Penghargaan untuk Sebuah Pengakuan

Pengakuan, sebuah kata yang sampai saat ini belum ku ketahui kata dasarnya. Apakah berasal dari kata ngaku, aku, atau yang lainnya. Tak tahulah, yang ku tahu sebuah pengakuan adalah hal yang selama ini dicari oleh orang yang butuh akan pengakuan. Jadi, seberapa pentingkah sebuah pengakuan? Jika ‘sangat penting’ adalah parameter untuk strata tertinggi dari sebuah jawaban, maka akan ku jawab pengakuan itu sangat penting adanya. Jawaban ini bukan tanpa alasan, banyak fenomena selama ini yang menunjukkan betapa pentingnya sebuah pegakuan.

Kita telisik lagi kasus umat islam di Rohingya. Inti dari kejadian yang ada jika kita lebih cermat mengamatinya adalah masalah pengakuan. Etnis Rohingya adalah etnis minoritas yang tinggal di Provinsi Rakhine (dulu bernama Arakan), Myanmar Barat, berbatasan dengan Bangladesh. Etnis Rohingya bukanlah etnis asli dari Burma. Perawakan orang Rohingya sendiri lebih mirip orang Bengalis (Asia Selatan) seperti India dan Pakistan ketimbang orang Burma yang lebih mirip orang Asia Tenggara pada umumnya. Perbedaan etnis membuat orang Rohingya mendapatkan perlakukan diskriminatif, mereka tidak mendapatkan hak kewarganegaraan dan dianggap sebagai ilmigran gelap (ilegal). Etnis Rohingya sendiri sempat diperlakukan dengan keji semasa rezim militer berkuasa dan hal tersebut mendapat banyak kecaman dari dunia internasional.

Masalah yang dialami oleh Etnis Rohingya tidak hanya dengan pemerintahan Burma, negara tetangga yang dianggap sebagai asal mula etnis Rohingya yaitu Bangladesh juga tidak mau mengakui mereka. Setelah merdeka 7 tahun kemudian Bangladesh mendeklarasikan bahwa etnis Rohingya tidak dianggap sebagai warga negara, dan memilih untuk mengembalikan orang Rohingya ke Burma. Bangladesh yang masih berkembang tidak mau menanggung beban dari masuknya orang-orang Rohingya ke negara mereka sekalipun 89% dari penduduk Bangladesh adalah muslim. Orang Rohingya pun terlunta-lunta dan tidak jarang terdampar sampai ke perairan Indonesia karena tidak berani kembali ke Burma dan diusir oleh Bangladesh (http://grevada.com/islam/apa-yang-sebenarnya-terjadi-di-burma/). Dari kutipan cerita di atas, dapat kita bayangkan betapa pentingnya sebuah pengakuan. Tanpa pengakuan maka tak jelas kemana arah hidup kita. Hidup sih hidup, tapi hidup layaknya tak hidup. Karena banyak pihak yang menginginkan kita tak hidup. Begitulah hidup tanpa adanya pengakuan.

Satu peristiwa saja rasanya kurang valid jika dijadikan bukti bahwa pengakuan memang sangat penting adanya. Mari kita kaji kejadian yang dialami oleh negara kita sendiri. Pulau ambalat misalnya. Akar dari kejadian tersebut adalah masalah pengakuan. Pulau ambalat yang awalnya milik Indonesia tiba-tiba diklaim oleh Malaysia. Tapi, setelah berbagai banding yang dilakukan pemerintah Indonesia, terntaya yang dinyatakan berhak untuk mendapatkan pulau Ambalat adalah Malaysia. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Banyak bukti-bukti di TKP yang menunjukkan bahwa pulau itu memang sepantasnya milik Malaysia. Hal ini terjadi karena Indonesia tak pernah membuat pengakuan bahwa mereka mempunyai pulau ambalat. Tapi, berbeda dengan Malaysia. Mereka memang bukan pemilik pulau tersebut. Tapi, mereka telah melakukan pengakuan dengan membangun berbagai infrastruktur di sana. Walaupun pengakuan yang mereka lakukan di sini tak dibenarkan secara etika. Apalagi mengingat kita satu rumpun.

Mari kita persempit lagi ruang lingkup bahasan kita. Bayagkan saja, bagaimana sakitnya hati kita jika kita tak mendapat pengakuan dari orang tua kita bahwa kita adalah anak mereka. Hidup akan terasa tak tenang dan terombang-ambing. Memang tak kan terasa manfaat dari sebuah pengakuan jika kita telah mendapatkannya. Tapi, akan beda ceritanya jika kita belum mendapatkannya. Bisa kita lihat di sinetron-sinetron yang selama ini menghiasi layar kaca di negeri kita. Berapa banyak judul sinetron yang mengangkat parihal pentingnya sebuah pengakuan. Berliter-liter air mata yang mereka keluarkan untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang anak, misalnya di sinetron “putri yang tertukar”, “anakku bukan anakku”, dan masih bayak lagi yang lainnya.

Kasus pengakuan yang menarik untuk kita kaji lagi adalah pengakuan tentang perasaan. Secara pribadi saya sampaikan pengahargaan setinggi-tingginya untuk orang-orang yang berani melakukan pengakuan tentang perasaan yang mereka miliki terhadap orang lain. Betapa tidak? Tak sedikit orang yang sangat malu mengakui perasaan mereka. Jangankan melakukan pengakuan untuk orang yang bersangkutan. Melakukan pengakuan pada diri sendiri saja sangat sulit dilakukan, dan hal ini terjadi pada diri saya pribadi (maaf ya curcol, hehe). Tapi bukan berarti setiap perasaan harus dilegalisasi dengan adanya pengakuan. Pengakuan memang penting, tapi jika itu berkaitan dengan orang yang memang belum halal buat kita. Cukuplah lakukan pengakuan untuk diri sendiri. Jika perasaan itu memang sudah tak dapat dibendung, lakukanlah pengakuan pada DIA yang maha agung, yang mempunyai segalanya, yang mempunyai perasaanmu dan perasaannya. Mintalah padanya. Hanya padaNyalah kau bebas meminta apa pun yang kamu mau, termasuk persaannya. Pun hanya DIA lah yang akan memberikan penghargaan dan solusi yang super ampuh untuk setiap pengakuan yang kamu lakukan. Ga percaya? Coba lakukan, dan rasakan perbedaannya. Jadi, mulailah lakukan pengakuan, entah itu pengakuan kesalahan, pegakuan dosa, maupun pengakuan akan perasaan yang tengah kau rasakan selama ini.

Advertisements

2 thoughts on “Penghargaan untuk Sebuah Pengakuan

  1. pengakuan itu,..menurutku adalah suatu kata yg bermakna aku memiliki sesuatu. Jadi fokusnya pada aku. peng aku an. tujuannya seperti pernyataan yang aku punya. he….kalo orangnya jamak dg satu tujuan, kayanya jadi pengamian. hahaha….

    • hahahaha…. baru tahu ada kata ‘pengamian’ walaupun sedikit maksa kayaknya

      ga tau lah mbak apa pun itu kata dasrnya, yang pasti pengakuan itu sangatlah penting adanya… apalh arti sebuah kata dasar… tapi penting juga ya heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s