Penting Tuk Ditekuni

sore ini sengaja ku sempatkan untuk berkunjung ke blog yang entah udah berapa abad aku tinggalkan. jika diibaratkan hubungan suami istri dan aku diumpamakan sebagai seorang suami maka sudah seharusnya sang istri menuntut talak dari suaminya yang tak lain adalah diriku. kenapa? ya, karena saking lamanya aku menyia-nyiakan keberadaan blog ini dan tak memberi nafkah sedikitpun. maka untuk mencegah istriku (blog ini) menuntut talak, aku berikan nafkah (tulisan) untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami (maaf analoginya agak nyeleneh, karena entah mengapa topik tentang suami istri sedang hit akhir-akhir ini, hehe. maklum udah tingkat tiga #kode hehe).

nulis itu bagiku adalah permainan mood. kalau moodku lagi bagus, maka akan sangat mudah merangkai kata demi kata untuk menjadinkannya sebuah tulisan. tapi celakanya, moodku sering tak bagus. hal inilah yang membuat diriku enggan untuk menulis. terus… apa sekarang moodku lagi baik? ya… nggak juga. aku nulis ini dalam rangka memaksa diri istilah kerennya sih paksa rela. setelah aku telaah lebih dalam ternyata menulis itu tergantung jam terbang. semakin banyak nulis, semakin bagus pula tulisan itu. nah… dalam rangka memperbanyak jam terbang… aku terbangkan nih tulisanku yang tak tau juntrungannya mau kemana.

terkait dengan judul yang aku tulis di atas, itu berkaitan dengan cerita yang aku alami beberapa hari yang lalu. malam itu adalah malam persiapan menuju hari H sebuah acara yang aku terlibat di dalamnya. ketika lagi ngobrol bareng temenku, kakak kelasku yang notabene sukaaaaaa banget nulis bilang ” Dit, Nulis ya…” “iya kak,,, jawabku”. setelah aku cerna lebih dalam ternyata kata-kata itu adalah wasiat (jangan salah faham ya, orangnya masih idup kok, beneran dah) atau amanah yang telah aku ‘iya’ kan. maka mau tak mau harus aku jalankan betapa pun berat jalan untuk mmenjalaninya (lebbay hee). menulis penting untuk ditekuni karena tulisan inilah yang nanti akan menjadi bukti otentik kalau kita pernah hidup di dunia ini. pepatah mengatakan ” gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. nama di sini bukan sembarang nama, tapi nama baik yang tentunya timbul karena jasa atau

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s