Dokter Manusia Vs Dokter Benih

dokter-perawat1Dokter, profesi mulia yang satu ini tengah menjadi buah bibir oleh hampir semua kalangan di seluruh Negeri. Tak lain dan tak bukan karena aksi solidaritas yang mereka lakukan, ya aksi. Aksi yang selama ini sangat akrab di telinga para aktivis dan para akedemisi. Hanya karena sebuah aksi, banyak yang dengan serta merta angkat bicara dan berasumsi. Mulai dari yang benar-benar mengerti hingga yang benar-benar tak mengerti, semua sepakat untuk mengkritisi dengan dalih memberi solusi. Alih-alih memberikan solusi, yang ada malah memperkeruh situasi. Tulisan ini tak bermaksud untuk menghakimi, hanya ingin memberikan sedikit analogi. Analogi yang mungkin bisa menyunggingkan senyum bagi orang-orang yang frustasi. Semoga tak terkesan basa-basi karena sungguh niat tulusnya hanya untuk berbagi.

            Setiap benda yang ada di sekitar anda pasti punya dokter, tak percaya? Mari buktikan. Manusia -dokter manusia, hewan –dokter hewan, komputer –dokter komputer,  anak –dokter anak, kanker –dokter kanker, tanaman –dokter tanaman. Semuanya punya dokter, pun demikian dengan benih, ada yang namanya dokter benih. Demikianlah yang dosenku katakana tadi ketika aku mengikuti perkuliahan mengenai dasar dan teknologi benih. Iseng-iseng untuk menghilangkan rasa jenuh, beliau pun memberikan pertanyaan,

“apa bedanya Dokter Manusia dengan Dokter Benih?”

Seorang mahasiswa laki-laki menjawab “kalau dokter manusia bisa nanyain pasiennya, tapi kalau dokter benih ya ga bisa pak” jawabnya mantap

“benar jawabannya, yang lain mau jawab? Ayo mbak mbaknya mungkin”

“kalau dokter manusia kemarin mogok praktek, kalau dokter benih nggak pak” jawabku tanpa bisa ku keluarkan, malu karena kurang ilmiah.

Seorang mahasiswa perempuan akhirnya menjawab “kalau dokter manusia tidak harus mengawasi perkembangan pasiennya dari awal sampai akhir tapi kalau dokter benih harus memperhatikan perkembangan benihnya dari awal sampai akhir”

“wah… kalian ini terlalu serius ya, jawabannya sebenarnya mudah. Kalau dokter manusia, kalau melakukan kesalahan pasiennya ditanam (dikubur). Tapi kalau dokter benih, pasiennya (benihnya) ditanam dulu baru tahu kesalahan kita”

Dan dengan serempak semuaya tertawa “hahahaha”.

Kalau kalian tertawa berarti cerita ini punya isi. Tapi kalau nggak ketawa, berarti kalian nggak frustasi. Hahaha 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s