Tersesat di Jalan yang Benar

Tulisan ini sengaja ku tulis pada hari kamis, tepatnya malam jumat jam setengah dua belas malam. Suasananya agak horor ya (hihihi). Tapi tenang aja, yang bakalan ku ceritain di sini ga serem kok, dijamin deh. Jadi, baca sampe akhir ya (hehe #modus). Ga tahu kenapa, malem ini pengen banget ‘ga cukup pengen aja’ mosting tulisan di blog. Bela-belain ga belajar buat UTS besok, padahal besok ujian Genetika untuk Pemuliaan Tanaman, mata kuliah yang paling ku suka di semester ini. Bela-belain juga nahan pusing nih demi mosting tulisan ini. Pusing? Ya pusing, akhir-akhir ini aku tuh sering pusing kalo makan sesuatu yang berbau daging dan kafein, kayaknya sih ciri-ciri darah tinggi. Naudzubillah, masih muda kok udah darah tinggi, belum nikah juga (hehehe #modus lagi). Balik ke topik awal, mulai aja ya ceritanya.

Tersesat di jalan yang benar. Sebuah kalimat yang sepertinya tidak cocok untuk disandingkan bersama karena keduanya bermakna kontradiksi. Tapi menarik untuk dikaji. Mengapa kontradiksi? Mari kita pahami kata demi kata. Tersesat, ya yang namanya tersesat berarti kan suatu keadaan dimana kita berada di jalan atau tempat yang salah atau tempat yang tidak kita inginkan. Nah ketika kata ‘tersesat’ ini kita sandingkan dengan kalimat ‘di jalan yang benar’ maka akan terbentuk suatu paduan kalimat yang terkesan melawan arus dan membuat orang tertarik untuk mendengarkan penjelasan selanjutnya tentang kalimat ini. Begitu pula denganku. Ketika pertama kali aku mendengar kalimat ini, sontak aku mengernyitkan dahi. ‘Tersesat di jalan yang benar? Emang ada?’ batinku, dan ternyata hal inilah yang sepertinya terjadi padaku. Ya, tersesat di jalan yang benar. Mau tahu cerita selanjutnya? Nostalgia dulu yuuuk. 🙂

Ketika itu, HPku berbunyi dan ku baca SMS yang masuk. Isinya kurang lebih seperti ini “Dit, selamat ya, kamu lulus STAN –Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-”. Mataku pun langsung melotot? Demi apa? Beneran ni? Aku pun teringat pada try out STAN yang aku ikuti kemarin. Yah… coba ini tes yang beneran ya, batinku. Ternyata dari kelasku ada lima orang yang dinyatakan lulus try out STAN yang kemarin diadakan di sekolahku. Memang ga ada pengaruhnya sih sama ujian aslinya, tapi setidaknya kan ada gambaran lah buat ujian yang sebenarnya. Seneng? Pasti lah, karena memang rencanaku sejak awal aku ingin memasuki sekolah tinggi ini. Persiapan? Persiapan yang aku siapkan adalah sebuah buku panduan STAN yang sengaja ku beli di sebuah toko buku di Surabaya. Walaupun aku tak sampai les sana sini untuk mengikuti ujian masuk STAN, karena memang orang tuaku lagi tak ada uang lebih waktu itu. Jadilah buku itu jadi makanan sehari-hariku menjelang ujian tes tulis memasuki STAN.

