Semut dan Kebinasaan

semutDahulu kala, kira-kira ketika aku masih SMP, ku punya kebiasaan nongkrong. Tempat nongkrongku bukan tempat sembarangan. Jika orang lain biasa nongkrong di kafe, warkop, atau pinggir jalan, aku punya tempat lain yang lebih spesial. Tempat itu adalah kamar mandi. Kamar mandi dengan shower dan bathup? Ah… bukan seperti itu gambaran kamar mandi yang ku punya. Kamar mandiku hanyalah sebuah kamar mandi sederhana yang biasa dimiliki oleh mayoritas rakyat Indonesia, kamar mandi dengan gayung dan bak mandi. Lantas… kenapa aku begitu senang nongkrong di kamar mandi yang katanya orang banyak penunggunya? Ya… karena di tempat itu aku punya teman curhat. Teman curhatku bukan cuma satu, melainkan puluhan bahkan ratusan. Mereka adalah segerombolan semut.

            Beginilah sekiranya gambaran morfologi kamar mandi tempat nongkrongku. Kamar mandi itu dindingnya dilapisi dengan lantai keramik tapi cuma separuh dinding. Jadi ada batas antara dinding keramik dengan yang tanpa keramik. Batas inilah yang dijadikan jalan oleh semut-semut itu untuk berjalan dari dinding yang satu ke dinding yang lain. Aku senang sekali memperhatikan deretan semut-semut itu ketika berimigrasi. Sesekali ku halangi jalan mereka dengan tanganku. Tiap ke kamar mandi ku suka sekali memperhatikan segerombolan semut itu. Beberapa kali ku ceritakan cerita hidupku pada mereka, mereka pun dengan sabar mendengarkan sembari terus berjalan. Suatu ketika, aku bernadzar jika aku kembali menjadi juara kelas, aku akan memberi sahabat-sahabatku makanan yang banyak sekali. Ya, itu janjiku.

            Tak disangka, ternyata keinginanku kembali terkabul, kembali menjadi juara kelas. Sayangnya, aku lupa akan nadzarku terhadap teman-temanku, segerombolan semut-semut itu. Hari berganti hari, ternyata aku tetap lupa. Hingga suatu ketika aku teringat akan nadzar itu. Segera ku berlari ke dapur dan mengambil satu sendok penuh gula pasir putih. Segera ku taruh gula-gula itu di persimpangan jalan yang biasa dilewati oleh teman-temanku. Aku pun bernafas lega karena bisa menunaikan nadzarku dan aku yakin teman-temanku akan sangat menyukai hadiahku.

            Hari berganti hari dari hari penganugerahan hadiah sesendok gula itu. Tapi, semuanya jauh dari yang ku khayalkan. Persimpangan jalan yang biasa mereka lewati itu tak seekor pun semut ku temukan semut-semut sahabatku. Mereka telah tiada, mereka telah binasa. Sesendok gula pasir itu telah mendatangkan bencana bagi mereka bukan mendatangkan suka cita seperti yang awalnya ku harapkan. Ku berikan satu sendok gula pasir itu karena aku kasihan pada sahabat-sahabatku yang harus menempuh ratusan kilometer jarak –ukuran semut- untuk mendapatkan makanan. Tapi, ternyata bukan itu yang mereka harapkan. Mereka sungguh tak tamak, akulah yang tamak. Karena ketamakan yang ku bungkus dengan rasa prihatin itu telah membuat sinyal feromon(*) yang mereka keluarkan kacau. Membuat semut yang satu tidak bisa berhubungan dengan semut yang lain.

            Seharusnya manusia harus banyak belajar pada sahabat-sahabatku ini, para semut. Mereka sama sekali tak mengutamakan ketamakan. Mereka mencari makan hanya untuk mencukupi kebutuhan mereka bukan untuk berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan. Pada dasarnya sesuatu yang berlebih itu yang nantinya akan melemahkan sinyal kepedulian kita terhadap yang lain seperti halnya tumpukan gula pasir yang melemahkan sinyal feromon pada semut. Kecuali jika sesuatu yang berlebih itu kita bagi dengan yang lain sehingga sinyal kepedulian kita kembali kuat bahkan semakin kuat. Akan tetapi banyak yang enggan berbagi akan kelebihan yang mereka punya sehingga bukan kuatnya sinyal yang mereka dapatkan melainkan kebinasaan. Oh… semut-semut sahabatku, terimakasih atas pelajaran yang berharga ini dan tak lupa pula ku ucapkan maaf karena perbuatanku yang lalu, yang telah mengacaukan sinyal feromonmu dengan sesendok gula pasir. Aku sama sekali tak tahu jika itu semua akan menjadi sumber kebinasaan bagimu.

(*)feromon adalah sebuah hormone yang dikeluarkan oleh semut sehingga antara semut yang satu dengan yang lain bisa berjalan beriringan. Feromon ini merupakan salah satu bentuk biosinyal karena sesungguhnya semut tidak punya mata sehingga hormone inilah yang memberikan tanda jika semut yang satu ingin berkomunikasi dengan semut yang lain.

Advertisements

2 thoughts on “Semut dan Kebinasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s