Jatuh pada Lubang yang Sama

“dan terjadi lagi… kisah lama yang terulang kembali…”

lubang_di_jalan2_by_diyanbijac-d5xuy7lLagu yang indah bukan? Lagu yang bebarapa bulan yang lalu (kalau tidak salah) cukup mendapat tempat di hati para penikmat musik tanah air. Mengisahkan seseorang yang kembali merasakan kisah yang dulu pernah ia alami. Kisah yang tak begitu menyenangkan sepertinya. Nah, begitulah adanya yang ku alami sekarang, tepatnya hari Selasa kemarin. Mengulang kejadian yang sama dengan alasan yang juga sama (apalagi kisah yang tak menyenangkan) sungguh sangat membosankan. Mungkin akan beda ceritanya jika kejadiannya sama, tapi alasan dibalik kejadian itu berbeda. Ah… bosan, enyah saja kau pekat. Lantas apa yang membuatku kembali merasakan kisah ini? Kisah yang juga terjadi minggu kemarin. Kisahku, kisahnya, dan kisah kita semua, kisah anak Biokimia. Kisah kita menunggu kedatangannya, kedatangan dosen TAN (teknologi asam nukleat) tercinta.

Senang rasanya menyambut datangnya hari Selasa. Bukan berarti aku tak senang menyambut hari-hari yang lain, senang juga. Tapi, hari Selasa cukup spesial di semester ini karena hari Selasa hanya mendapatkan jatah satu mata kuliah dengan bobot 3 SKS. Perkuliahan dimulai dari jam 8 dan berakhir jam 10. Setelah itu? Bebas. Aku sepenuhnya bebas melakukan apa pun. Nah di sini letak spesialnya hari Selasa. Yang biasa ku lakukan setelahnya adalah, pulang naik bis, mencari spot terenak dengan koneksi tercepat, dan download everything that I want. Rasanya indah sekali dunia (menurutku). Tapi, hidup tak selamanya seindah itu. Pun demikian dengan indahnya hari Selasa, tak selalu ku lalui dengan selancar itu. Adakalanya dimana aku harus merasakan hari Selasa yang tak lancar, seperti lalu lintas Bogor di pagi maupun sore hari yang selalu tak lancar, macet.

Hari itu hari Selasa, kita semua (aku dan teman-teman sekelasku) sudah bersiap menerima siraman ilmu di pagi hari. Setelah sekian lama menunggu, ternyata yang ditunggu tak merasa kalau dirinya ditunggu. Nah, di sinilah letak tak enaknya menunggu. Dosennya lupa atau lebih tepatnya tak tahu kalau beliau mengajar hari itu. Peran PJ (penanggung jawab) mata kuliah mulai diragukan. Alasan ini bisa kita terima. Kita pun pulang dengan rasa gembira. Selasa berikutnya, kita kembali menunggu. Tik tok tik tok. Tak kunjung datang. Eksistensi PJ makin diragukan, malah banyak temanku yang terkesan menyalahkan si PJ. Kita kembali jatuh pada lubang yang sama dengan alasan yang sama. Ah… bosan. Sudah taka da lagi rasa senang karena tak ada kuliah seperti Selasa kemarin.

Lumrah adanya jika seorang dosen punya segudang kegitan yang harus mereka kerjakan. Tapi perlu diingat lagi tugas utama mereka adalah mengajar. Mengajar pemuda penerus bangsa. Rasanya sudah banyak cerita tentang dosen yang beginilah, begitulah. Kunci dari kejadian ini adalah saling menghargai. Setidaknya Bapak seharusnya menghargai kami yang telah duduk manis di sini, yang tadi pagi tak sempat sarapan karena takut telat ikut perkuliahan ini, yang tadi pagi merelakan uang 3 ribu rupiah untuk naik ojek karena tak kebagian bis menuju tempat ini. Ah… Bapak mungkin terlalu sibuk, hingga kembali menjatuhkan kami pada lubang yang sama, lubang yang juga Selasa kemarin kita rasakan. Semoga selasa selanjutnya tidak lagi ya pak :D.

Advertisements

4 thoughts on “Jatuh pada Lubang yang Sama

  1. Semangat dita cantikk. Meski dalam 2 selasa tidak ada asupan ilmu,,, kita bisa berusaha mandiri dengan mengoptimalkan slide yang ada…berusaha untuk memahami dahulu materi selama 2 pertemuan tersebut.. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s