Aku juga mendaftar di IPB kala itu dan diterima di jurusan yang menjadi pilihan pertamaku. Seneng? Pastinya. Tapi, entah mengapa aku belum bisa melupakan impian awalku untuk masuk STAN. Jadilah aku seorang anak yang munafik (ga juga sih –membela diri-), luarnya IPB padahal hatinya ke STAN. Tibalah waktu keberangkatanku ke IPB dengan STAN yang masih di hati dan masih dinanti. Strategiku kala itu, mengikuti perkuliahan awal (matrikulasi di IPB) sembari menunggu pengumuman tes tulis yang ku ikuti. Kalau diterima nantinya, aku tinggal move on deh ke Jakarta, kan jarak Bogor ke Jakarta deket tuh. Pikirku kala itu (licik ya, hehe). Semua prosedur yang ada di IPB ku ikuti dengan baik, masuk asrama, ikut matrikulasi, tapi masih dengan setengah hati karena jujur hatiku sudah terpaut di STAN. Aku pun sangat akrab dengan semua teman sekamarku yang berasal dari Tuban dan Palembang. Aku juga menceritakan perihal STAN pada mereka. Dan hari itu pun tiba. Hari dimana pengumuman STAN yang selama ini mengganngu tidurku.

Hari itu pikiranku hanya dipenuhi oleh pengumuman STAN, tak ada yang lain. Paginya aku mengikuti kuliah dan ternyata hari itu pembagian nilai matrikulasi kimia yang aku ikuti. Aku tak berharap banyak pada nilai ujian itu karena memang aku ngerjainnya setengah hati karena setengah hatiku yang lain terpaut di STAN (hahaha). Ketika nilaiku dibagikan ternyata di luar dugaan awalku, ternyata aku mendapatkan nilai A untuk matrikulasi kimia yang merupakan mata kuliah yang lumayan sulit –katanya-. Perasaanku pun mulai ga enak. Kenapa kabar baik harus datang dari hal selain pengumuman STAN. Padahal hari itu aku hanya mengharapkan kabar baik dari pengumuman STAN yang akan aku lihat. Baiklah, mungkin ini salah satu kabar baik pelengkap. Pikirku berbaik sangka.

Tanpa banyak ba bi bu. Langsung ku langkahkan kaki ke warnet terdekat untuk melihat pengumuman STAN. Waktu itu susah banget buat buka pengumumannya karena memang banyak sekali orang yang mengakses pengumuman itu. Setelah perjuangan panjang, akhirnya pengumuman itu terbuka juga. Aku baca satu per satu, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, ke bawah lagi, ke atas lagi. Nama yang ku cari tak tercantum di pengumuman itu. Dan itu artinya aku tak diterima kawan. Hancur rasanya hati ini kala itu. Bagai cinta bertepuk sebelah tangan, sakit banget ga cukup sakit aja –lebay sih ya, hehe. Aku pun meninggalkan warnet itu dengan setengah hati yang kosong menuju asrama TPB IPB tempatku bernaung selama ini. Kala itu sedang ada acara gathering untuk para mahasiswa baru –termasuk diriku- sehingga suasana di jalan menuju asrama sangat ramai tapi tidak dengan perasaanku. Sepi, sunyi, seperti tak berpenghuni. Aku merasa sepi dalam keramaian yang ada –majas metafora kalo ga salah, hehe-.

Sampai di kamar aku pun duduk di meja belajarku. Merenungi semua yang terjadi. Semua teman sekamarku sedang mengikuti gathering yang ku ceritakan tadi sehingga suasana kamar sepi dan cocok banget buat muhasabah diri –ceile bahasanya :)-. Ketika sedang asik introspeksi diri, pintu kamarku terbuka tiba-tiba dan ternyata teman-temanku udah dateng dan langsung berebut nanyain pengumuman “gimana Dit pengumumannya?” “ga diterima” jawabku memelas. “Alhamdulillah” jawab mereka bersamaan. Lho kok? Pikirku. Orang ga diterima kok Alhamdulillah. Ternyata usut punya usut mereka dari awal memang berharap agar aku ga diterima di STAN biar mereka bisa bareng sama aku terus kan kita udah kadung akrab –hehehe-. Lagipula mereka merasa aku lebih cocok di IPB daripada di STAN.

