Baju Sama Ada Masanya

danbo berduaan 1Pernah merasakan suka duka dibanding-bandingkan? Jika ingin tahu, tanyakan saja pada anak kembar, dan itu berarti aku lah orangnya, karena aku adalah salah satu dari pasangan anak kembar di dunia yang jumlahnya limited edition. Kenapa suka duka? Ya suka, ketika kau berada di pihak yang diuntungkan dan menjadi duka ketika berada di pihak yang dipojokkan. Sepertinya sudah menjadi kewajiban bagi semua anak kembar untuk selalu dibanding-bandingkan seumur hidup mereka. Hal ini tak ubahnya seperti kutukan yang tak terbantahkan.

            Asal mula tradisi membanding-bandingkan itu muncul karena hampir semua orang lupa bahwa anak kembar adalah dua pribadi yang berbeda, walaupun notabene memiliki penampakan fisik yang serupa. Pun demikian dengan orang tua para anak kembar, mereka cenderung untuk menyamakan semua, mulai dari baju, sepatu, hingga gaya rambut. Tak pelak ketika dua anak kembar berjalan, layaknya seperti bercermin satu dengan yang lain. Akan sangat menarik bagi yang melihat, tapi tidak bagi yang mengalami. Setidaknya itulah yang ku alami.

            Ketika kecil dulu, sangat senang rasanya menjadi pusat perhatian. Bagaimana tak menjadi pusat perhatian, jika kita berdua memakai sesuatu yang sama dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menjadi pusat perhatian sungguh menyenangkan karena banyak yang menghampiri, mengagumi, dan mendekati. Tapi, lama kelamaan aku mulai bosan. Lebih tepatnya sih malu. Malu menjadi pusat perhatian.

            Tradisi memakai baju sama terus ku jalani sampai SMP, walaupun kadang-kadang ku coba untuk keluar dari tradisi yang menurutku memuakkan ini. Bagaimana tak memuakkan, jika setiap kami bersama akan banyak pasang mata yang sejenak memperhatikan apa yang ada pada kita berdua. Hingga pada suatu ketika, kita berada pada keputusan penting dalam hidup ini. Keputusan untuk memakai baju yang berbeda. Tepanya ketika SMP kelas dua, kita memutuskan untuk membedakan baju yang kita pakai.

            Keputusan itu telah bulat kita pilih, sejak saat itu hingga sekarang. Memakai baju sama sih sah-sah saja, tapi baju sama ada masanya. Mungkin ketika kecil dulu sangat menyenangkan karena memang pada dasarnya anak kecil itu haus akan perhatian, tapi ketika beranjak dewasa, ketika benang-benang syaraf otak mulai terbentuk, mulailah rasa malu itu muncul, malu menjadi pusat perhatian. Karena bagiku, boleh lah menjadi pusat perhatian, pusat perhatian bagi satu orang, tapi tidak untuk banyak orang. Haha 😀 

Advertisements

2 thoughts on “Baju Sama Ada Masanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s