Onde-Onde

resep-onde-onde Tiba-tiba pengen banget cerita masa lalu. Haha, pengen nostalgia bentar, lari dari penatnya hidup. Mengenang masa lalu yang pastinya telah berlalu dengan kenangan yang menyenangkan untuk dikenang melulu. Kali ini aku akan bercerita kenangan ketika SMA, tepatnya saat pertama kali ku injakkan kaki di SMA yang memang telah ku incar sejak SMP dulu, SMA N 1 Pamekasan. Masa Orientasi Siswa (MOS) dengan senang hati ku ikuti walaupun dengan berbagai penugasan yang menurutku tak begitu penting untuk dilakukan. Tugas di hari pertama yang harus ku bawa waktu itu adalah sebuah kue yang mudah sekali ditemui di sekitar kita. kue itu adalah onde-onde.

Aku pun tak begitu khawatir ketika mendapatkan penugasan itu karena sudah dapat dipastikan akan banyak onde-onde berjejer di pasar-pasar. Tapi, semuanya di luar dugaan awal, ternyata semua onde-onde yang dijual di pasar-pasar telah tersapu bersih, habis tak bersisa sebiji pun. Semuanya telah diborong oleh semua anak yang satu sekolah denganku. Aku telat sadar kalau yang mendapatkan tugas itu bukan hanya aku seorang. Aku pun kelimpungan mencari onde-onde itu di setiap pasar yang ku lewati. Mulai dari pasar di desa dekat rumahku hingga pasar kota di dekat sekolahku, semuanya habis. Aku yang kala itu diantar oleh om ku panik karena bisa dipastikan aku akan telat sampai di sekolah.

 Setelah menyusuri pasar-pasar hingga ke pasar paling ujung, akhirnya ku dapatkan si onde-onde itu, walaupun tak sesuai harapan. Onde-onde yang ku dapatkan terbuat dari ketan hitam dan ukurannya kecil-kecil, padahal yang ku inginkan adalah onde-onde yang ketan putih dengan ukuran yang besar. Tak apalah, tak ada putih besar, hitam kecil pun jadi. Hal yang terpenting aku bisa membawa si onde-onde untuk melengkapi penugasan MOS itu. Sesampainya di sekolah sudah dapat dipastikan aku datang terlambat. Tapi aku cukup bisa bernafas lega karena yang terlambat bukan hanya diriku. Banyak jejeran siswa lain yang bernasib sama denganku. Aku pun segera mengambil posisi bergabung dengan mereka dan siap menerima hukuman. Ketika menuggu kakak kelas yang siap mengeksekusi, tiba-tiba ku dengar percakapan yang dilakukan oleh beberapa anak-anak baru itu. Mereka membicarakan tentang perjuangan mereka mencari si onde-onde. Kenapa aku begitu ingat secara detail kejadian ini? Karena kamu ada di antara mereka. Ya, ketika itulah pertama kali aku bertemu denganmu. Tak perlulah aku bercerita bagaimana perjuanganku menemukan si onde-onde karena cukup rasanya menemukanmu kala itu hahaha 😀 #hueeek.

Ya, ini kisah nyata. Cerita tentang rasa suka yang kurasa pada orang yang kusukan selama SMA dulu. Lucu rasanya mengenang kembali. Rasa suka itu tetap ku simpan sampai masa SMA berakhir, bahkan hingga ku kuliah, rasa itu tetap ada. Terhitung sampai semester 4 baru bisa ku hilangkan rasa itu. Lantas, jika banyak yang bilang menyimpan rasa suka itu susah, ya memang susah, tapi bukan berarti tak bisa. Aku telah membuktikannya sendiri. Karena aku sadar ekspresi suka yang tidak pada tempatnya sungguh tak bijak. Senang rasanya melewati masa-masa susah menyimpan rasa suka itu. Setidaknya ku bisa membuktikan bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan ketika ada rasa suka adalah menyimpannya rapat-rapat di suatu tempat lantas membukanya di kondisi dan situasi yang tapat. Menyenangkan sekali rasanya bercerita tragedi onde-onde. Tragedi onde-onde yang menandakan bahwa kala itu aku udah gede, hahaha 😀

Advertisements

2 thoughts on “Onde-Onde

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s