Membangkai

digaleri.com-hamster imut sedang tidurJanganlah heran jika akhir-akhir ini aku sering menuliskan sesuatu di sini. Seringnya tulisan diposting mengindikasikan bahwa banyak waktu luang yang ku punya. Tapi, satu minggu terakhir ini bukan lagi banyak, tapi melimpah waktu luang yang ku punya. Liburan panjang natal telah datang tapi tak ada alasan kuat untuk pulang kampung. Liburannya terlalu sempit, akan habis waktu di jalan jika ku memaksakan pulang. Lantas, apa yang aku lakukan selama liburan yang agak panjang ini? Ya, jawabannya adalah judul tulisan ini, membangkai. Membangkai di kamar kosan dengan hidup yang tanpa arah dan tujuan. Rutinitas ini agaknya membuatku punya gambaran bagaimana rasa stress yang dialami oleh para fresh graduate tatkala menunggu panggilan pekerjaan. Padahal sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang sarjana yang mau tidak mau harus segera mencari yang namanya pekerjaan.

            Sudah tak terhitung berapa puluh kali orang rumah menanyakan akan pekerjaan. Ku jawab saja sekenanya, walaupun sebenarnya aku tak punya gambaran pasti. Aku sama sekali tak khawatir akan hal yang akan terjadi setelah lulus nanti, tapi itu dulu. Sedikit demi sedikit ku mulai punya rasa khawatir dan mulai intens berfikir pekerjaan apakah yang sekiranya mengahasilkan banyak uang dan halal pastinya. Rasa khawatir itu hanya sebatas rasa karena realita yang terjadi aku hanya membangkai di kamar. Aku tak habis fikir kenapa sepertinya tak ada celah bagiku untuk melakukan sesuatu untuk masa depan, ya hanya sebatas ini yang ku lakukan, membangkai. Hal lain yang ku lakukan adalah memperhatikan kegiatan orang lain melalui dunia maya dan membandingkannya dengan hidupku. Setelah ku perhatikan, akan timbul tanda tanya, apakah mereka juga pernah membangkai? Ah… tak taulah, yang pasti hidup mereka lebih produktif sehingga kemungkinan membangkai akan sangat kecil sekali.

            Aku ingin segera menemukan titik balik hidupku, yang membuatku bankit dari kebiasaan membangkai ini. Aku ingin sekali menjadi orang yang produktif dan inovatif. Seperti zainuddin yang bangkit dari keterpurukannya setelah ditinggal menikah Hayati, lantas menjadi penulis sukses yang kaya raya dan dermawan (efek nonton film ‘tenggelamnya kapal van der wijck’). Setelah timbul keinginan yang membuncah dalam dada, tapi tetap saja sepertinya tak ku temulakan jalan, lantas ku kan kembali ke kebiasaan semula, kebiasaan membangkai. Sebenarnya siapa yang salah dalam hal ini? Jawabannya adalah diriku sendiri dengan mindset yang tak pernah mengubah diri untuk lebih berharga dari hanya sekedar membangkai.

Tak sengaja ku temukan kalimat ini yang membuatku dengan alasan yang kuat akan sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan ini, kebiasaan membangkai.

Syahwat itu: banyak makan, banyak bicara, banyak tidur. Maka saat syahwat terkendali, efisien sekai hidup kita

Advertisements

2 thoughts on “Membangkai

  1. Jadi ingat sebuah hadits..

    “Pengangguran menyebabkan hati keras (keji dan membeku).” (HR. Asysyihaab)

    Kata Ustadz ane, kejahatan memang banyak muncul dari pengangguran. Baik tingkat kecil pe besar. Makanya klo orang yg suka ngisengin orang biasanya orang yg lg gk da kerjaan, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s