Cita-cita dan Tukang Sampah

13304950812128475842Aku dan saudara kembarku sukaaa sekali dengan serial kartun upin ipin. Mungkin karena kita sama-sama anak kembar kali ya, aku dan saudaraku, serta upin dan ipin. Aku juga punya kakak perempuan yang galaknya mirip kak Ros, namanya mbak Ina. Aku juga punya nenek yang baiknya ga ketulungan kayak nenek ‘oma’ nya upin ipin. Nah, lengkap sudah pemerannya. Cerita hidup upin ipin yang hidup di desa dengan kesederhanaan tak jauh berbeda dengan yang ku alami. Upin ipin juga punya banyak teman kecil, pun demikian denganku yang juga punya banyak teman kecil. Tak pelak ketika aku menonton serial kartun itu seperti melihat kehidupanku di sana.

            Suatu ketika upin dan ipin berangkat ke TADIKA (Taman Pendidikan Kanak-kanak). Kala itu, ibu guru memberikan tugas agar semua murid menggambarkan cita-cita yang akan mereka raih kelak dan harus dibawa keesokan harinya. Upin ipin dan teman-temannya pun berkhayal tentang cita-cita mereka dan menggambarkannya di atas selembar kertas karton. Keesokan harinya semua anak sudah siap dengan selembar kertas karton yang menggambarkan cita-cita mereka yang luar biasa.

            Nah, ibu guru tak hanya menyuruh murid-murid untuk menggambar, tapi juga meminta mereka untuk menceritakan apa yang mereka gambarkan. Satu per satu murid pun maju. Dimulai dari Meimei, murid paling pintar di kelas itu, yang bercita-cita ingin menjadi guru seperti ibu guru. Bukan upin Ipin namanya kalau tak punya khayalan yang luar biasa, mereka berdua ingin menjadi astronot yang menerbangkan roket ke luar angkasa. Semua murid pun terkesima dengan cita-cita mereka. Marvelous… Marvelous… ucap Jarjit yang keturunan India.

Nah, akhirnya tibalah bagian Fizi untuk maju. Dengan bangga, Fizi membuka kertas kartonnya. Terdapat gambar seorang anak yang yang memakai helm, baju hijau, dan menaiki sebuah truk. Semua yang ada di ruangan itu pun bengong tanda tak mengerti. Terlihat jelas rasa penasaran di wajah mereka. Ibu guru pun bertanya,

“itu gambar apa Fizi” tanya ibu guru

“ini gambar cita-cita saya bu guru” jawab Fizi

“iya, ibu tahu. Coba jelaskan cita-cita kamu itu”

“saya ingin jadi seorang tukang sampah bu guru. Tukang sampah yang menjaga lingkungan agar selalu bersih setiap hari” jawab Fizi bangga.

            DEG. Aku pun terperanjat seketika. Sungguh serial kartun ini benar-benar sangat mendidik. Di saat kita semua dijejali dengan berbagai cita-cita setinggi langit hingga lupa kalau kita hidup di bumi. Malaysia sudah dengan anggunnya membuat serial kartun yang dengan cara mereka, mendidik anak kecil untuk sadar bahwa mereka hidup di bumi, sadar akan lingkungan yang mereka tinggali. Inikah yang membuat mereka sudah terlampau jauh maju meninggalkan kita yang sejak aku SD sampai sekarang, belum berhasil naik tingkat dari predikat negara berkembang? Tak taulah.

Apa mungkin juga karena doktrin pengkastaan profesi yang selalu kita dapatkan sejak kecil? Kalau profesi ini lebih baik dari itulah, profesi ini lebih menjanjikan dari itulah. Semuanya berlandaskan materi, materi, dan materi. Apa mungkin karena cita-cita yang terlalu muluk-muluk? Eh, jangan salah, cita-cita memang harus muluk-muluk. Tak salah memang punya cita-cita setinggi langit, yang salah adalah cita-cita setinggi langit tapi usaha masih di bumi. Maka jadilah kita, selalu memandang ke langit dan mengabaikan bumi, tempat yang kita diami.

            Ah, cita-cita… sungguh cita-cita dan tukang sampah tak pernah menjadi satu kesatuan dalam pikiranku, tak pernah terbesit sepersejuta detik pun kalau cita-cita dan tukang sampah bisa berjejer menjadi satu kalimat. Sungguh diri ini sudah benar-benar terdoktrin dengan pengkastaan profesi itu. Yuk mari sama-sama tanamkan pada adik kita, ponakan kita, atau mungkin anak kita kelak, bahwa semua profesi (yang halal tentunya) itu sama, sama-sama baik, jika kita juga melakukannya dengan baik. Karena di negara ini sudah terlau banyak orang-orang yang berada dalam keadaan ekstrim, ada yang terlalu bangga (jumawa) dengan profesinya hingga lupa akan jati dirinya. Pun demikian, ada juga yang terlalu malu dengan profesi mereka hingga lalai akan pekerjaannya, karena terlalu sibuk memikirkan rasa malu yang mereka rasakan. Kini, bagiku sudah tak lagi ada kasta. Sekarang cita-cita dan tukang sampah tak lagi dibedakan kasta, mereka sudah menjadi teman baik hingga bisa sejajar menjadi satu kalimat.

Advertisements

14 thoughts on “Cita-cita dan Tukang Sampah

  1. Pingback: EF#14 – Take a Lesson from Upin Ipin Cartoon Series | Pradita Maulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s