Teladan dan Jam Malam

teladan_sikap_dalam_kesederhanaan__ayahku_by_aurel7-d4kgs45Terarahnya hidup kita sangatlah erat kaitannya dengan adanya pedoman dan seseorang yang menjelaskan serta mengamalkan isi pedoman itu. Seseorang itu biasa kita sebut teladan. Pedoman hidup seorang muslim sepertiku adalah Al-Quran dan teladan yang paling sempurna di antara para teladan adalah baginda Rosulullah SAW. Sungguh tak ada sedikitpun celah dalam diri beliau yang tak pantas untuk tak diteladani, semuanya amat sangat pantas bahkan bisa dibilang merupakan keharusan untuk meneladani apa apa yang beliau lakukan dan perbuat. Berbeda halnya dengan manusia yang lain, apalagi manusia yang hidup di zaman sekarang, zaman yang penuh dengan permainan intrik licik sehingga menjadi buram mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang sebenarnya tulus atau yang hanya berpura-pura tulus.

            Sudah tak terhitung berapa kali diri ini dikecewakan oleh orang-orang yang awalnya begitu ku kagumi. Tidak lah berlebihan jika ku sebut orang-orang itu sebagai teladan. Seiring berjalannya waktu, para teladan itu berguguran, terleliminasi satu per satu. Rasa kecewa sedikit membekas ketika menghapuskan nama-nama mereka dari daftar teladan. Mungkin terlalu dini saat ku angkat mereka jadi teladan, sehingga terlalu dini pula ketika ku putuskan mereka untuk tak lagi jadi teladan. Harusnya dari awal ku sepenuhnya sadar bahwa mereka juga manusia bukanlah malaikat yang hanya melakukan hal-hal baik. Lantas kali ini aku akan bercerita pengalamanku tentang seorang teladan, tepatnya kehilangan seorang teladan. Tapi, bukan aku yang kehilangan melainkan aku sendiri yang dihilangkan, atau mungkin aku sendiri yang menghilangkannya dalam diri. Ah… kenapa jadi begitu rumit, kurang lebih seperti ini ceritanya.

            Berawal dari kebiasaan kurang baik yang ku lakukan beberapa hari berturut-turut. Sungguh, ini tak sepenuhnya tak baik tapi hanya sedikit kurang sesuai dengan aturan yang ada saja. Pernah berpengalaman dengan yang namanya PKM (program kreativitas mahasiswa)? Kemungkinan besar banyak yang pernah berkecimpung di program ini. Kebetulan, di tahun 2013 ini aku mendapatkan dana hibah 3 proposal sekaligus dengan rincian, satu PKM K (kewirausahaan) dan dua PKM P (penelitian). Bisa dibayangkan, bagaimana rempongnya diri ini membagi waktu antara ketiganya, agar semuanya adil dan tak ada yang merasa didzolimi. Tak bisa membayangkan bagaimana rempongnya laki-laki yang punya istri 2, 3, atau 4, hahaha. Menggeluti penelitian ini mengharuskanku untuk mendekam di laboratorium hingga tengah malam dan itu terjadi hingga beberapa hari dan dari sinilah semua berawal.

            Kala itu, ku ajak seorang temanku untuk menemaniku di laboratorium dan pastinya pulang ke kosan hingga hampir tengah malam. Ketika dalam perjalanan pulang dia mengajakku berbicara dan aku sudah tahu arah pembicaraannya akan kemana,

“Dit, masih punya jam malam kan? (umumnya jam malam, jam 21.00)” tanyanya memulai percakapan.

Aku agak tertohok dengan pertanyaannya, aku pun menjawab “Kalau aku ya, ga begitu kaku dengan peraturan seperti itu. Menurutku jam malam itu kapan aja selama aku tidak melakukan hal yang macam-macam” Jawabku sedikit kesal

“Tapi kan mana orang tahu kamu ga ngelakuin macem-macem, yang mereka lihat hanya kamu perempuan yang pulang malam dan itu ga enak dilihat”

“ya terserah mereka mau menganggap aku apa, yang penting mereka ga ngerugiin aku dan aku ga ngerugiin mereka” Jawabku membela diri

“Oke, jangan lihat objek yang melihatmu sebelah mata, mari kita alihkan objeknya ke orang yang selama ini menganggapmu baik”

“Maksudnya?” tanyaku

“Ya, bayangkan mereka yang selama ini melihat sisi baikmu, menjadikanmu sebagai contoh, menjadikanmu teladan. Ketika mereka melihatmu seperti ini, maka sesungguhnya mereka telah mengalami hal yang menyakitkan dan kamulah penyebabnya”

“Kok bisa?” tanyaku tak mengerti

“ya, mereka akan mengalami hal yang menyakitkan karena mereka telah kehilangan, kehilangan seorang teladan. Bukan jam malamnya yang menjadi masalah, tapi teladan yang kamu berikanlah inti dari permasalahan ini”

            Seketika ku terdiam, tertampar oleh perkataannya, tersadarkan oleh opininya. Bagaimana mungkin kekecewaan yang selama ini ku alami, justru aku lah yang menjadi penyebabnya terhadap orang lain. Ah… benar-benar ‘gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan benar-benar jelas ku lihat’. Sungguh malu diri ini yang selama ini merasa paling tersakiti karena tingkah pola para teladan yang sikapnya telah menyisakan kekecewaan dalam diri. Sungguh malu diri ini merasa paling berhak menghakimi mereka para teladan karena setitik kesalahan yang mereka perbuat. Padahal diri ini tak jauh berbeda dengan mereka, bahkan lebih buruk. Janganlah merasa paling terdzolimi akan perbuatan sesorang karena bisa jadi itu adalah akibat dari kedzoliman yang kita lakukan pada orang lain. Sungguh menjadi teladan dan meneladani orang bukanlah perkara mudah, tapi itulah gunanya ukhuwah yang akan senantiasa saling mengingatkan satu dengan yang lain. Sebagaimana yang ku alami ini, kritikan halus namun menohok yang temanku lakukan karena ukhuwah yang kita jalin. Terimakasih atas pelajaran yang sungguh berharga ini, pelajaran mengenai teladan dan jam malam.

Advertisements

6 thoughts on “Teladan dan Jam Malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s