Awalnya aku tak bisa menerima pernyataan itu. Tapi seiring berjalannya waktu, perlahan aku mulai bisa membuka hati untuk IPB dan mengambil separuh hatiku yang udah kadung terpaut di STAN. Susah sih, tapi bukan berarti ga bisa kan?. Memang benar kata orang, cinta itu bisa hadir dengan berjalannya waktu dan lamanya kebersamaan. Jadi, menurutku ga ada tuh yang namanya cinta mati, cinta buta, dan cinta cuma sama dia aja. Yang ada itu, cinta adalah lamanya kebersamaan. Makin lama bersama, makin dalamlah cinta itu. Kebersamaanku dengan IPB membuatku lambat laun menyukai dan mencintai IPB yang memang pantas dan layak untuk dicintai. Di sini atmosfernya enak banget buat menempa diri menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Di sini aku bertemu dengan orang-orang hebat dari seluruh negeri, kumpulan putra-puteri terbaik bangsa. Maka tak salah jika pernyataan ‘tersesat di jalan yang benar’ sangat cocok dengan hal yang ku alami. Ya iyalah, karena Allah tak pernah membarikan apa yang hambanya inginkan tapi memberikan apa yang hambanya butuhkan. Jadi inget ayat ini, Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55]:55). Terima kasih ya Allah telah menyesatkanku di jalan yang benar ini :).

Advertisements

6 thoughts on “Tersesat di Jalan yang Benar

  1. untuk orang yg memiliki target seperti itu (STAN-pada contoh ini), pastilah hatinya akan terus padanya, hingga melupakan apa yg telah jatuh menjadi rizqinya (IPB). hikmhanya: cintai dan bencilah sesuatu sewajarnya.. >>> jgn memaksakan skenario langit yg kita tdk tahu jalannya.

    tapi beda cerita untuk orang yg tidak ada bayangan target dalam dirinya (benar2 tidak tahu). alternatif yg akan diambilnya pastilah mengikuti kata hati kecilnya. (mengambil ITP-IPB yg baginya adalah blind side). trusting in blind side although so hurt.hurt! kenapa??? >>> karena semua yg diawali dengan nama Allah di dalamnya, dan hal itu terjadi, percayalah itu adalah yg terbaik.

    simpulannya : hati yg selalu menyertai nama Allah di tiap sisinya, insya Allah tidak akan salah. tapi hati yg terkontaminasi (walaupun sedikiiit saja) oleh ambisi manusiawi, rawan untuk dibisiki setan.

    hati bisa salah dan benar, karena dia adalah makhluk rawan yg mudah untuk dibolak-balik. bawalah Allah kemanapun kita pergi sebagai penolong satu2nya.. 🙂

  2. bener banget mbak, keinginanku pas mau masuk STAN dulu sepenuhnya -kalo boleh jujur- terkontaminasi oleh ambisi duniawi. untung ya… Allah ga mengabulkan keinginanku buat masuk STAN. bisa-bisa bakalan muncul Gayus baru, hahahahah :D. tapi bukan berarti yang masuk STAN itu bakalan jadi Gayus lho. maksudku itu mereka yang diterima di STAN pastilah orang-orang yang hebat dari segi intelektual dan keimanan. makanya orang sepertiku yang masih terkontaminasi sama duniawi ga diterima, hahaha 😀

    aku mencoba untuk mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa sesuatu yang kita lakukan itu hendaknya diniatkan sepenuhnya untuk mencari ridho Allah bukan yang selainnya.
    ga nyesel deh tersesat di jalan yang benar —-> kayaknya kamu juga deh mbak (di ITP, hahahah :D)

  3. Mengenang masa lalu iki ceritanya,,,,hehe
    membaca tulisa diatas,,,teringat firman Allah dalam surat Al Baqarah 216

    “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

  4. iya mam nostalgia, hehehe
    karena itu seharusnya tak sepantasnya kita menyesali apa yang telah kita lakukan karena pada akhirnya semua itu memanglah yang terbaik buat kita 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s