Berfikir Kuantitatif, Gerakan Satu Butir Beras

kemuliaan-berfikir1Berfikir kuantitatif adalah kekurangan bangsa ini. Kekurangan ini adalah sebutir debu dari luasnya padang sahara kelemahan bangsaku. Tak terkecuali diriku dan parahnya lagi, realita ini baru ku sadari kemarin. Tak apalah, yang penting sadar walaupun agak terlambat. Bukan agak sih, tapi sangat terlambat. Merasa bersalah? Pastinya. Oleh karena itu, telah ku azzamkan dalam diri untuk menyadarkan kamu kamu semua yang belum sadar bahwa kalian adalah golongan dari kita, golongan orang-orang yang punya kelemahan dalam hal berfikir kuantitatif. Maaf ya sedikit menghakimi.

            Berfikir kuantitatif adalah suatu pemikiran yang dilandasi atau didukung dengan adanya data-data yang dapat digambarkan dengan angka-angka. Nah, di sinilah letak kelemahan kita atau lebih spesifiknya kelemanahanku. Ketika seorang dosen bertanya,

“berapa lama rata-rata kalian tidur dalam sehari?”

Maka serempak seluruh isi kelas menjawab, “banyak pak”

“Iya, banyaknya berapa?”

Maka semuanya juga serempak bingung, “berapa ya?”

Nah percakapan di atas adalah salah satu contoh bahwa kita belum berfikir kuantitatif. Harusnya kata ‘banyak’ di sini harus diganti dengan munculnya angka, misalnya ‘8 jam pak’. Berfikir kuantitatif ini sangat penting, karena dengan adanya angka ini kita bisa tahu seberapa jauh, seberapa besar, seberapa tinggi hal yang telah kita lakukan.

Baiklah, aku akan mulai mengajak kalian semua untuk bersama-sama berfikir kuantitatif denganku. Studi kasus yang akan aku angkat di sini sangat erat kaitannya dengan masalah pertanian. Kenapa? Jawaban mainstreamnya ya karena aku mahasiswa pertanian. Begini, acapkali melihat atau menemui teman-temanku yang makan dan masih banyak bulir-bulir nasi bertebaran di piringnya, maka dengan spontan aku akan berkomentar,

“abisiin dong makanannya, mahasiswa pertanian pantang buang makanan”

            Nah, karena merasa kalimat itu kurang ampuh untuk menyadarkan mereka, maka aku putuskan untuk menambahnya dengan jawaban kuantitatif yang artinya aku harus mulai berfikir kuantitatif.

            Iseng-iseng searching di google, ternyata berdasarkan Hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada Mei 2010 sebanyak 237.641.326 jiwa. Wuiiihhh… banyak ya, pantesan kita selalu impor bahan pangan. Salah satu bahan pangan yang sampai saat ini masih kita impor dari Negara lain adalah beras. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2010 (BPS 2010), volume impor beras Indonesia sebanyak 687.582 ton. Aku sengaja mengambil data tahun 2010 karena data sensus penduduknya adanya di tahun 2010 sehingga data impornya juga ku sesuaikan di tahun 2010.

            Jika ku mengasumsikan setiap penduduk Indonesia makan nasi, dan tiap kali makan mereka menyisakan kira-kira 10 butir saja di piring mereka. Maka sebenarnya apa yang telah mereka perbuat? Mari kita analisis bersama-sama. Berat satu butir beras dengan gabahnya 0.025 gram, berat ini ku tanyakan langsung pada temanku yang penelitiannya mengenai beras. Jika gabahnya ditiadakan –beras tanpa gabah- maka beratnya menjadi 0.01875 gram.

            Jika kita asumsikan berat beras setelah dan sesudah dimasak sama, maka berat satu butir beras=berat satu butir nasi. Jika setiap makan, rakyat Indonesia menyisakan 10 butir nasi di pringnya, dengan asumsi makan 3 kali sehari, maka inilah yang telah mereka lakukan,

10 butir nasi = 0.1875 gram beras

0.1875 gram beras x 237.641.326 = 44.557.748,63 gram = 44,557 ton

44,557 ton x 3 kali makan = 133,67 ton/hari

133,67 ton/hari x 365 hari (1 tahun) = 48.789,55 ton

Angka yang sangat fantastis, jika kita menyisakan 10 butir saja nasi di piring kita, maka kita telah membuang sebanyak 48.789,55 ton beras dalam setahun. Padahal impor beras kita 687.582 ton, yang artinya jika saja kita tidak membuang 10 butir nasi maka kita akan bisa mengurangi impor beras 0,07%. Padahal di realita sehari-hari tak jarang kita menemukan banyak orang yang dengan gampangnya membuang nasi. Nasi yang berasal dari beras impor hanya tergolek lemah di tong sampah. Apakah jangan-jangan kita mengimpor beras hanya untuk berakhir di tong sampah? Tak tahulah, mungkin saja iya. Yuk bersama-sama mulai dari diri kita, untuk menghabiskan tiap bulir beras yang tersaji di piring kita dengan gerakan satu butir beras. Maka sekarang jika ada temanku yang menyisakan makanannya, aku menegurnya dengan data kuantitatif yang telah ku dapatkan melalui proses berfikir kuantitatif yang telah ku lakukan,

“abisiin dong makanannya, mahasiswa pertanian pantang buang makanan, karena setiap 10 butir nasi yang kamu buang akan menambah kuota impor beras Negara kita naik 0.07%” keren sekali bukan? :D.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s