Kehororan Tingkat Akhir Part 2

kreativiti-kartun-lukisan-jari19Ada rasa sesal kenapa dulu harus aku beri kata ‘part’ pada judul tulisan ini. Konsekuensinya adalah akan ada part-part selanjutnya yang pastinya akan berisi hal-hal tidak enak yang akan aku rasakan terkait tingkat akhir. Pun demikin kenapa judulnya harus ‘kehororan tingkat akhir’ kenapa bukan ‘indahnya tingkat akhir’ yang artinya akan menceritakan hal-hal indah yang ku alami selama tingkat akhir ini. Yah… nasi memang telah menjadi bubur, jadi hal yang harus ku lakukan adalah dengan mengubah bubur itu menjadi bubur ayam biar lebih berkelas dan lebih nikmat tentunya untuk disantap (kok tiba-tiba jadi pengen bubur ayam, hehe).

Jika sebelumnya aku berbicara masalah idealisme dan realita. Maka bahasan kali ini ku fokuskan pada realita. Karena idealisme itu sementara ku simpan dalam lemari dan untuk sementara ku kunci agar tak bisa keluar sampai skripsiku selesai. Ya, akhirnya ku putuskan untuk mengambil proyek dosen, yang artinya mengesamping idealisme ku untuk berkarya dengan ide sendiri. Tapi, bukan berarti aku akan biasa-biasa saja dalam melakukan proyek ini. Karena jalan ini telah ku pilih, jalan realita, maka akan ku bungkus realita ini dengan semangat dan kerja profesional yang penuh #hahaha.


Sekedar gambaran saja, departemenku menjuruskan mahasiswa tingkat akhir ke dalam tiga bidang yang lebih spesifik, yaitu metabolisme, biologi molekuler, dan biologi analisis. Tanpa sebab yang jelas, hatiku telah dicondongkan pada metabolisme. Pun demikian dengan dosen pembimbing, aku telah bertemu dan memperkenalkan diri pada beliau, bapak Waras Nurcholis. Teman seperjuanganku di bawah bimbingan pak Waras ada 6 orang. Topik penelitian pun telah kami bagi rata. Grup FB tempat kita berkeluh kesah bersama telah ku buat, timeline juga telah kita buat bersama, hingga waktu akan wisuda pun telah kita tentukan. Semuanya telah terencana dan terprogram dengan baik. Kita bertujuh telah menjadi tim yang kompak. Lantas dimana letak kehororannya? Jika semuanya telah begitu terencana dengan rapi?

Kehorarannya baru tadi malam aku temukan. Yang tak lain dan tak bukan terletak pada topik penelitian yang ku ambil. Dari tujuh penelitian yang pak Waras tawarkan, dua penelitian secara in vivo (menggunakan hewan model, biasanya pake mencit–>tikus putih) dan lima penelitian lagi secara in vitro (tidak menggunakan hewan model). Entah angin apa yang tiba-tiba mendorongku untuk memilih penelitian secara in vivo. Lebih lengkapnya, penelitianku mengenai uji teratogenik ekstrak nanopartikel curcuminoid temulawak. Teratogenik merupakan kelainan yang dialami oleh ibu hamil yang dapat menyebabkan cacatnya janin ketika lahir. Uji teratogenik ini menjadi sangat populer karena adanya obat Thalidomide yang menyebabkan banyak kelahiran cacat di Eropa. Oleh karena itu, senyawa obat sebelum dilepaskan ke pasar harus melewati uji ini. Pun demikian dengan ekstrak nanopartikel curcuminoid temulawak. Kalau masalah membedah dan mengambil darah tikus, ada…lah keberanian dalam diri ini karena sebelumnya memang sudah berkali-kali praktikum dengan menggunakan tikus. Tapi, uji teratogenik? Tak tahulah, belum sempat membaca metode untuk uji ini.

Setelah tadi malam aku membaca beberapa literatur terkait uji teratogenik, kagetnya bukan main saudara-saudara. Di sinilah letak kehororannya. Benar-benar horor sehoror-horornya. Bayangkan saja, untuk melakukan uji ini kita harus membuat mencit betina yang kita gunakan agar hamil. Tak hanya sampai di situ, setelah hamil, tikus-tikus itu harus dibedah dan dikeluarkan janinnya untuk melihat adakah ketidaknormalan yang dialami oleh anak-anak tikus itu. Sebagai seorang wanita yang nantinya juga akan punya anak, sungguh tidak tega diri ini membedah tikus dalam keadaan hamil. Lantas, apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus lari ke pantai lalu ke hutan?. Tidak kedua-duanya mungkin, karena harus ku hadapi tantangan ini. Walaupun diri sendiri juga ragu ‘bisakah?’. Kembali pada kalimat ini lagi,

“jika semua ini terlalu mudah, maka tak kan ada kesan yang tertinggal.
Jika semua ini terlalu mudah, maka tak kan ada kenangan yang tertinggal.
Jalani semua, bertahan, maka kesan dan kenangan itu akan indah untuk dikenang nantinya.”

Advertisements

2 thoughts on “Kehororan Tingkat Akhir Part 2

  1. Asik.jadi inget potongan AADC “Kulari kehutan kemudain sepiku..kulari ke pantai kemudian teriaku…..Haruskah aku lari ke hutan lalu ke pantai”. Coba diskusi dengan peneliti perempuan senior yang kamu percaya..pasti akan dapat jawabannya. Saranku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s