Menyukai Itu Manusiawi

Ya, menyukai itu manusiawi. Manusiawi karena kita manusia. Maka jangan pernah salahkan seseorang yang menyukaimu hanya karena kau tak menyukainya. Jangan, jangan pernah. Karena jika boleh memilih, dia akan memilih untuk tidak menyukaimu jika pada awalnya dia tahu kalau kau tak kan menyukainya. Rasa suka itu tak bisa di manage. Tak bisa. Tak seperti jadwal kita yang dapat dengan mudah kita atur sesuka hati. Tak seperti mengatur tata letak barang-barang yang ada di kamar kita. Yang dapat sesuka hati kita pindahkan dan letakkan di tempat yang kita suka. Maka jangan pula salahkan diri sendiri ketika rasa suka itu kita rasakan pada orang yang tak pantas kita suka, tak sepadan dengan kita, tak mungkin kita sanding, orang yang selama ini akrab dengan keseharian kita, maupun orang yang ada di masa lalu kita.

Menyukai juga tidak dosa. Dalam agama apa pun, tidak ada yang menyebutkan bahwa menyukai adalah perbuatan dosa. Pun demikian dengan agamaku. Agama yang amat sangat ku yakini kebenarannya. Tak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa menyukai adalah hal yang masuk dalam kategori dosa. Meyukai itu tidak dosa, yang dosa adalah bagaimana dan dimana kita mengekspresikannya. Jika dianalogikan dalam pelajaran genetika yang selama ini aku pelajari, menyukai itu tak ubahnya seperti gen. setiap makhluk bisa dipastikan mempunyai gen. Gen tidak akan menunjukkan fenotipe jika tidak diekspresikan. Jadi gen akan tampak oleh indra jika gen tersebut diekspresikan. Dengan kata lain apalah arti sebuah gen tanpa adanya ekspresi.

Begitu pula dengan menyukai. Menyukai itu akan tetap ada dan tidak akan menimbulkan masalah jika tidak diekspresikan. Bisa saja diekspresikan, asalkan pada waktu, suasana, dan tempat yang tepat. Hal yang selama ini terjadi adalah ekspresi suka yang seringkali terekspresi pada waktu dan tempat yang salah. Gen yang terekspresi pada waktu dan tempat yang salah juga akan menimbulkan masalah. Coba bayangkan jika gen mata yang seharusnya terletak di kepala terekspresi di punggung, akan sangat menyeramkan bukan? Begitu pula ketika gen tumbuhnya alis terekspresi seperti tumbuhnya rambut, maka akan sangat merepotkan jika kau harus memotong alis setiap hari karena selalu tumbuh. Begitu juga dengan menyukai.

Gen itu tak harus terekspresi. Begitu pula dengan menyukai. Jika kau menyukai seseorang, bukan berarti kau harus mengungkapkannya, bukan berarti kau harus bergalau ria, dan bukan berarti kau harus memikirkannya setiap hari. Menyukai itu memang tidak bisa di manage, yang bisa kita lakukan adalah mengatur ekspresi dari rasa suka itu. Kalau sekiranya rasa suka yang kamu rasakan sekarang belum tepat waktu dan tempatnya untuk diekspresikan. Maka jangan ekspresikan. Karena jika diekspresikan bisa dipastikan akan menimbulkan masalah. Cobalah untuk mengekspresikan gen suka itu di tempat dan waktu yang tepat nanti. Di saat pasanganmu mengucapkan ijab qabul. Maka di sanalah seharusnya gen suka itu terekpresi. Karena itu adalah waktu dan tempat yag tepat untuk mengekpresikannya kawan.

Advertisements

11 thoughts on “Menyukai Itu Manusiawi

  1. jangan pernah buat perasaan suka itu sangat istimewa, yang harus kamu fikirin tiap waktu. anggap perasaan suka itu sama saja dengan rasa yang lain, rasa lapar, rasa takut, jadi ga usah luangkan waktu khusus untuk memikirkannya (gampang sih kalo ngomong, ga tau deh aplikasinya hehe)

    relain aja led, kalo dia udah sama yang lain berarti dia bukan yang terbaik buat kamu. masih ada seseorang di sana yang nunggu buat kamu jemput. jadi relakan saja hehe

  2. Pingback: Ungkap atau Tak Ungkap | Pradita Maulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s