Mengasah Rasa

kasih-sayangTidak hanya otak yang mulai berkarat, ternyata hati dan perasaan ini juga mulai mengalami korosi, berkarat. Harus mulai banyak mengasah walaupun tak sampai tajam, setidaknya biar karatnya tak semakin parah dan menyebar. Akan sangat bahaya jika semuanya juga ikut-ikutan berkarat, terutama hati. Jika sudah begitu, akan sulit untuk merasakan hati sendiri apalagi hati orang lain. Kesadaran untuk mengasah rasa ini secara tak sengaja ku dapatkan ketika seorang teman –sebut saja Mila- mengajakku membicarakan sesuatu yang sepertinya agak urgent. Aku yang memang tipe orang yang ‘kurang’ peduli dan ‘sedikit’ tidak perhatian pada orang lain, seketika terketuk untuk ‘sedikit’ peduli pada orang lain.

            Percakapan ini bermula tatkala salah seorang teman sekelasku ada yang memutuskan untuk berkerudung. Sungguh keputusan yang membuatku amat sangat terharu, dan berharap yang lainnya juga akan segera mengikuti jejaknya. Rasa haru itu hanya ku simpan dalam hati tanpa sedikitpun ku keluarkan dan ku ekspresikan. Mungkin sikapku ini merupakan dampak dari jarangnya mengasah rasa peduli. Nyatanya aku peduli, tapi tak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa peduli itu.

            Memang dunia telah dirancang dengan begitu seimbangnya, hingga diriku yang jarang mengasah rasa ini diberikan olehNya seorang teman –Mila- yang sering mengasah rasa sebagai penyeimbangku. Dia mengajakku untuk memberikan sebuah ‘apresisasi’ kecil atas keputusan luar biasa yang temanku lakukan, keputusan untuk memakai kerudung. Aku pun bertanya ‘apresiasi’ apakah sekiranya yang akan kita lakukan. Mila pun mengatakan, bagaimana jika kita memberikan sebuah kerudung dengan harapan temanku akan senantiasa istiqomah dengan keputusannya.

            Aku pun langsung terperanjat mendengar pendapat Mila. Sungguh rencana yang menurutku luar biasa. Luar biasa bagiku yang memang jarang sekali mengasah rasa, rasa peduli pada orang lain. Sejak saat itu keinginanku untuk lebih sering mengasah rasa melambung tinggi ke langit sana. Ada sedikit rasa sesal dalam diri, mengapa baru sekarang aku sadar akan pentingnya mengasah rasa. Sungguh diri ini amat jarang sekali mengasah rasa, contoh kecilnya misalnya ada yang ulang tahun, enggan sekali untuk hanya sekedar mengirimkan sms selamat ulang tahun, ketika ada teman yang mendapatkan kebahagiaan, jarang sekali mengucapkan selamat, dan masih banyak lagi yang lain. Mulai sekarang, mari bersama-sama mengasah rasa agar rasa yang kita rasa bisa dirasa sebagaimana rasa itu seharusnya dirasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s