Pungutan Liar

15651_10152172653367258_154704037_nPercaya atau tidak ternyata pungutan liar tak hanya terjadi di tempat-tempat berkumpulnya para preman, tapi di tempat-tempat tak terduga juga bisa. Misalnya saja di kosan yang notabene dihuni oleh para mahasiswa dengan uang pas-pasan. Kasian juga ya, udah uangnya pas-pasan masih dipungut juga, liar lagi, hahaha. Disebut pungutan liar karena pungutan ini tidak diatur dalam undang-undang, ya walaupun tak harus undang-undang Negara, minimal di tingkat kelurahan atau desa. Artinya pungutan ini berasal dari nafsu pribadi atau sekelompok orang yang ingin menikmati uang tanpa harus susah payah bekerja. Ya, seperti itulah analisis dangkalku mengenai pungutan liar. Aku pribadi sangat jengah dengan yang namanya pungutan liar ini, karena percaya atau tidak di kosanku sering sekali ada orang mengetuk pintu untuk melakukan yang namanya pungutan liar. Ya, cerita mengenai pungutan liar inilah yang akan aku angkat kali ini.

            Tinggal di asrama yang jauh dari hingar bingar dunia luar membuatku tak sadar akan kebringasan dunia luar. Maka tidaklah mengherankan, ketika keluar dari asrama, wajah polos penuh keluguan ini seringkali ternganga melihat realita hidup yang sebenarnya. Tapi, nggak juga sih, setidaknya aku merasa termasuk anak yang paling pemberani di antara para penghuni kosan. Kenapa begitu? Ya karena setiap ada ‘tamu’ aku lah yang menjadi kandidat untuk menghadapi ‘tamu-tamu’ itu. Perlu saudara-saudara ketahui bahwa sering sekali ada tamu-tamu tak diundang yang kerap kali mendatangi kosan kami, kosan yang dihuni oleh para manusia lugu. Apalagi di kosan yang pertama. Ya, mereka datang dengan tujuan terselubung, tujuannya tak lain adalah melakukan pungutan liar. Pungutan liar ini dikemas dalam beberapa kemasan.

Pertama, ada yang wujudnya menawarkan abate (obat pembasmi demam berdarah) yang katanya adalah program wajib dan harus dibeli (biasanya 4 bungkus 20.000), padahal yang ku tahu sih program abate ini program gratis di desaku, biasanya ibuku mendapatkan obat abate ini secara cuma-cuma dari petugas puskesmas. Pernah satu kali kosanku terjebak dalam pungutan liar yang satu ini dan kami berazzam tidak akan lagi terjebak dalam jebakan abate ini. Pemeran yang biasanya membagikan abate ini adalah beberapa ibu-ibu yang memakai seragam kedinasan, bermuka jutek, gaya bahasanya memburu dan mengintimidasi, sehingga tak pelak membuat lawan bicaranya merasa harus segera menerima dan membayar si abate dengan nominal yang telah ditetapkan. Buat mahasiswa yang lugu, polos, dan pendiam, otomatis strategi yang mereka terapkan akan berhasil telak, tapi tidak padaku yang telah berpengalaman, hahaha, ya walaupun aku juga polos, lugu, dan pendiam sih, hehe #ngarep.

Sebagai pemberitahuan saja, kosanku ini lebih tepatnya adalah sebuah kontrakan. Jadi, semua manajeman terkait kontrakan (mulai dari peraturan, membayar tagihan listrik, dan tagihan air) kitalah yang mengaturnya sendiri, ya ibaratnya rumah sendiri lah ya. Aku mendapat sebuah kehormatan untuk menjadi bendahara, sehingga semua pengeluaran terkait kontrakan harus atas seizinku karena akulah yang memegang semua uang pemasukan kontrakan ini. Maka, tidaklah mengherankan jika ada petugas abate, mereka akan memanggilku untuk menghadapi mereka atau jika aku tidak ada, mereka sudah ku beritahu agar menolak dan memberikan alasan bahwa pemegang uang di kosan ini adalah diriku sehingga tak bisa membayar untuk abate itu. Pertamanya sih, agak deg-degan ngomong sama ibu-ibu ini yang kharisma mengintimidasinya yang sungguh terlalu dan terasa, tapi aku berusaha untuk bertahan agar pungutan liar ini tidak berlanjut. Demi teman-teman kosanku, sahabatku, orang tuaku, bangsa, dan Negara ini #apasih. Beginilah kira-kira percakapanku dengan para ibu-ibu itu (biasanya sih tiga orang),

“Permisi dek, ini ada program abate untuk pencegahan DBD. Program ini wajib….lalala” intinya mereka menjelaskan bahwa program ini harus diikuti dengan membeli 4 bungkus abate seharga 20.000 (biasanya sih).

“Maaf bu kita tidak ikut program itu” jawabku tegas

“Tapi ini wajib dek, jadi semuanya harus ikut untuk menanggulangi DBD” ibunya bersikeras

“Tapi, saya belum nagihin temen-temen bu untuk pegeluaran bulan ini, jadi belum ada uang” jawabku berkelit

“Ya, bisa adek talangin dulu, kan Cuma 20.000” ibunya tetap memaksa

“Saya lagi ga punya uang bu, maaf” jawabk lagi tak mau kalah

“Kan bisa minjem ke temen kosan yang lain” ibunya tetap ga mau nyerah

“Temen-temen saya juga lagi ga punya uang bu” timpalku lagi

“Biklah” jawab ibunya sembari pergi dengan wajah marah yang ditahan, jelas sekali.

            Aku pun masuk kembali masuk ke kosan dengan perasaan lega karena telah menang dari pertempuran panjang itu. Seketika teman-temanku yang lain akan bersorak dan langsung bertanya percakapan yang terjadi di luar tadi antara aku dan ibu-ibu itu. Nah ini masih kemasan yang pertama.

            Kemasan yang kedua, pungutan liar terkait peringatan hari-hari besar islam, misalnya maulid nabi, tahun baru islam, isra mi’raj. Biasanya yang datang menagih pungutan ini adalah pemuda desa di bawah naungan karang taruna. Biasanya mereka membawa sebuah proposal dengan tanda tangan kepala desa sebagai penguatnya. Persiapan yang matang, pikirku. Kemasan yang ketiga, biasanya sumbangan terkait ada penduduk yang katanya sakit keras, harus dioperasi, dan tak punya biaya. Tapi setelah ku tanyakan sakit apa, orangnya dengan ragu menjawab sakit orang yang bersangkutan. Kalau mereka yang meminta sumbangan saja ragu sakit apa, bagaimana dengan saya yang tak tahu apa-apa. Maka tanpa ba bi bu, aku akan menolak dengan alasan yang tepat. Dan masih banyak kemasan-kemasan lainnya.

Advertisements

2 thoughts on “Pungutan Liar

  1. Wah, yg kayak gni juga sering di rumah orang tua di Jakarta.. Biasanya yg bentuk2 sumbangan.. Trkait keabsahan ortu jrg mikirin.. Biar Allah aja yg ngurus..
    Tp jika kita kita meninggal krn mmpertahankan harta yg jadi hak kita itu syahid juga.. Jd bisa dibilang melawan Pungli itu jg Jihad.. 😀

    • iya sih, kalo kita udah berpenghasilan mah, langsung kita ngasih aja buat sumbangan itu tapi msalahnya kita juga sdg mmbutuhkan dan sumbngan yang diminta meragukan, jd lebih baik ga ngasih #ngeles hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s