Menanti, Menunggu, dan Bahagia

hepiSejenak ingin ku luangkan waktu menengokmu, di tengah padatnya persiapan penelitian yang ku lakukan, di tengah ribetnya birokrasi laboratorium yang ku jalani, di antara menggunungnya tugas yang akhir-akhir ini tak henti-hentinya menerorku. Ya, akan ku luangkan waktu khusus untukmu, waktu untuk sekedar ber say ‘hay’ denganmu wahai… blog ku. Kali ini akan ku ceritakan sebuah cerita yang membuatku benar-benar merasa menjadi orang paling bahagia, paling beruntung, paling mujur, dan paling paling lainnya yang mempunyai arti bahagia di dunia. Rasa bahagia itu seakan menerbangkanku dari tanah yang selama ini ku pijak, melepaskan sejenak beban-beban yang selama ini ku emban, meleganku dari semua pikiran yang menyempitkan, menghilangkan rasa sedih yang ku rasa akhir-akhir ini mulai menjadi-jadi.

            Seperti sudah menjadi kebiasaan dan keharusan, di tengah-tengah praktikum, ku sempatkan untuk sejenak membuka HP. Ternyata ada satu panggilan tak terjawab, no. baru, siapakah gerangan? Tak tahulah. Ku biarkan saja, toh kalau orangnya perlu pasti bakalan nelepon lagi, pikirku. Tak berselang berapa lama, HP ku kembali bergetar. Kali ini bukan telepon, tapi hanya SMS. Ku buka, ternyata SMS itu dari saudara kembarku. Isi SMS nya adalah inti dari kebahagiaanku, kebahagiaan yang membuatku bahagia tiada tara, senang bukan kepalang, dan ingin segera pulang menemui sesuatu yang selama ini ku tunggu dengan rasa rindu yang terlalu.

Continue reading