Guru yang Dulu

kartun_bacaHari ini hari guru. Oke berarti cerita yang akan ku tulis ini juga tak kan lepas dari yang namanya guru. Senang rasanya malam ini kembali bernostalgia, mengingat-ngingat kembali jasa yang luar bidahsyat dari para guru-guruku yang telah mengantarkanku pada titik ini. Titik yang mungkin tanpa campur tangan mereka tak bisa ku raih hingga bisa berdiri tegak di sini, tanpa tongkat, tapi tetap bisa beridir tegak pada pijakan yang ku pijak. Ah… jika ku ceritakan jasa-jasa guruku, maka bisa-bisa ku habiskan malam ini tanpa tidur. Tapi, itu tak bisa ku lakukan karena besok ada kuliah pagi. Jadi ku berfikir, kira-kira cerita unik apakah yang kiranya bisa ku bagi dengan kalian semua. Setelah akson dan dendrit dari sel-sel syarafku berinteraksi, akhirnya ku temukan cerita dari masa lalu yang hingga saat ini ku simpan dengan rapat mengenai guru, guru tempat meniru dan ternyata aku berbuat jauh dari itu.  Ya… jauh.

Sudah menjadi kebiasaan orang tua di kampungku, menyekolahkan anak mereka pada dua tempat yang berbeda. Kok? Ya karena paginya kita sekolah di sekolah Negeri dari jam 7-12, dan sekolah madrasah dari jam 13.00-17.00. Para orang tua di desaku seakan mawas diri, bahwasanya mereka memang tak punya pendidikan tinggi sehingga bekal terbaik untuk anak mereka adalah sekolah. Tidak cukup satu, ya dua sekaligus. Pagi untuk pelajaran umum dan sisanya untuk bekal agama. Aku merasa terbebani bersekolah di madrasah ini, karena prestasiku di sini tidak secemerlang di sekolah negeri. Sering sekali ku cari alasan untuk tak berangkat, tapi orang tuaku selalu punya alasan jitu untuk tak membiarkanku tak berangkat. Keterpaksaan ini membuatku sering berjalan bak siput. Waktu yang ku butuhkan untuk menempuh jarak dari rumah ke sekolah madrasah menjadi dua kali lipat lebih lama dari yang anak lain butuhkan. Akibatnya, ya sudah bisa dipastikan, datang terlambat adalah konsekuensinya.

Hari itu kembali ku datang terlambat ke madrasah. Ku naiki tangga satu-satu, karena memang kelasku berada di lantai kedua. Ketika akan memasuki kelas, secara bersamaan seorang ustadz (sebutan guru laki-laki di madrasah) keluar sambil menepuk-nepuk penghapus yang penuh denga kapur (kala itu masih pake kapur). Aku pun bertanya-tanya, siapakah gerangan ustadz baru itu?. Aku lantas memasuki kelas sembari minta maaf karena datang terlambat. Ternyata ustadz itu adalah guru baru yang baru lulus dari pondok tempatnya menimba ilmu, istilah kerennya fresh from the oven, eh fresh graduate maksudnya. Ustadz itu ternyata juga masih keturunan kyai yang punya pondok pesantren tempatku sekolah.

Aku yang kala itu kelas 5 SD (kalau tidak salah) langsung terpesona pada sang ustadz muda. Terpesona pada caranya mengajar, caranya berbicara, caranya bercanda, wajahnya yang bercahaya karena sering berwudhu, keluasan ilmu agamanya, dan banyak lagi yang dia punya. Entah bagaimana ceritanya seorang bocah bisa punya ‘rasa’ seperti itu pada gurunya. Efek dari keseringan nonton sinetron, jadi dewasa sebelum waktunya #hehe. Mungkin ini yang namanya kagum. Mungkin. Sejak saat itu, tak ada lagi rasa malas untuk berangkat ke madrasah, yang ada malah rasa menggebu-gebu ingin segera masuk kelas dan mendengarkan penjelasan dari sang ustadz. Ah… benar-benar salah niat (geleng-geleng kepala pas nulis ini). Kala itu aku benar-benar suka pada ustadz itu, yang membuatku jadi malu kalau lewat depan rumahnya, takut berpapasan dengannya. Takut ketemu tapi sebenarnya ingin ketemu. Ah… membingungkan sekali.

Seiring berjalannya waktu, ku lulus dari madrasah, masuk SMP, SMA, dan akhirnya kuliah, jauh dari kampung halaman, jauh dari madrasah, dan jauh dari ustadz itu. Ketika idul fitri tiba, seperti biasa orang tuaku menyuruhku untuk bersilaturrahim ke pondok pesantren tempat madrasahku dulu. Pertama-tama ku bersilaturrahim ke rumah Nyai, yang notabene adalah ibu dari ustadz itu. Kenangan masa kecil dulu kembali menyeruak. Ketika sampai di sana, ternyata ada ‘orang’ baru yang menyambutku. Seorang perempuan dan seorang anak kecil. Belum sempat otakku mencerna, tiba-tiba ustadz itu keluar dan menyapaku seperti dulu, dan tak lupa memperkenalkan ‘orang’ itu, yang tak lain adalah istri dan anaknya.

Yang ku rasakan kala itu? Biasa saja. Seperti layaknya seorang murid kepada gurunya. Karena rasa yang dulu telah hilang seiring bertambahnya fase yang ku jalani. Ternyata rasa yang dulu itu, sepenuhnya memang rasa kagum semata. Rasa kagum akan keluasan ilmu agama sang ustadz, yang selama bebarapa tahun membuatku berfikir tentang suami yang lulusan pondok. Ah… malu rasanya mengingat kriteria itu. Mana mungkin aku mendambakan suami yang lulusan pondok, sedangkan diriku sendiri tak pernah mondok. Mana mungkin mendambakan suami yang luas ilmu agamanya, jika diri ini begitu dangkal ilmu agamanya. Tapi, kriteria lulusan pondok perlahan mulai hilang karena keluasan ilmu seseorang tak bisa diukur dari dia lulusan pondok atau tidak, tapi dari seberapa besar keinginannya untuk mempelajari agama. Apalagi di zaman sekarang yang sudah tak ada lagi batasan bagi mereka yang mau dan ingin belajar.

Seorang guru memang benar-benar akan membentuk pribadi muridnya jika guru itu menjalankan fungsinya dengan benar. Sungguh besar jasa seorang guru yang menjalankan fungsinya dengan benar, karena benih pahala yang mereka sebarkan akan senantiasa tumbuh. Tumbuh menjadi tunas-tunas yang akan terus tumbuh menjadi pohon, pohon yang rindang, populasi pohon, ekosistem, dan akhirnya menjadi biosfer yang dapat memberikan manfaat sebagai naungan di akhirat kelak. Semoga amal dan kebaikan guru-guruku baik yang masih hidup apalagi yang sudah meninggal diterima Allah SWT. Selamat hari guru, semoga kesejahteraan para guru semakin meningkat dan terus akan meningkat, karena sejatinya jasa mereka tak ternilai harganya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s