Harusnya 1000 Bukan 2000

1184271835Katanya sih kampusku ini world class university. Tapi, aku sama sekali belum merasakan hawa hawanya. Bayanganku tuh ya, kalau world class university itu, banyak mahasiswa asingnya, toiletnya bersih, dan perkuliahannya pake bahasa Inggris full ga setengah-setengah. Lah ini, boro-boro mahasiswa asing, semua teman sekelasku 100% produk lokal. Tapi, semuanya berubah ketika aku mengikuti mata kuliah di fakultas lain, fakultas petanian. Setidaknya di kelas ini sedikit ada hawa-hawa world class university. Kenapa? Karena ada mahasiswa asingnya, yeyeye haha. Mereka berasal dari Negara tetangga, Malaysia. Tepatnya UPM (universitas Putra Malaysia). Senang sekali berinteraksi dengan mereka. Mereka logatnya mirip sama serial kartun favoritku, Upin dan Ipin. Sungguh.

            Ketika praktikum akan diakhiri, salah satu dari mereka bertanya padaku, tenang… percakapannya sudah aku translate ke bahasa Indonesia, perasaan sama ya ngapain pake ditranslate haha,

“kamu pulangnya naik ape?” tanyanya

“aku naik angkot. Kan murah cuma 1000” jawabku

“loh… kite naik angkot bayar 2000, soalnye katanye kurang nak bayar 1000”

“hah… ? Masak sih. Aku ngasih 1000 terus kalo naik angkot ke sini” jawabku tak percaya sekaligus prihatin karena mereka telah mengalami penipuan mentah-mentah di negeriku tercinta ini.

“kite juge nak naik ojek bayarnye 6-7 ribu. Padahal katanye 3000”

“hah…….??? Mahal banget” jawabku makin tak percaya dengan penipuan yang dilakukan oleh bangsaku sendiri.

“ya udah nanti pulangnya bareng aku aja, biar aku yang bayar ke abangnya” jawabku menawarkan jasa. Setidaknya ini bakalan buktiin buat mereka bahwa di negeri ini masih banyak orang-orang jujur dan berbudi pekerti luhur #ehhhemm sepetiku hahahaha.

            Aku pun pulang bersama anak-anak rantau dari Malaysia ini. Semuanya berjumlah 5 orang. Layaknya kenek berpengalaman, aku meminta ongkos 1000 tiap anak. Sampailah kita semua di tempat tujuan, ku serahkan uang itu mewakili anak-anak Malaysia itu dan tak ada protes dari abangnya. Mereka pun berterimakasih kepadaku dan aku pun senang sekali membantu mereka.

Ah… sungguh sekecil apa pun penipuan itu sungguh tak dibenarkan, walaupun itu hanya urusan uang 1000 atau 2000. Bukanlah nominalnya yang jadi masalah tapi akhlaknya itu lo. Aduh… bangsa ini tak henti-hentinya menipu untuk kepentingan pribadi. Bahkan parahnya, tak hanya bangsa lain yang ditipu, jika ada kesempatan, bangsa sendiri pun juga akan ditipu habis-habisan. Lihat saja para koruptor itu. Banar-banar tak punya malu. Mari sama-sama menjadi duta yang baik untuk bangsa ini, untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, yang berani menegakkan kejujuran walaupun hanya berkata ‘harusnya 1000 bukan 2000’ :D.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s