Terjadi Padaku

Danbo-lagi-galau-di-pinggir-jalan-555x370Pada suatu masa, hiduplah dua buah keluarga yang rumahnya berdekatan, bertetangga satu dengan yang lain. Keduanya hidup dengan rukun dan saling membantu jika salah satunya sedang membutuhkan bantuan. Suatu ketika, kepala keluarga dari salah satu keluarga ini –sebut saja keluarga A- dipecat dari pekerjaan yang merupakan satu-satunya mata pencaharian keluarga ini. bisa dibayangkan betapa kelimpungannya keluarga ini, di tengah menggunungnya kebutuhan yang harus mereka penuhi, tiba-tiba satu-satunya mata pencaharian mereka habis tiada bersisa. Maka cara tercepat yang bisa mereka lakukan adalah meminjam uang dari tetangga dekat mereka yang selama ini menjalin hubungan baik dengan mereka, yaitu keluarga B. Maka terjadilah transaksi hutang piutang antara dua keluarga ini satu kali, dua kali, hingga untuk yang ketiga kalinya. Tak ada cara lain yang bisa keluarga ini lakukan selain berhutang karena pekerjaan yang diharapkan tak kunjung datang.

            Di sisi lain, keluarga B yang dihutangi dengan senang hati memberikan pinjaman uang karena memang selama ini hubungan dua keluarga ini baik. Tapi, itu terjadi ketika peminjaman uang yang pertama. Ketika mereka meminjam uang yang kedua, terbesit rasa ‘kok ngutang lagi sih?’. Ketika ada salah satu anggota keluarga A di rumah si keluarga B, maka akan terbesit pemikiran ‘pasti mau ngutang lagi nih’ dan memang benar si keluarga A kembali berhutang ‘tuh kan bener perkiraanku’ piker keluarga B. Tapi, si keluarga B tidak mengluarkan uneg-uneg yang mereka rasakan, mereka hanya menyimpannya dan tetap memberikan pinjaman uang sesuai dengan apa yang keluarga A minta. Tak pelak si keluarga A begitu terharu dan berniat akan membalas kebaikan hati si keluarga B, padahal mereka tak tahu saja kalau keluarga B merasa keberatan dengan hutang-hutang keluarga A.

            Suatu ketika, keluarga A datang untuk bertamu ke keluarga B, akan tetapi tak ada satu orang pun anggota dari keluarga B yang membukakan pintu karena mereka tak mau lagi memberikan hutang pada keluarga si A. Bunyi bel rumah si B berhenti berbunyi yang artinya keluarga A sudah kembali ke rumah mereka dan keluarga B merasa berhasil dengan metode yang mereka lakukan untuk menghindari si keluarga A. Setelah dirasa aman, salah satu dari keluarga B, membuka pintu untuk melihat apakah si keluarga A masih ada atau tidak. Si keluarga A memang sudah tak ada, tapi di depan rumah mereka terdapat sebuah kotak yang cukup besar. Mereka pun membawa masuk si kotak. Setelah mereka buka, betapa terkejutnya mereka, karena isi dari kotak itu adalah sejumlah uang yang sangat banyak dan sepucuk surat.

            Taukah kalian isi surat itu? Ya pasti nggak tahu lah ya. Ternyata isi surat itu mengatakan bahwa si keluarga A akan pindah ke kota lain karena kepala keluarga A mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk pindah. Uang yang ada di kotak itu adalah hutang-hutang mereka selama ini. kenapa jumlahnya jadi banyak? Ya karena si keluarga A menggantinya dua kali lipat dari apa yang mereka pinjam sebagai tanda terimakasih. Air mata pun tak terbendung dari si B, betapa sesungguhnya dia telah dzolim pada si kaluarga A dan selalu bersuudzan pada kaluarga mareka. Padahal mereka memang benar-benar dalam kesulitan dan benar-benar membutuhkan uang. Dan betapa terharunya keluarga si B dengan perbuatan si keluarga A yang dengan ikhlasnya memberikan uang itu. Tak ada kata yang paling pas, selain menyesal.

