Kehororan Tingkat Akhir Part 1

hqdefaultEntah apa alasannya, kenapa judul itu ku beri part 1, itu artinya akan ada part-part selanjutnya. Entahlah, mungkin ada mungkin juga tidak. Kita lihat saja nanti. Tulisan ini dibuat dalam rangka menumpahkan segala rasa yang ku rasakan terkait tingkat akhir, karena sudah tak tahu lagi harus ku tumpahkan kemana lagi rasa ini. Teman-temanku mungkin sudah bosan dengan segala keluh kesah, rintihan, curhatan tentang kehororan tingkat akhir yang sering aku lontarkan. Maka selain pada sang pencipta, pada tulisan lah ku tumpahkan segala yang ku rasa terkait kehororan tingkat akhir.

Horor, ya kata itulah yang mungkin bisa menggambarkan suasana perkuliahan yang aku rasakan sekarang. Mungkin bagi yang lain agak berlebihan, kalau dipikir-pikir iya juga sih, tapi kata inilah yang menurutku paling pas. Mulai dari skripsi, dunia kerja, pasangan hidup, semuanya yang dulunya abu-abu sekarang semakin menunjukkan jati diri mereka. Nah, di part 1 ini akan lebih ku tekankan terkait skripsi. Ya skripsi. Mendengar kata yang satu ini, menandakan sebentar lagi aku akan menjadi seorang sarjana biokimia IPB. Tapi sampai saat ini belum ada kepastian penelitian apakah yang harus aku ambil untuk menyelesaikan masaku di biokimia ini. Hal yang pasti aku akan mengambil penelitian terkait metabolisme.

Terkait masalah skripsi, ada satu hal yang aku pilih di antara dua pilihan yang ada, idealisme dan realita. Awalnya, aku berniat untuk mengambil proyek dosen untuk menuntaskan skripsiku, agar lebih mudah dan lebih cepat lulus pikirku kala itu. Tapi, ketika mengikuti PIMNAS di mataram kemarin, aku mengobrol dengan seorang dosen yang menurutku WOW yang langsung meruntuhkan semua rencanaku terkait proyek dosen. Pesan dari dosen itu kurang lebih seperti ini, beliau paling haram memberikan proyek pada anak bimbingannya, karena akan membatasi kreativitas mahasiswa dalam berinovasi. Menurut beliau, tak akan ada bedanya seorang sarjana dan seorang tekhnisi jika hanya mengerjakan proyek dosen. Karena kreativitas dan inovasi dalam pencarian idelah yang membedakan kita dengan mereka, jika proses itu telah diambil oleh dosen kita. Maka akan sama saja kalian dengan yang lain.

Pulang dari Mataram, telah ku bulatkan tekad untuk mencari ide sendiri terkait skripsiku, pun demikian dengan dananya, akan aku buat proposal PKM (program kreativitas mahasiswa) untuk menutupi dananya. Akan tetapi, semua rencana ini kembali runtuh ketika ku hadiri sebuah pertemuan yang diadakan oleh perhimpunan beasiswa yang ku dapatkan. Dosen yang menjadi pembicara dalam acara itu memberikan pemaparan yang kurang lebih seperti ini. Beliau mengerti jika setiap mahasiswa yang akan menulis skripsi menginginkan skripsinya menjadi sebuah masterpiece. Akan tetapi, belaiau juga menekankan bahwa aku dan teman-teman yang lain yang mendapatkan beasiswa ini hanya punya waktu 4 tahun untuk mendapatkan beasiswa ini, jika lebih dari itu maka kita harus membayar sendiri. Beliau menekankan bahwa seorang sarjana itu yang paling penting adalah keterampilan dan pengetahuan yang sebenarnya tidak terlalu spesifik, jika kita benar-benar ingin mendalami bidang kita, maka lanjutkanlah ke jenjang S2 maupun S3, maka di sanalah tempat yang paling tepat untuk kita mengeksplore sesuatu secara lebih terperinci.

Idealisme dan realita ini membuatku bingung dan semakin bingung, manakah yang harus aku pilih? Proyek dosen ataukah ide sendiri? Tak tahulah, sebenarnya hal yang paling membuatku takut adalah rasa malas yang akhir-akhir ini menyerangku. Membuatku tak hanya malas untuk memikirkan ide melainkan juga untuk kuliah dan mengerjakan hal yang lain. Jika sudah begini, tidur menjadi satu-satunya pilihan yang paling ampuh untuk lari dari semua ini. Benar-benar horror bukan? Beginilah jika sudah tingkat akhir. Kalimat inilah yang sedikit menghiburku untuk terus menjalani hari-hari horror ditingkat akhir ini,

“jika semua ini terlalu mudah, maka tak kan ada kesan yang tertinggal.
Jika semua ini terlalu mudah, maka tak kan ada kenangan yang tertinggal.
Jalani semua, bertahan, maka kesan dan kenangan itu akan indah untuk dikenang nantinya.”

Advertisements

2 thoughts on “Kehororan Tingkat Akhir Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s