The Power of Paksa Rela

danbo-6Pernah ngerasa belum siap untuk melakukan sesuatu tapi diharuskan untuk melakukan sesuatu itu?  Nah, itu yang namanya pemaksaan. Kata pemaksaan berasal dari kata dasar ‘paksa’. Lantas ketika kita kemudian melakukan sesuatu itu, nah itu yang namanya kerelaan. Kata kerelaan berasal dari kata ‘rela’. Ketika ku gabungkan kedua kata dasar ini, maka akan terbentuk suatu frasa yang menurutku agak asing dan menggelitik, ‘paksa rela’. Kenapa asing? Ya karena menurutku, mana ada gitu ya orang yang dipaksa bakalan rela, yang ada tuh mereka bakalan ga rela, ga ikhlas dunia akhirat, hahaha. Tapi ga juga sih, kadang paksa dan rela bisa digabungkan. Pemaksaan akan diikuti dengan kerelaan ketika seseorang yang dipaksa memang tak punya pilihan. Tapi, akan menjadi tak rela ketika pemaksaan dilakukan pada seseorang yang telah punya pilihan. Nah, untuk mendukung pendapatku yang kedua, aku akan menyertakan dua cerita tentang tragedi ‘paksa rela’ yang orang sekitarku alami dan ku alami sendiri.

            Perjodohan kerap kali dilakukan para tetua pada anak mereka. Cara ini kerap kali ditempuh melalui jalur pemaksaan jika sang anak tak mau mengikuti aturan permainan. Apakah tragedi ini ku alami sendiri? Ga sih, bukan aku, tapi temennya temenku. Ceritanya gini, temennya temenku ini –sebut saja si A- dijodohkan sama orang tuanya, lebih tepatnya dipaksa untuk dijodohkan. Tapi si A sama sekali tak menolak walaupun pada dasarnya dia tak setuju dengan perjodohan ini. Kenapa dia tak menolak? Jawabannya seperti yang ku tuliskan tadi, karena dia tak punya pilihan. Pilihan dari segi apa? Pertama dia tak punya pilihan untuk memilih siapa yang akan datang dalam hidupnya karena memang sebelumnya dia tak punya  seseorang spesial, seseorang mungkin ada tapi tak begitu berpengaruh nyata pada perasaannya. Kedua, dia tak punya pilihan untuk tak menolak si calon karena kriteria yang seharusnya ada telah ada pada dirinya. Ketika segalanya telah terpenuhi, maka di saat itulah pilihan akan menjadi tak ada. Maka, tak ada jalan lain selain kerelaan dan inilah yang disebut ‘paksa rela’.

            Nah, tragedi paksa rela yang ku alami terjadi pagi ini. Rencananya sih hari ini adalah hari perdana pelaksanaan penelitianku. Tapi, karena bangun kesiangan dan ada beberapa administrasi lab yang belum aku penuhi, penelitianku ku tunda untuk ku laksanakan besok –mungkin-. Salah satu persyaratannya aku harus meminta tanda tangan dosen pembimbingku. Tak lama kemudian, tibalah aku di departemen dan bertemu dengan pembimbing. Ku sodorkan kertas administrasi lab yang harus beliau tanda tangani, tapi ternyata yang ku dapatkan tak hanya tanda tangan tapi lebih dari itu. Percakapannya kurang lebih seperti ini,

“kapan kamu kolokium? Kalau minggu depan gimana?”

“hah? Minggu depan pak?”

“iya, sana ambil formulir pendaftaran di komdik nanti saya tanda tangani”

Tak ada pilihan selain menjawab “baik pak”

Benar-benar pemaksaan bukan? Tapi aku rela saja karena aku memang tak punya pilihan karena semuanya telah terpenuhi. Kembali, ketika segalanya telah terpenuhi, maka di saat itulah pilihan akan menjadi tak ada. Buat gambaran saja, sebelum melaksanakan penelitian untuk penyusunan skripsi, aku harus melakukan yang namanya kolokium (analog sama seminar proposal/sempro). Ya, jujur saja semuanya telah ku penuhi untuk kolokium ini mulai dari draft penelitian, hari buat kolokium, ijin dari dosen hingga tanda tangan dosen pun sudah ada. Lantas yang membuatku belum siap? Belum siap melangkah ke jenjang selanjutnya #eh, maksudnya belum siap mental buat maju karena ngerasa belum banyak baca. Tapi, setelah ku lengkapi formulir pendaftaran kolokium, entah dari mana datangnya kesiapan itu muncul. Rasanya ngerasa siap banget dan merasa ringan untuk melangkah. Sungguh, benar-benar merasa mantap untuk maju kolokium. Mungkin ini kali ya yang disebut the power of paksa rela. Terimakasih pak, sepertinya saya yang malas ini memang cocok dengan bapak yang mempunyai sistem paksa rela. Jadi pengen ngerasain tragedi paksa rela yang lain hahaha.

            Kolokiumku in shaa Allah akan dilaksanakan pada hari Rabu, 29 Januari 2014, jam 09.00 di departemen Biokimia, lantai 4 gedung fakultas peternakan, IPB. Buat kamu yang baca blog ini dan anak IPB yang minggu depan ga ada kegiatan datang ya ke kolokiumku. Semoga kolokiumku dilancarkan dan aku bisa menjawab semua pertanyaan dari para peserta dan dosen yang akan mengujiku hari itu, amiiin.

Advertisements

8 thoughts on “The Power of Paksa Rela

    • iya ada beberapa fakultas di IPB yang menerapkan sempro. buat anak mipa pnting nih sempro, tkutnya ada metode yang salah bisa diperbaiki sebelum penelitian. terimakasih, semoga kita sama-sama dilancarkan penelitiannya, amiiin

      • Ya. Bisa dibilang lulus 4,5 tahun di Fahutan masih normal. Tapi bukan berarti gak bisa pas 4 tahun lulus sih. Meskipun baru PKLP semester 8 tapi sebenarnya untuk di KSHE udh bisa mulai penelitian sejak semester 6.. Tapi itu khusus orang-orang yang penelitiannya sekitar kampus sih (kuliah sambil penelitian)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s