Bangkitnya Lantai Keramik Putih

DSC00551Ketika pertama kali sampai di tampat ini, aku tinggal di asrama selama satu tahun. Semua anak baru wajib merasakan suka duka tinggal di asrama. Lantas setelah itu, merasakan hiruk pikuk tinggal di kosan. Kosanku yang pertama letaknya cukup jauh dari kampus. Ah… rasanya berat sekali bercerita tentang kosanku yang ini. Banyak kenangan tak sehat yang ku alami di sana. Kamarnya yang lembab hingga berjamur, dapur yang becek, tikus yang meraja lela. Sebesar apapun effort yang ku lakukan untuk membersihkan kosan ini, tetap saja tak ada perubahan berarti. Cukup. Cukup sudah, tak ingin lagi mengenangnya. Habis gelap terbitlah gelap, eh terang maksudnya. Setelah itu, aku pun pindah ke kosan yang tidak hanya dekat dari kampus, tapi juga bersih bersinar :D.

            Aku suka sekali kosan ini, halamannya adalah yang terluas di antara halaman kosan lain (menurutku). Kamarku juga yang paling luas di antara kamar lain sehingga sering sekali dijadikan tempat untuk berkumpul para kurcaci itu. Entah untuk berbicara hal penting sampai yang tak begitu penting sekali pun. Waktu pun terasa begitu cepat ketika ku berada di kamar ini. Tak pelak, sering sekali rasa rindu datang ketika ku berada di luar sana, rindu untuk melakukan rutinitas di kamar ini. Tak ada celah bagiku untuk tak menyukaimu, kamarku.

            Malam itu, sudah bisa ditebak, ku lalui di kamar. Mengerjakan ini mengerjakan itu, ngomong ini, ngomong itu, mikirin ini, mikirin itu. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 12 malam. Satu kurcaci telah terbang ke alam mimpi, tinggal aku dan kurcaci yang lain. Ketika sedang serius mengerjakan sesuatu yang kita kerjakan. Tiba-tiba lantai keramik kamar bergemuruh, mengeluarkan suara gemerutuk, dan lantainya mencuat hingga ketinggiannya lebih tinggi dari sebelumnya.

            Kita berdua pun kalang kabut, ada gempa. Sudah terbayang gempa besar yang membuat lantai terbelah dan mengubur orang-orang yang ada hidup-hidup. Karena tak ingin terkubur hidup-hidup, kita semua pun berlari kalang kabut keluar kamar dengan jantung yang berdebar-debar tak karuan. Sungguh, detak jantungnya ngalahin kalau ketemu sama orang yang kita suka #hahaha. Saking paniknya, aku lupa bangunin si kurcaci yang lagi tidur itu. Aku pun membangunkannya dari jarak jauh sambil terus memanggil namanya. Si kurcaci pun bangun dan lari terbirit-birit sampai jatuh beberapa kali. Anehnya, kita bertiga bukan lari keluar kosan, tapi malah ke ruang tamu.

            Kita pun berdiri sambil terengah-engah, mengamati sekitar, dan ternyata tidak terjadi apa-apa. Semua penghuni kosan sepi senyap, tidur. Mereka tak sadar akan gempa yang terjadi. Atau memang tidak terjadi gempa, atau telah terjadi gempa lokal? Tapi, lokalnya kok cuma di kamarku. Bingung. Kita bertiga pun tak berani kembali ke kamar dan memutuskan untuk tidur di ruang tamu. Tanpa bantal, beralaskan karpet, tanpa selimut, dan tentunya dengan berpuluh-puluh nyamuk. Ketika bersiap untuk tidur, kita bertiga pun mereka-reka, sebenarnya apa yang terjadi. Analisis yang bisa diterima adalah suhu tanah yang terlalu panas sehingga semennya terangkat dan otomatis mengangkat lantai keramik putih di kamarku. Tapi, analisis itu tetap tak membuat kami berani kembali ke kamar itu karena ada alasan yang lebih menakutkan.

Usut punya usut, di balik berbagai kenyamanan yang ditawarkan kosanku ini, ternyata di belakang kosan ada sepetak kuburan. Dan parahnya lagi, kuburan itu tepat di belakang kamarku. Bayangkan saja, di tengah malam yang sunyi lantai kamar mencuat dan retak-retak seperti ada sesuatu yang akan bangkit. Bayanganku langsung ke hal-hal yang macem-macem. Salah satu bayanganku adalah, lantai kamarku tiba-tiba terbelah dan ada pocong putih terbaring. Tidaaaak, cukup, cukup sampai di sini bayangannya. Oh… lantai keramikku yang putih bersih, kenapa kau harus bangkit dan kenapa harus tengah malam? Tanda Tanya besar itu terus terngiang dalam benakku hingga tulisan ini dibuat.

Advertisements

3 thoughts on “Bangkitnya Lantai Keramik Putih

  1. Ya, betul mba atau mas ya….terutama di lantai dua,dan seterusnya keramik akan bergeser bukan karena gempa…itu sebabnya kalau tukang yang ahli mereka akan menambahkan semacam polimer disisi-sisi lantai terutama yang ditepi shg pergerakan keramik akan fleksibel dan tidak akan sampai terangkat. Jika tidak demikian maka kejadian seperti itu akan terus berulang walau nanti keramiknya sudah diganti kembali jika tidak menambah polimer diseluruh sisinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s