitu masak mau makan mie tiap hari. Mie goreng rendang emang enak. Apalagi aku yang bikinin, itu ceritaku. Apa ceritamu? Hahahaha.

Menyukai Itu Manusiawi

Ya, menyukai itu manusiawi. Manusiawi karena kita manusia. Maka jangan pernah salahkan seseorang yang menyukaimu hanya karena kau tak menyukainya. Jangan, jangan pernah. Karena jika boleh memilih, dia akan memilih untuk tidak menyukaimu jika pada awalnya dia tahu kalau kau tak kan menyukainya. Rasa suka itu tak bisa di manage. Tak bisa. Tak seperti jadwal kita yang dapat dengan mudah kita atur sesuka hati. Tak seperti mengatur tata letak barang-barang yang ada di kamar kita. Yang dapat sesuka hati kita pindahkan dan letakkan di tempat yang kita suka. Maka jangan pula salahkan diri sendiri ketika rasa suka itu kita rasakan pada orang yang tak pantas kita suka, tak sepadan dengan kita, tak mungkin kita sanding, orang yang selama ini akrab dengan keseharian kita, maupun orang yang ada di masa lalu kita.
Continue reading

Penting Tuk Ditekuni

sore ini sengaja ku sempatkan untuk berkunjung ke blog yang entah udah berapa abad aku tinggalkan. jika diibaratkan hubungan suami istri dan aku diumpamakan sebagai seorang suami maka sudah seharusnya sang istri menuntut talak dari suaminya yang tak lain adalah diriku. kenapa? ya, karena saking lamanya aku menyia-nyiakan keberadaan blog ini dan tak memberi nafkah sedikitpun. maka untuk mencegah istriku (blog ini) menuntut talak, aku berikan nafkah (tulisan) untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami (maaf analoginya agak nyeleneh, karena entah mengapa topik tentang suami istri sedang hit akhir-akhir ini, hehe. maklum udah tingkat tiga #kode hehe).
Continue reading