Mengasah Rasa

kasih-sayangTidak hanya otak yang mulai berkarat, ternyata hati dan perasaan ini juga mulai mengalami korosi, berkarat. Harus mulai banyak mengasah walaupun tak sampai tajam, setidaknya biar karatnya tak semakin parah dan menyebar. Akan sangat bahaya jika semuanya juga ikut-ikutan berkarat, terutama hati. Jika sudah begitu, akan sulit untuk merasakan hati sendiri apalagi hati orang lain. Kesadaran untuk mengasah rasa ini secara tak sengaja ku dapatkan ketika seorang teman –sebut saja Mila- mengajakku membicarakan sesuatu yang sepertinya agak urgent. Aku yang memang tipe orang yang ‘kurang’ peduli dan ‘sedikit’ tidak perhatian pada orang lain, seketika terketuk untuk ‘sedikit’ peduli pada orang lain.

            Percakapan ini bermula tatkala salah seorang teman sekelasku ada yang memutuskan untuk berkerudung. Sungguh keputusan yang membuatku amat sangat terharu, dan berharap yang lainnya juga akan segera mengikuti jejaknya. Rasa haru itu hanya ku simpan dalam hati tanpa sedikitpun ku keluarkan dan ku ekspresikan. Mungkin sikapku ini merupakan dampak dari jarangnya mengasah rasa peduli. Nyatanya aku peduli, tapi tak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa peduli itu.

Continue reading

Semut dan Kebinasaan

semutDahulu kala, kira-kira ketika aku masih SMP, ku punya kebiasaan nongkrong. Tempat nongkrongku bukan tempat sembarangan. Jika orang lain biasa nongkrong di kafe, warkop, atau pinggir jalan, aku punya tempat lain yang lebih spesial. Tempat itu adalah kamar mandi. Kamar mandi dengan shower dan bathup? Ah… bukan seperti itu gambaran kamar mandi yang ku punya. Kamar mandiku hanyalah sebuah kamar mandi sederhana yang biasa dimiliki oleh mayoritas rakyat Indonesia, kamar mandi dengan gayung dan bak mandi. Lantas… kenapa aku begitu senang nongkrong di kamar mandi yang katanya orang banyak penunggunya? Ya… karena di tempat itu aku punya teman curhat. Teman curhatku bukan cuma satu, melainkan puluhan bahkan ratusan. Mereka adalah segerombolan semut.

Continue reading