Angin Segar itu Bernama Antiinflamasi

kreativiti-kartun-lukisan-jari6Sudah beberapa kali janji itu tak tertunaikan. Janji untuk bertemu dengannya. Kalau dihitung-hitung kira-kira sudah dua atau tiga kali. Apalah daya, keinginan untuk bertemu hanya bertepuk sebelah tangan. Padahal keinginan untuk bertemu sudah membuncah dalam dada. Sebenarnya aku juga tak tahu, berada pada urutan keberapakah aku dalam benaknya. Hingga begitu sulitnya untuk bertatap muka dengannya. Rasa rindu yang tertahan, akhirnya menemui ujungnya ketika pagi tadi dia memutuskan untuk bertemu. Sudah tak bisa digambarkan rasa senang ini. Rasanya baliho yang bertebaran di IPB sana (sekarang lagi masa PEMIRA, jadi banyak banget baliho bertebaran) jika disatukan, sepertinya tak cukup menjadi kanvas untuk menggambarkan rasa senangku. Eh bentar-bentar, dia itu siapa? Mention dong. Hahaha. Baiklah, dia adalah Bapak Waras Nurcholis yang tak lain dan tak bukan adalah dosen pembimbing skripsiku.

            Setelah sejenak menunggu, kita bertujuh pun mengikuti pak Waras yang menggiring kita ke ruang baca Biokimia. Layaknya tim peneliti, kita pun duduk melingkar dengan pusat perhatian sepenuhnya pada pak Waras. Diskusi pun dimulai. Masing-masing dari kita menyampaikan berbagai metode yang telah kita baca terkait topik penelitian yang telah kita bagi kemarin. Setelah itu, pak Waras menanggapi dengan memberikan tambahan terkait metode penelitian yang akan kita lakukan. Teman-teman memberikan kesempatan pertama padaku untuk menyampaikan keluh kesah terkait uji teratogenik. Tapi, diri ini tak sanggup. Sehingga ku berikan kesempatan yang berharga ini pada temanku yang lain.

            Akhirnya, sampailah bahasan pak Waras pada uji teratogenik. Aku pun telah bersiap-siap menyampaikan opini terkait uji teratogenik yang notabene sedikit memberatkanku. Tiba-tiba suara pak Waras terdengar begitu merdu tatkala beliau menyampaikan kalimat ini,

“sebenarnya selain uji teratogenik, ada lagi ya uji lain yang sepertinya lebih relevan dengan metabolisme, yaitu uji antiinflamasi”

            Aku pun menahan nafas sejenak dan dalam hitungan yang telah aku perkirakan, ku angkat tangan sembari berkata,

“pak saya boleh tidak pak, ganti topic penelitian dari uji teratogenik ke uji antiinflamasi?”

“oh… boleh sekali, boleh, nggak apa-apa”

            Kalian dengar kalimat itu, eh baca kali ya. Kalian baca kalimat yang indah itu? Bagiku kalimat itu sungguh indah. Antiinflamasi sepertinya lebih cocok dengan kepribadianku. Metode tentang antiinflamasi ini sudah cukup banyak ku baca karena sebelumnya aku dan temanku telah menyusun proposal PKM (program kreativitas mahasiswa) bidang penelitian terkait antiinflamasi (doakan didanai ya, hehe). Teman, angin segar itu kembali datang, kembali berembus di tengah-tengah kehororan tingkat akhir yang ku rasakan. Angin segar itu bernama antiinflamasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s