Layang-Layang yang Tak Melayang

1367883884313452951Di depan rumahku terhampar sawah yang cukup luas. Yang ketika musim padi datang, hamparan padinya bak permadani hijau yang digelar. Apalagi ketika tanaman padi mulai tumbuh, hijaunya sungguh memanjakan mata yang melihatnya. Mungkin ini salah satu penyebab, kenapa aku begitu suka warna hijau. Sesuatu yang berwarna hijau seakan punya nilai tambah di mataku.

            Ketika musim padi tiba, tiap sore sawah-sawah itu begitu ramai oleh riuh rendah suara para anak-anak dan pemuda desa yang memainkan layang-layang. Suara-suara itu akan semakin ramai tatkala ada layang-layang putus karena kalah bertarung dengan layang-layang yang lain. Akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri tatkala layangan yang kita terbangkan bisa memutuskan senar layangan yang lain. Semuanya akan berlomba-lomba mengejar sang layang-layang yang malang. Ah… sepertinya sangat menarik yang mereka lakukan itu.

            Lantas… apa gerangan yang kulakukan? Ikut berpartisipasi, ikut menerbangkan layang-layang, atau ikut mengejarnya? Tidak, Yang ku lakukan hanyalah mengamati, mengamati dari rumah yang sepi. Aku, seorang anak perempuan yang sebenarnya suka akan layang-layang tapi merasa tak pantas untuk ikut bermain apalagi mengejarnya. Kalau boleh jujur ingin sekali ku mengejarmu seperti mereka dan seutuhnya menjadi pemilik sang layang-layang malang yang sudah tak mampu terbang. Tapi, rasanya tak mampu diri ini berkompetisi dengan mereka yang mempunyai banyak kualifikasi. Tapi, ku percaya suatu saat kau akan mendatangiku. Aku percaya itu. Karena takdir tak kan pernah tertukar.

            Setelah berpuluh-puluh musim padi ku lewati, ternyata keadaannya tetap tak berubah. Diriku hanya bisa berdiam di rumah, hanya mengamati, tanpa bisa berpartisipasi. Layang-layang yang ku tunggu untuk menghampiriku, ternyata benar-benar tak menghampiriku. Mana mungkin layang-layang yang begitu bahagianya terbang bebas di langit sana bersedia menghampiriku yang tersembunyi di rumah yang sunyi. Bagaimana mungkin dia bisa menemukanku -jikalau dia memang benar ingin menemuiku- padahal dia sama sekali tak mengenalku. Ah… jarak kita memang terlalu jauh.

            Ketika ku putuskan untuk menimba ilmu di belahan bumi yang lain, yang pastinya tak punya tradisi menerbangkan layang-layang, akan sangat mustahil rasanya ku bertemu dengan layang-layang. Pun demikian akan sangat mustahil bagi layang-layang yang telah sekian lama ku tunggu kedatangannya untuk datang. Ah… biarlah, urusan layang-layang untuk sementara ku lupakan. Di tengah berbagai kemustahilan yang kurangkai, ternyata sang pencipta punya rencana yang oleh logikaku tak bisa dicapai. Sang layang-layang datang. Ya dia datang. Layang-layang yang tak lagi terbang ternyata menepati janjinya untuk datang. Menghapus rasa bosanku yang telah sekian lama menantang dirinya untuk datang. Jika sudah begini, betapa indahnya menunggu yang selama ini ku rasa sangat terlalu?

            Teruntuk layang-layang yang tak melayang yang jatuh di kosanku beberapa hari berselang. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s