Analogi Cinta dengan Kuaci

2

Akhir-ahkhir ini ada kebiasaan yang suka kulakukan ketika ada waktu senggang, apakah itu? Yup, menjelma seperti seekor hamtaro yang suka makan kuaci. Kebiasaan ini berawal dari salah satu organisasi yang ku ikuti yang mengharuskan setiap anggotanya membawa barang danusan, salah satunya adalah kuaci. Ku putuskan untuk membawa satu plastik kuaci yang isinya 20 bungkus, dengan harga jual 2 ribu rupiah untuk tiga bungkus. Ku letakkan kuaci itu di atas kulkas dengan harapan setiap penghuni kontrakan yang ada mau membeli kuaci-kuaci itu. Tapi, setelah beberapa hari kuaci itu ku letakkan, tak ada yang menyentuhnya apalagi membelinya. Akhirnya ku putuskan untuk mengonsumsinya sendiri.

Tak disangka, ternyata banyak sekali pelajaran yang ku dapatkan mulai dari proses mengupas kulit kuaci hingga memakannya. Salah satu pelajaran hidup yang ku dapatkan dari kuaci adalah pelajaran tentang kesabaran dan menahan hawa nafsu. Saat kita mengupas kuaci pasti tak dapat dipungkiri ada keinginan yang membuncah untuk segera memakannya. Tapi, aku punya cara lain dalam menikmati kuaci ini. Ku kupas semua kuaci yang ada kemudian ku makan setelah semuanya terkupas. Kalian bisa membayangkan apa yang ku rasakah? Kenikmatan luar biasa dari kumpulan kuaci yang ku makan yang pastinya rasanya jauh lebih nikmat dari pada mengupasnya dan langsung memakannya satu per satu. Memang tak dapat dipungkiri, sangat sulit menahan hawa nafsu untuk tidak memakan kuaci-kuaci itu, tapi berkat prinsip yang kuat, aku bisa melewati semua cobaan-cobaan itu.

Teman, tak sadarkah kalian kalau kejadian mengupas dan memakan kuaci itu dapat dianalogikan dengan kebiasaan para pemuda dan pemudi yang sedang mencari makna dari kata yang paling terkenal se jagad raya, sepanjang masa, sepanjang sejarah umat manusia, yaitu “CINTA”. Jika cinta kita analogikan dengan kuaci, maka akan jadi begini ceritanya. Mengupas kuaci dan langsung memakannya adalah pacaran sedangkan mengupas semua kuaci yang ada dan memakannya di akhir adalah menikah. Pacaran merupakan bentuk kekalahan kita terhadap hawa nafsu yang ada. Ketika kita sudah memutuskan untuk pacaran, yang artinya langusung memakan kuaci setelah mengupasnya, maka kita sudah kehilangan kesempatan untuk merasakan kenikmatan luar biasa yang akan kita rasakan ketikan memakan kuaci setelah semuanya terkupas (dalam hal ini menikah). Memang benar, ada rasa nikmat ketika kita langsung memakan kuaci yang kita kupas tapi itu hari sekian detik aja, sejenak, sebentar, sementara, semu, dan tak abadi. Tapi akan beda ceritanya jika kita melewati semua proses mengupas kuaci yang ada, menahan hawa nafsu ketika proses mengupas berkangsung, dan memakan kuaci yang telah terkupas di akhir maka akan ada rasa nikamat luar biasa, konkret, nyata, dan abadi yang akan kita rasakan begitu pula dengan menikah. Jadi teman, pilih mana? Kenikamatan yang semu apa yang abadi? The answer present ini your heart. Hidup itu pilihan, ketika kita bijak dalam memilih pilihan hidup, maka itulah sebenar-benarnya kehidupan.

Tulisan ini dibuat hanya untuk saling mengingatkan, tidak ada maksud untuk menyinggung golongan tertentu atau meninggikan golongan yang lainnya. Karena bukanlah kapasitas saya untuk menghakimi tindak tanduk seseorang. Satu kalimat yang menginspirasi saya minggu ini: “pandanglah manusia sebagai manusia, jangan pandang sebagai malaikat apalagi binatang karena pada dasarnya manusia itu punya jatidiri keislaman dalam dirinya”.

Advertisements

2 thoughts on “Analogi Cinta dengan Kuaci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s