Tragedi Angkot: Unik, Menggelitik

2022467_20120725063811Bogor, kota seribu angkot. Serasa punya mobil pribadi kalau berada di kota ini. Nunggu sebentar, angkot siap mengantar. Sampai-sampai, ketika menunggu teman di pinggir jalan sambil berdiri, si abang angkot dengan senang hati menghampiri dan menawari. Mungkin alasan inilah yang membuat alat transportasi ini banyak digemari, walaupun tak dapat dipungkiri telah menyebabkan kemacetan setiap hari. Kali ini aku akan bercerita tentang dua tragedi yang ku alami, tragedy angkot: unik, menggelitik.

#Tragedi Jumat Lalu

            Tempat praktikum yang aku dan temanku tuju cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki tapi terlampau amat dekat jika ditempuh dengan naik angkot. Kami pun memilih alternatif kedua, naik angkot, walaupun harus merelakan 1000 rupiah untuk berangkat dan 1000 rupiah lagi untuk pulangnya. Tak apalah. Memang dalam setiap keputusan, harus ada yang dikorbankan #SokBijak. Berangkat terburu-buru, menyeberang jalan raya yang tak pernah bisa ku lakukan sendiri. Ketika akan menyeberang, ada sebuah angkot yang mencuri perhatianku, menunggu dengan setia dan si abangnya memanggil dengan semangat. Aku pun berazzam dalam diri “Ok, aku akan naik angkot yang itu”.

            Aku pun langsung naik ke angkot yang itu. Sampainya di angkot aku langsung disibukkan membalas semua SMS yang masuk ke HPku. Angkot pun mulai melaju dan sampai di tempat yang dituju. Pas turun, ternyata teman yang bersamaku tadi udah ada di tempat. Kok bisa? Perasaan kita naiknya bareng-bareng. Mari kita kaji dari awal, kita berangkat dari kosan berdua, nyeberang jalan raya berdua, dan tanpa kita berdua sadari, kita menaiki angkot yang berbeda. Kita pun langsung tertawa karena sama-sama tak menyadari telah terpisah dalam dua angkot yang berbeda. Pengalaman yang Unik :D.

#Tragedi Jumat ini

            Kembali, naik angkot menjadi pilihan yang digemari untuk menuju tempat praktikum daripada jalan kaki. Sayang sekali, uang di dompet tak menghendaki. Hanya tertinggal Rp 1000 rupiah pas. Pilihan pun tetap pada naik angkot dari pada jalan kaki karena ada teman yang menyanggupi untuk membayari. Ku keluarkan uang Rp 1000 dari dompet, memegangnya terus sambil bermain ‘onet’. Tak lupa aku pun meminta ongkos temanku, dia pun menyerahkan tanpa sedikit pun ku perhatikan. Saat akan ku bayarkan, ternyata uang yang temanku berikan Rp 2000 bukan Rp 1000 yang artinya aku telah menyerahkan ongkos Rp 3000. Lebih seribu. Aku pun berniat mengambil lagi uang yang seribu itu, tapi ternyata si abang angkot tak mau melepaskan pegangannya pada uang yang ku serahkan. Aku pun bersikeras mengambilnya, tak pelak terjadi tarik menarik kecil pada uang Rp 3000 itu. Karena merasa malu, aku pun menyerah, membiarkan sang abang membawa uang seribu itu pergi. Kita pun keluar angkot sambil tertawa, mengingat tragedi tarik menarik yang aku dan si abang angkot lakukan tadi. Bogor benar-benar kota seribu angkot yang membuatku tak bisa mempertahankan ongkosku yang lebih seribu. Tragedi yang menggelitik :D.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s