Kontak Batin itu Benar Adanya

1303521999331042478Mendengar kabar gembira dari seorang teman suatu sore. Ternyata temanku ini mendapat hibah ikan nila mas merah dari seorang mahasiswa dermawan -sebut saja hamba Allah-. kita berdua pun janjian dengan hamba Allah itu untuk melakukan serah terima ikan nila mas merah. setelah sampai di tempat tujuan, terjadilah serah terima ikan nila mas merah yang sebelumnya dijanjikan. ikannya ternyata masih hidup dan sebagai seorang chef amatiran akhirnya kita putuskan untuk membiarkan ikan tersebut sampai nanti ajal yang menjempu mereka. setelah sekian lama didiamkan dalam plastik tanpa oksigen, akhirnya ikan-ikan itu menemui ajal mereka. maka kita pun bersiap-siap untuk melakukan eksekusi. satu masalah lagi muncul, kita berdua tak tahu bagaimana cara memberihkan ikan-ikan itu. nah, untungnya di kontrakan ada mahasiswa jurusan perikanan yang pasti sudah tak asing lagi dengan yang namanya ikan. kita pun meminta bantuan si mahasiswa perikanan itu untuk melakukan eksekusi. sret-sret-sret…. satu ikan bersih seketika. sisanya aku yang melanjutkan. ternyata membersihkan ikan tak segampang yang ku pikirkan, ditambah lagi pisau yang kugunakan tak begitu tajam, tapi halangan dan rintangan ini tak akan menyurutkan semangatku untuk menjadi seorang chef profesional #apasih. satu per satu ikan ku eksekusi, darah berceceran dimana-dimana, tiba-tiba rasa pusing yang tiada terkira menyerangku, seperti dunia berputar, mual, adapa ini-adapa ini, pikirku
“eh… aku kok pusing banget ya….apa aku ga kuat berdiri lama-lama ya?” tanyaku pada partner chef ku
“kamu kenapa dit?” tanyanya cemas
“ga tahu nih, tiba-tiba pusing banget, muter-muter, mual. apa aku putri ikan ya? iya kali ya, jadi aku ga boleh nyiksa ikan, hahahaha” jawabku
“ih… apaan sih. ya udah kamu udahan aja, biar aku yang ngelanjutin”
“ga ah, aku sambil duduk aja bersihinnya, siapa tahu mendingan”
Continue reading

Advertisements

Pertemuan dengan Seorang Imam

images

—–tiga tahun lalu, bogor, jawa barat—-

Dengan langkah terburu-buru ku langkahkan kaki ke lobi asrama. tak lupa pula ku ajak teman-teman sekamarku untuk juga ikut bersamaku ke lobi untuk melaksanakan sholat taraweh perdana di asarama. semangat sekali rasanya taraweh kali ini, karena taraweh ini adalah taraweh perdanaku di asrama TPB IPB, di kota hujan, bukan di pulau garam lagi. sesampainya di lobi ku pilih tempat terbaik menurutku. shaf demi shaf telah terisi oleh para penghuni asrama yang jumlahnya tak sempat ku hitung, yang pasti puluhan mungkin lebih dari 100 orang. shalat taraweh pun segera dimulai. imamnya seorang mahasiswa baru juga sepertiku, ya mahasiswa baru. rasa kagumku pun seketika muncul pada anak itu dan ketika sholat taraweh dimulai rasa kagum ini semakin besar. berani sekali ya anak baru itu, pikirku. membayangkan diri ini berdiri di sana saja rasanya tidak berani, ya harus ku akui, jadi imam di kamar asarama saja membuatku ketar-ketir apalagi menjadi imam sholat taraweh satu asrama yang diikuti oleh puluhan mahasiswa. terbesit keinginan untuk berkenalan dengan imam itu, ya harus. setelah sholat taraweh akan ku hampiri imam itu dan akan aku ajak berkenalan, pikirku. rakaat demi rakaat pun dilaksanakan dan shalat taraweh pun akhirnya selesai. segera ku bergegas untuk menghampiri imam itu, tapi karena semua mahsiswa yang ada ingin segera bergegas kembali ke kamar maisng-masing, aku harus berjuang untuk samapai ke shaf paling depan. ketika sampai di shaf terdepan, ternyata imam itu sudah tak berada di tempatnya. ternyata dia telah kembali ke kamarnya. sempat terbesit rasa kecewa karena tak bisa berkenalan dengan imam itu. tak apalah, mungkin di lain watu bisa bertemu dengannya, pikirku.
Continue reading