Penyangkalan

danbo_on_street_by_lee_sutil-d5ih03aKu telah gadaikan satu hari kemarin dan satu hari ini untuk sejenak menenggelamkan diri di atas kasur bersama bantal dan guling. Bersama rasa malas dan rasa sakit yang entah sejak kapan selalu tanpa absen datang menghampiriku. Tak mengharapkan rasa itu datang tapi bagaimana mau mengelak jika dia sudah datang, yang ada hanyalah mengahadapinya dengan pasrah, tanpa perlawanan. Ku ambil novel Inferno karya Dan Brown yang sejak lama ingin ku baca. Sebenarnya sudah sejak lama novel ini mulai ku baca, tapi tak kunjung selesai ku membacanya. Percaya atau tidak, tiap kali membaca novel ini aku akan mimpi buruk malamnya. Ya, mimpi buruk. Entah ini sugesti atau bukan, yang pasti beginilah adanya. Tapi ada satu bagian dari buku ini sehingga mendorongku untuk menuliskan sesuatu dengan judul tulisan seperti di atas, penyangkalan.

            Novel tersebut menuliskan bahwa pikiran manusia memiliki mekanisme pertahanan ego primitif yang menafikan semua realitas yang menimbulkan terlalu banyak ketegangan untuk ditangani otak, mekanisme itu bernama penyangkalan. Katanya lagi, penyangkalan adalah bagian penting dari mekanisme penyesuaian diri manusia. Tanpanya, kita akan terjaga setiap pagi dengan perasaan tegang tentang berbagai kemungkinan, misalnya saja kemungkinan cara kita akan mati.

            Agak tertikam dengan paragraf di atas, kenapa? Karena sudah tak terhitung, berapa banyak penyangkalan-penyangkalan yang telah ku lakukan untuk sekedar membuat diri ini tenang, tenang yang abstrak, hanya sekedar fatamorgana belaka. Penyangkalan pertama, mengenai skripsi. Aku selalu meninabobokkan rasa khawatirku tentang skripsi dengan meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Rasa tenang itu semakin dimantapkan dengan proposal yang telah ku selesaikan, tapi sebenarnya jika mau menelaah lebih jauh, aku belum melakukan apa-apa untuk skripsiku, masih nol besar. Karena sesungguhnya yang ku lakukan hanyalah penyangkalan belaka.

            Penyangkalan kedua, tentang masa depan. Aku benar-benar telah membuat penyangkalan besar-besaran tentang masa depanku. Berandai-andai bahwa masa depanku telah begitu terang dan jelas ku rancang. Begitu mantap ku langkahkan kaki menuju masa depan, setidaknya itulah yang kaluargaku ketahui tentang diriku. Padahal jika boleh jujur, aku masih begitu rapuh, terombang ambing ke sana kemari mengenai masa depan ini, benar-benar masih buram dan abu-abu. Aku sebenarnya tak begitu tahu pasti kemanakah akan ku bawa langkah ini untuk menggapai masa depan, karena aku juga tak tahu pasti dimanakah tujuanku sebenarnya. Itulah mengapa, tiap kali ada yang menanyakan rencanaku untuk masa depan, maka dengan agak tergagap ku jawab apa adanya sesuai dengan isi otakku kala itu, sehingga beda orang, maka akan beda pula jawaban tentang masa depan yang ku berikan.

            Penyangkalan ketiga, mengenai pasangan hidup. Sedari kecil sungguh aku telah ditanamkan berbagai doktrin bahwa memikirkan lawan jenis adalah hal yang tak baik dan harus ku hindari sejauh mungkin. Maka seperti itulah yang ku pahami hingga sekarang. Ku ucapkan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada orang tuaku yang telah menanamkan doktrin ini, setidaknya inilah yang menjadi bentengku selama ini untuk menghindari yang namanya perasaan yang tak seharusnya. Lantas, apakah itu sebuah penyangkalan? Ya, bisa jadi. Setidaknya, hal itulah mungkin yang telah membuatku susah ‘suka’ pada lawan jenis dan ternyata dampaknya, susah juga untuk menghilangkannya tatkala aku telah ‘suka’. Cukup mudah mencari penyangkalan untuk menghindari kasus yang satu ini, cukup dengan pernyataan ‘jodoh pasti bertemu’ hahaha.

