Tentang Rasa Bangga, Dianggap, dan Cuci Piring

cuci-piringTiap kali keluar dari pintu gerbang kosan, sesekali ku berpapasan dengan bapak ini. Biarlah ku sebut dia dengan panggilan ‘bapak’, untuk menjaga privasinya, walaupun sebenarnya aku juga tak tahu siapa namanya. Aku juga tahu ternyata bapak ini tinggal di sebelah kosanku. Tinggal bersama keluarga besarnya di sebuah rumah yang ternyata masih lebih besar dan lebih bagus kosanku. Bapak ini mungkin punya banyak cucu, karena beberapa kali ku lihat dia kerap menggandeng tiga anak kecil. Perawakannya juga mendukung kalau bapak ini adalah seorang ‘kakek-kakek’. Beberapa kali ku pergoki bapak ini kerap memungut botol bekas air mineral di sepanjang gang kosan, sepertinya beliau berniat untuk mengumpulkannya, lantas kemudian menjualnya. Bapak ini sepertinya memang tak punya pekerjaan tetap. Tiap kali berpapasan dengannya, jarang sekali bapak ini menyunggingkan senyum dan terlihat seperti orang ‘bingung’.

            Kemarin dan kemarinnya lagi adalah hari yang padat. Padat bagi semua orang yang tinggal di sepanjang gang kosanku. Betapa tidak, gang yang sesempit itu telah disulap menjadi tempat hajatan untuk sebuah pesta pernikahan. Tak terhitung sudah berapa kali aku berdecak kagum akan ‘kreativitas’ para penyelenggara hajatan ini. Mereka menyulap gang yang menurutku begitu kecil menjadi tempat yang terasa ‘agak’ luas sehingga layak untuk sebuah pesta pernikahan. Benar-benar padat. Berkali-kali ku bertanya, apakah aku sedang di Madura? Karena suasana pesta pernikahannya sungguh senada dengan yang ada di kampungku. Lagu dangdut yang diputar dengan volume maksimal dan diputar seharian penuh. Ku kira di kota ini sudah tak ada budaya orang ‘kampung’ seperti yang ada di kampungku. Ah… ternyata sama saja.

            Kosanku sangatlah dekat dari pintu keluar gang, kira-kira hanya 5 meter dari jalan utama. Tapi, karena adanya hajatan ini, jalan yang hanya 5 meter itu ditutup. Tak pelak aku harus berputar arah untuk menuju jalan utama yang jaraknya hampir 10 kali lipat dari biasanya. Ketika akan keluar dari kosan, di depan dan agak ke samping kosanku ternyata dijadikan basecamp untuk mencuci piring-piring kotor dari hajatan itu. Mungkin karena tak ada tempat lagi, pikirku. Orang yang selalu berada di tempat cuci piring itu adalah orang yang ku kenal, orang itu adalah bapak-bapak yang ku ceritakan di awal tadi. Bapak itu terlihat sangat piawai mencuci piring-piring kotor itu.

            Mungkin orang-orang melihat bapak itu hanya ‘sekedar’ mencuci piring, tapi aku melihatnya lebih dari itu, lebih dari hanya ‘sekedar’ mencuci piring. Ku perhatikan bapak itu mencuci piring-pirimg kotor itu dengan rasa bahagia yang jelas terpancar dari wajahnya. Wajah yang sebelumnya ku lihat tanpa senyum dan seperti orang ‘bingung’. Terlihat jelas terselip rasa ‘bangga’ atas kepercayaan yang diembankan kepadanya oleh si empunya hajatan, kepercayaan untuk membersihakn piring-piring kotor. Bapak itu terlihat begitu menikmati menjadi bagian dari hajatan itu, menikmati menjadi bagian orang yang ‘dianggap’. Benar-benar tak hanya sekedar cuci piring bukan? Tak peduli pekerjaan apa yang kau punya, jabatan apa yang kau pegang, amanah apa yang kau emban, lebih dari itu rasa bangga lah yang akan membuatmu lebih bahagia dan rasa dianggap lah yang membuatmu lebih berguna. Terimakasih bapak atas pelajarannya, pelajaran tentang rasa bangga, dianggap, dan cuci piring.

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Rasa Bangga, Dianggap, dan Cuci Piring

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s