Indahnya Konfirmasi

confirmHari ini kembali ku dapatkan sesuatu yang sangat berharga, pengalaman hidup untuk bekalku ke depan dalam menjalani hidup. Semuanya berawal ketika dengan sengaja ku buka KRSku tanpa kesiapan mental yang cukup. Ternyata IPK yang selama ini ku jaga keseimbangannya telah terjerembab tanpa pernah ku sadari sama sekali, kalau bahasa kerennya sih ‘it out of prediction’. Pas pertama kali lihat huruf mutu yang tertera untuk mata kuliah bersangkutan, aku langsung mengernyitkan dahi ‘kok bisa?’. Awalnya sih biasa saja, tapi setelah ku bertanya pada temanku yang sekelas denganku, ternyata dia mendapatkan huruf mutu yang nyaris sempurna. Memang harus ku akui, temanku yang satu ini usahanya lebih keras daripada usahaku, maka tak heran jika dia mendapatkan nilai yang sesuai dengan usahanya. Akan tetapi, yang membuatku agak tidak terima adalah karena nilai kita tak terlampau berbeda jauh ketika UTS –menurutku sih, hehe-. Rasa penasaranku semakin memuncak ketika ku ceritakan perihal nilaiku ini pada saudaraku dan temanku yang lain, mereka sama-sama berkata ‘hah? Kok bisa?’. Maka setelah perundingan panjang, tibalah kita pada satu keputusan, bahwa aku harus menemui dosen yang menjadi coordinator mata kuliah ini untuk menanyakan nilai UAS ku yang sebenarnya, ya melakukan konfirmasi.

            Aku sebenarnya bukan tipe mahasiswa yang suka mempermasalahkan nilai, sama sekali tidak. Bagiku, nilai yang ku dapat ya itulah yang terbaik. Tapi, kedua temanku ini memaksaku untuk melakukan konfirmasi lebih lanjut karena memang huruf mutu mata kuliah ini telah mencoreng IP ku semester ini, sungguh. Akhirnya, dengan mengesampingkan prinsipku –tak pernah protes nilai- datanglah aku ke bagian komisi pendidikan (komdik) mahasiswa. Aku pun bertanya pada seorang bapak yang ada di sana terkait nilai UAS. Tapi, bapak itu berkata –dengan judesnya- bahwa nilai yang di KRS adalah nilai yang tak bisa diotak-atik lagi. Beliau bilang aku harus menemui dosen coordinatornya jika ingin bertanya masalah nilai. Aku pun langsung memasuki ruang dosen yang bersangkutan. Aku pun langsung menemui bagian resepsionis yang sedang berjaga. Seorang mbak-mbak yang judesnya masyaAllah. Aku tuh ya ga habis fikir sama orang yang judes, kok bisa-bisanya jadi orang judes padahal kan jadi orang ramah jauh lebih elegan. Kalau aku sama sekali ga bisa jadi orang judes, soalnya aku ngerasain sendiri gimana ga enaknya dijudesin orang. Apa si mbak itu ga pernah dijudesin orang ya? Lho, kok malah ghibah? Ok, back to the topic.

            Si mbaknya bilang kalau si dosen lagi ga ada di tempat dan baru ada hari rabu, ya tepatnya hari ini. Jadilah pagi tadi aku ke ruangan yang dijaga sama si mbak-mbak judes tadi dan ternyata masih belum berubah, tetep judes. Ternyata ibunya belum datang dan akan datang jam 13.00. Akhirnya ku putuskan untuk tetap bertahan di kampus sembari menunggu si ibunya. Aku berencana akan ke ibunya jam 14.00. Aku pun kembali ke ruangan tadi sesuai dengan jam yang ku rencanakan. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan untuk bertemu sang dosen datang juga #horeee. Ku buka ruangan beliau dan aku pun disambut dengan senyuman ramah sang dosen yang tentunya beda pake banget sama si mbak-mbak resepsionis. Aku pun mengenalkan diri dan memberitahu maksud kedatanganku padanya. Setelah melalui perkenalan sebentar, terjadilah percakapan tentang nilai,

“Saya ingin mengonfirmasi tentang nilai mata kuliah x bu”

“Bukannya nilainya sudah di KRS ya mbak?” tanya si ibu dosn yang ramah

“iya bu sudah, tapi tidak sesuai dengan prediksi saya”

“sebentar ya” ibunya langsung menghampiri computer di pojok ruangannya dan membuka file terkait nilai itu dan kembali bertanya, “mbak IPK nya berapa?”

Wah…pertanyaannya sensitive nih ibu, mentang-mentang saya nanya nilai, ibunya malah balik nanya IPK “x,xx bu” maaf ya sengaja disamarkan karena takut menimbulkan fitnah, hahaha.

            Ibunya pun mengeluarkan secarik kertas, menuliskan setiap nilai yang kudapat dengan persentasenya, lengkap dan ternyata setelah dihitung nilai yang di KRS benar saudara-saudara.

“IPK nya kok bagus –menghibur nih ibu- kenapa nilai mata kuliah ini jelek mbak?” tanya si ibu dosen

“berarti saya yang kurang belajar bu, terimakasih bu atas penjelasannya” jawabku sembari bersalaman dan mohon pamit keluar ruangan.

            Apakah aku sedih? Atau mungkin kecewa, karena nilai yang tak sesuai harapan? TIDAK SAMA SEKALI. Malahan yang ada aku merasa lega dan tak terbebani dengan prasangka buruk yang selama ini ku pikirkan dan ku timbang-timbang. Konfirmasi yang ku lakukan malah membuat kedewasaanku meningkat –perasaanku sih-. Betapa tidak, dari pengalaman ini aku bisa membedakan mana yang judes dan mana yang ramah, mana yang usahanya maksimal dan mana yang minimal, mana yang sungguh-sungguh dan mana yang main-main. Betapa indahnya konfirmasi, karena sesungguhnya konfirmasi membenarkan sesuatu yang sudah terlanjur salah prediksi, menghargai pihak yang merasa tersakiti, dan mendamaikan kedua belah pihak yang sedang kontradiksi.

Advertisements

2 thoughts on “Indahnya Konfirmasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s