            Nah, cerita itu merupakan cerita ustadzku dulu pas aku masih sekolah madrasah, ya dengan sedikit gubahan tentunya, ya aku bumbu-bumbui dikit lah biar agak mendramatisir. Dulu aku sama sekali tak percaya kalau cerita yang seperti itu benar-benar terjadi, ‘alah… paling cuma dongeng’ pikirku dulu. Tapi, aku sekarang percaya, karena aku mengalami hal yang ‘mirip’ dengan cerita itu kemarin, ya cerita itu terjadi padaku.

            Ceritanya gini, konon katanya setiap orang yang berkunjung ke kosanku, mereka akan merasa betah dan ingin terus-terusan berkunjung ke kosanku –kontrakan lebih tepatnya-. Tak pelak banyak teman-teman kita yang datang silih berganti ke kosanku itu. Salah seorang temenku punya temen yang sering main ke kosan, sebut saja Mia –nama samaran-. Aku pribadi sih fine fine aja kalau ada orang yang berkunjung ke kosanku, malah cenderung seneng biar kosan ga sepi. Si Mia yang merupakan orang Sunda tulen, orangnya ramah banget, langsung akrab denganku dan anggota kosan yang lain. Tapi sayangnya si Mia ini suka rempong sendiri dan suaranya annoying alias berisik. Kalau dia udah dateng nih, bisa dipastikan bakalan rame dan yang paling mengganggu itu kalau dia manggi-manggil namaku sambil diulang-ulang, itu kan annoying banget. Okelah, untuk pertama, kedua, ketiga, keempat, dst aku masih memaklumi. Tapi, kok dirasa-rasa makin annoying ya makin ke belakang.

            Si Mia kalau udah ke kosan, dia akan memanggil-manggil nama temenku yang merupakan temennya berulang-ulang dari atas motornya. Pun demikian dengan kemarin, ‘hadeuh… pasti si Mia nih, berisik banget, kenapa ga turun aja’ pikirku. Aku pun meneruskan aktivitasku di kamar sambil terus menggerutu. Bisa ku dengar dia memasuki halaman kosan sambil terus ngomong dan aku kurang berminat mendengarnya. Tiba-tiba si Mia juga memanggil namaku berulang-ulanga

“Dita… Dita…Dita…Dita…” panggilnya dengan suara khas yang menurutku annoying.

            Aku tak langsung menjawab karena memang males menanggapinya. Bisa ku dengar langkah kakinya yang berjalan mendekat menuju kamarku. Karena takut ketahuan acuh tak acuh, ketika dia udah deket banget sama kamarku, aku pun menjawab dengan berat “iya… ada apa?”.

Dia pun dengan antusias berkata, “buka dong kamarnya”

“buka aja ga dikuci” jawabku dengan nada datar

Kepalanya pun muncul dari balik pintu, “Dit, mau ikan ga? Nih aku bawa ikan banyak, habis manen tadi”

Aku pun terperangah melihatikan-ikan yang dia bawa, ada ikan mas, ikan nila, ikan bawal dengan ukuran yang besar-besar dan masih segar.

“mau Mia” jawabku antusias

“ambil aja Dita” jawabnya tulus

            Aku pun mengambil 3 ikan darinya. Setelah transaksi ikan itu selesai, si Mia langsung pergi. Aku pun menyesal tiada terkira. Mengapa aku begitu jahatnya padanya, padahal dia dengan baiknya memberikan ikan padaku. Aku pun langsung teringat pada cerita ustadzku yang di depan tadi dan tak pernah ku sangka semua itu terjadi padaku. Dan tak pernah membayangkan pula bahwa aku lah tokoh antagonisnya. Ya Allah, memang sebaik-baiknya prasangka adalah prasangka baik, kenapa harus berprasangka buruk ketika prasangka baik masih memungkinkan. Hikmah yang bisa ku ambil dari kejadian ini adalah, memang tak ada ruginya menjadi orang baik dan jadilah orang baik yang tak lekang oleh waktu.

Advertisements

2 thoughts on “Terjadi Padaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s