Timingnya Kurang Tepat

Beberapa pekan kemarin aku benar-benar kelimpungan. Kenapa? Ya karena laptop yang selama ini setia menemaniku tiba-tiba koma, kalau dihidupin ya hidup tapi tak memunculkan gambar apa pun. Hanya gambar hitam dengan sedikit cahaya yang tak ku mengerti artinya. Tanpa pikir panjang ku bawa laptop itu ke dokter komputer tak jauh dari kosanku. Ternyata penyakitnya cukup serius sehingga harus dirawat inap selama satu malam. Keesokan harinya, aku langsung menjenguk laptopku. Kata dokternya sih, penyakitnya sudah sangat parah karena ternyata yang rusak adalah LCDnya. Aku pun langsung berniat memperbaikinya, tapi keinginan itu tiba-tiba hilang setelah sang dokter menyebutkan nominal biaya perbaikannya.
“ya kalau yang original sekita 800-900rb.an mbak”
What? Mahal banget, pikirku.
“hehehe…. Ga jadi deh mas… kapan-kapan aja” jawabku.

Setelah itu, nasibku jadi tak menentu. Memutar otak kesana kemari untuk mengerjakan tugas yang pastinya harus pake computer dan memenuhi kehausanku akan informasi dari dunia maya (hehe…maaf agak berlebihan). Pinjem temen pun tak bisa dijadikan alternative karena mereka juga pastinya punya tugas dan urusan yang harus dikerjakan. Pergi ke warnet? O… tidak bisa, itu bisa menambah cost yang pastinya bakalan ngurangin jatah makan bulan itu, hehe. Jadi, cara terakhir yang bisa ditempuh yang pastinya murah meriah adalah mengunjungi perpustakaan IPB tercinta. Sekedar pemberitahuan saja, perpustakaan IPB atau biasa disebut LSI (walaupun sampai saat ini aku tak tahu kepanjangan dari kata ini) adalah tempat kedua yang paling aku senangi dan sering aku kunjungi karena suasana dan fasilitasnya yang sesuai degan kriteriku, seperti tenang, sepi, sunyi, sejuk, penuh koneksi internet, penuh jendela dunia, dan tempat ibadah yang nyaman walaupun sempit. Terus tempat no. 1 apaan dong? Tunggu edisi selanjutnya aja ya, (sok sinetron, pake bersambung segala, hehe).

Dengan semangat mewujudkan perubahan yang tinggi, ku langkahkan kaki ini ke perpustakaan yang jaraknya cukup jauh dari kosanku, dengan harapan bisa menemukan computer nganggur di sana. Setelah sampai di TKP ternyata semua computer yang ada sudah bertuah. Tak ada satu pun yang nganggur. Okelah… mungkin bentar lagi ada yang pergi dari computer itu pikirku berpositif thinking. Aku pun duduk di sebuah sofa sembari memperhatikan computer-komputer yang ada dengan status siaga satu. Tik tok tik tok. Tak ada tanda-tanda mereka mau beranjak. Tik tok tik tok. Tetap tidak beranjak. Jangankan beranjak, bergeser dari tempat duduknya saja tidak kawan. Mereka benar-benar tak merasakan kegelisahanku yang mulai tak tahan menunggu. Baiklah, penantian ini harus segera diakhiri, aku pun teringat ruangan di perpustakaan ini yang penuh dengan computer dan tempat itu adalah cyber. Semangatku pun kembali membara… segera ku langkahkan kaki ini ke tempat itu yang ternyata berada di lantai 3. Dengan terseok seok ku naiki tangga demi tangga untuk mencapai tempat itu. Setelah perjalanan panjang akhirnya sampailah aku di cyber yang penuh dengan computer kosong berjejer. Mataku pun langsung berbinar melihat computer-komputer itu, ingin rasanya ku bawa pulang ke kosan, satu saja, hehe.

Menunjukkan kartu cyber pada petugas yang ada, duduk dengan hati berbunga-bunga dan mengatur nafas karena capek menaiki tangga tadi. Penjelajahan pun dimulai. Dunia maya… Iam coming… :D. Benar-benar menyenangkan hari ini, pikirku. Memang untuk mendapatkan sesuatu yang baik itu butuh perjuangan panjang, hihihi. Tiba-tiba…
“adek-adek… silahkan keluar, sudah waktunya istirahat (dengan kata lain, kosongkan tempat ini”
Apa bu? Ibu tau ga saya baru nyampe bu. Belum juga lima menit udah disuruh keluar. Taukah perjuangan saya untuk mencapai tempat ini? Berjalan dari kosan nan jauh di sana dan menaiki tangga yang bikin nafas terengah-engah ini, dan setelah sampai di tempat ini, ibu nyuruh saya keluar. Teganya…. (perhatian: kalimat ini hanya berputar-putar di otakku tanpa bisa aku keluarkan).

Dengan pasrah ku langkahkan kaki ini keluar ruangan. Memang timingnya kurang tepat. Apa pun itu jika timingnya kurang tepat akan bikin kita sakit hati atau minimalnya kecewa. Maka mulai sekarang cobalah untuk menentukan timing yang tapat dalam melakukan sesuatu karena akan benar-benar menetukan kebahagiaan atau kekecewaan yang akan kau dapatkan. Itulah hikmah yang ku dapatkan dari pengalaman yang ya… sedikit melelahkan, sedikit mengecewakan ini…tapi kalau diinget-inget lagi lucu juga, hehe. Tetap semangat, tetap sehat, tetap ceria, biar kita bisa tetap melalui hari-hari dengan timing yang tetap eh tepat, hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s