            Penyangkalan keempat, mengenai studiku. Tak dapat ku pungkiri, ingin rasanya melanjutkan studi hingga batas tertinggi yang bisa ku capai. Tapi sepertinya, untuk sekarang ku simpan dulu idealismeku ini. Mengapa demikian? Karena orang tuaku sudah tak lagi muda. Mungkin ini juga sebuah penyangkalan akan ketidakmampuanku, mungkin iya, tapi tak apalah. Karena sesungguhnya orang tuaku sudah tak lagi muda, tak lagi punya daya seperti dahulu kala. Itu ku sadari ketika ibuku mengunjungiku ke kosan beberapa waktu lau. Ku ajak beliau berkeliling untuk membeli sesuatu, berpindah dari toko yang satu ke toko yang lain. Taukah kawan? Ibuku sudah tak segesit dulu, sudah tak berjalan secepat dulu. Terlalu sering beliau tertinggal di belakang karena langkahku yang terlalu cepat, lantas ku putuskan untuk menggandeng beliau yang ternyata juga tak setegap dulu berjalan. Ayahku juga sudah tak sesehat dulu, beliau juga telah terdeteksi diabetes. Ya Allah, lantas harukah ku ikuti ego untuk meneruskan studi, padahal ku tak pernah tahu kapan kiranya diri ini bisa terus bersama mereka. Maka ku ikuti penyangkalan yang satu ini, penyakalan yang menurutku paling dan memang harus ku lakukan.

Penyangkalan kelima, mengenai UAS (ujian akhir semester) yang akan ku hadapi besok. Belum sama sekali ku sentuh sesuatu yang berkaitan dengan mata kuliah yang akan diujikan besok. Tapi, diri ini begitu tenangnya, termasuk juga begitu tenang untuk memilih menuliskan cerita ini daripada belajar. Rasa tenang ini tak lain karena aku telah membuat sebuah penyangkalan, penyangkalan benar-benar efektif untuk menimbulkan rasa tenang, seakan tak terjadi apa-apa, padahal besok peperangan UAS akan dimulai. Penyangkalan yang ku buat berupa, nanti saja belajarnya kan masih ada waktu, nanti aja belajarnya kan udah agak ngerti, nanti aja belajarnya kan yang lain kayaknya juga belum belajar, dan masih banyak lagi penyangkalan.

            Tak apalah mereka sebut aku pengecut yang selalu melakukan penyangkalan akan sesuatu yang tak mampu ku lakukan. Aku tak kan menyalahkan kalian dan tak pula diriku sendiri akan penyangkalan-penyangkalan itu. Karena disadari atau tidak, semua orang juga telah melakukan penyangkalan dalam hidup mereka, karena penyangkalan adalah proses alamiah dalam otak. Melakukan penyangkalan atau tidak, itu adalah pilihan hidup kita, selama penyangkalan itu mengarah ke hal-hal yang baik, kenapa tidak? Lantas, ku lanjutkan hidupku dengan berbagai penyangkalan ini karena sebenarnya ku tahu, penyangkalan adalah jalan terbaik yang memeng seharusnya ku pilih. Ah… benar-benar hidup penuh penyangkalan.

Advertisements

4 thoughts on “Penyangkalan

    • hahaha… memang hidup tak bisa dipisahkan dari yang namanya penyangkalan rin. setidaknya dari komenmu ini, aku bisa tahu klo bukan cuma aku aja yang melakukan penyangkalan, tapi km juga, 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s