Sudah Saya Putuskan

casablanca-coffeeJauh-jauh hari merencanakan sesuatu, tiba-tiba batal pada hari yang telah ditetapkan, apa yang kau rasakan? Kesal? Jelas, kecewa? Pasti, sedih? O… jangan ditanya, pengen nangis sambil garuk-garuk tembok? Nggak juga sih, hehehe. Nah, begitupun yang aku rasakan ketika tanpa sebab dan alasan yang jelas salah seorang temanku membatalkan rencana yang telah jauh-hauh hari kita buat untuk mengunjungi salah satu tempat petualangan yang akan kita jelajahi. Kita berlima berencana akan ke curug 1000 yang katanya nih medannya berat, berliku, dan penuh lika-liku. Tempat ini kita pilih untuk pemanasan sebelum kita mendaki puncak tertinggi pulau Jawa, Mahameru (tsah… tiba-tiba inget film 5 cm). Satu dari teman kita (sebut saja Utari) ternyata tidak bisa ikut karena masih ada ujian. Ketidakikutsertaan teman kita yang satu ini bisa kita maklumi, iyalah… ini menyangkut akademik, masa depan mameeen, #apasih hahaha.


Nah, satu hari sebelum keberangkatan, tiba-tiba satu lagi teman kita (sebut saja Arya, sang Mbah) yang merupakan pencetus ide katanya ga bisa ikut. Ketidakikutsertaannya membuat rencana petualangan ini menjadi amburadul, masalahnya nih bocah adalah juru kunci ke tempat tujuan, hanya dia satu-satunya yang tahu tempat itu. Aku dan satu temanku yang lain (sebut saja Ulfi, si bocil) yang notabene paling nggak bisa nahan emosi, langsung ngedumel nggak karuan. Yah… tapi apalah daya kalau orangnya sudah tak berminat, mau gimana lagi. Berhubung kita pengen pake banget nih ke tempat itu, akhirnya kita berdua membujuk mbak Dila (my twin sister) yang paling bisa nahan emosi buat ngebujuk atau lebih tepatnya memaksa si mbah Arya. Setelah pertarungan sengit lewat SMS, akhirnya mbah Arya menyerah dan bersedia untuk memandu kita ke tempat tujuan.

Paginya, kita menyewa motor. Tapi, ada awan hitam yang menyelimuti wajah si mbah Arya. Keliahatan banget kalau dia amat sangat terpaksa mengantar kita. Suasananya jadi benar-benar tidak enak, sangat amat tidak enak malah. Emang iya sih, kita berhasil membujuknya untuk ikut, tapi apalah artinya keuikutsertaan raga tanpa ikut sertanya jiwa? (tsah… hahaha). Sepanjang perjalanan aku merenung, benar-benar sesuatu yang dipaksakan itu tak benar dan tak baik adanya, apapun itu, pun demikian dengan perasaan (lho… kok jadi ke sini bahasnya? Emg bahasannya mau ke sini, wkwkwk :P).

Nah gini, ketika kita suka akan sesuatu maka suatu hal yang wajar dan lumrah jika kita ingin memilikinya. Tapi, jangan sampai karena keinginan yang berlebihan, kita melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya, salah satunya dengan pemaksaan, pun demikian dengan menyukai seseorang. Toh, kalaupun nantinya seseorang itu menjadi punya kita, yang ada hanyalah raganya tidak dengan hatinya. Karena si dia ada tanpa hati, maka yang akan jadi gantinya tak lain dan tak bukan adalah hati kita. Ya… maka tiap waktu kitalah yang akan menggantikan hatinya dengan hati kita, yang berarti kita harus korban hati. Bayangkan kawan, tiap detik kita harus makan hati demi mempertahankan kehadirannya. Pasti akan sangat tidak enak, aku aja nih yang maksa mbah Arya (bukan hatinya) buat ikut jalan-jalan, sumpah suasananya ga enak banget, makan hati apalagi memaksakan hati, sumpeh sampe tumpeh-tumpeh ga enak banget (hehe).

Maka setelah perenungan panjang dari kosan ke curug 1000 (jauh lo), aku putuskan untuk tidak pernah dan tidak akan pernah memaksakan jalan cerita yang berkaitan dengan hati. Karena kalo kata Dee di perahu kertas nih “hati itu dipilih, bukan memilih” pun demikian “wanita itu ditakdirkan untuk dicintai bukan mencintai” #eaaa. Masalahnya, aku ini dicintai nggak ya? Dicintai lah, lihat tuh…nun jauh di sana ada orang yang amat sangat mencintaimu, yang tak pernah lupa menghadirkan namamu di setiap doanya, yang selalu khawatir akan kesehatannmu, dan tak sedetik pun tak memikirkanmu. Yang tanpa kau paksa pun, dengan rela hati memberikan hatinya untukmu, utuh. Dia itu… ibumu yang tadi malem menelponmu karena rindu saking jarangnya kau hubungi, #Tiba-tibaHomesick. Jadi, buat apa memaksakan hati kalau harus korban hati, kalau aku sih nggak mau, kamu? Hahaha 😀

Advertisements

2 thoughts on “Sudah Saya Putuskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s