Sebuah Dedikasi

           dedikasiMalam-malam selanjutnya mungkin akan sering berakhir seperti malam kemarin. Malam dimana aku, kamu, dan dia –singkatnya kami- akan pulang dari kampus lebih malam dari malam-malam sebelumnya. Sungguh tak apa sebenarnya, malah bisa dibilang aku sangat menikmati dengan apa yang ku lakukan ini, walaupun pada akhirnya akan menjadi sebuah rutinitas. Bagaimana tak senang? Berkumpul dengan tim yang bisa dibilang satu pemikiran untuk menuju satu tujuan bersama yang akan menjadi goal di akhir penghujung mengejar predikat sarjana, emas di PIMNAS (pekan ilmiah mahasiswa nasional), dan tujuan lebih jauhnya membawa pulang piala adikarta yang telah lama melanglang buana meninggalkan kampus yang telah melahirkannya, IPB. Tak apa jika banyak yang bilang ini sebuah keinginan yang sungguh terlalu dengan ide yang mungkin amat sederhana. Tapi memang inilah ciri khas kami, jadi juara dengan ide yang sederhana namun berguna. Sayangnya, bukan inilah cerita utama yang akan aku angkat kali ini. Cerita kali ini merupakan cabang yang ternyata lebih menarik untuk diangkat lebih mendalam, setidaknya menurutku.

            Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya kita putuskan untuk mengakhiri diskusi malam itu. Diskusi sengaja kita laksanakan di kampus, tepatnya di bengkel arsitektur lanskap. Tapi, jangan bayangkan bengkel seperti bengkel motor atau mobil yang penuh oli ya, bengkel yang ini berbeda, bengkelnya anak arsitektur. Intinya tempat ini ada meja sama kursinya yang mebuat kita memutuskan untuk memilih tempat ini untuk diskusi kita malam itu. Biasanya tempat rutin buat diskusi adalah kosanku, tetapi berhubung malam iu hujan maka kita putuskan untuk memilih tempat yang kalau hujan, air hujannya tak bisa membasahi kita. Setelah melewati pintu pembatas antara kampus dan dunia luar, kita pun masih sempat berdiskusi tentang proyek yang akan kita jalankan. Diselingi keluhan khas mahasiswa tanggung yang sedang menghadapi masalah yang sesungguhnya tak setinggi gunung. Malam itu hujannya rintik-rintik, sisa hujan sebelumnya. Tanpa komando siapa pun, tiba-tiba kita menjatuhkan pandangan pada satu tempat yang sama, pada bapak-bapak yang memakai jas hujan itu. Memang tak ada yang spesial dari jas hujan yang bapak itu pakai, tapi yang spesial adalah posisi bapak itu malam itu.

            Bapak itu berada di sebuah selokan sambil memunguti sampah yang terjatuh di dalamnya. Di tengah rintik hujan, di saat sepinya jalan, di antara orang-orang yang berlalu lalang, bapak itu dengan setianya memunguti sampah yang ada di selokan. Aku tahu siapa bapak itu, bapak itu adalah petugas kebersihan yang bertugas membersihkan sampah-sampah pada malam hari. Tempat yang bapak itu bersihkan bernama Bara (babakan raya). Tempat ini merupakan tempat paling ramai karena tempat ini menjual berbagai macam kebutuhan yang dibutuhkan para mahasiswa. Mulai dari pangan, sandang, hingga papan. Mulai dari gerobak, warung, warnet, kosan, dan tetek bengeknya ada di kawasan ini. tak pelak kawasan ini begitu ramai dan begitulah hukum alamnya, banyak manusia banyak sampahnya. Kalau tak percaya, datanglah ke kawasan ini ketika malam datang menjelang, sekitar jam 9 atau 10, ketika jalanan mulai sepi, di pinggir jalanan banyak sekali sampah bertumpukan. Sampah bertumpuk di pinggir jalan masih lumayan, parahnya banyak pedangan maupun pembeli yang dengan gampangnya membuang sampah mereka ke dalam selokan yang ada di Bara ini. Lantas, siapa yang akan membersihkan sampah di pinggir jalan hingga ke selokan itu? Jawabannya adalah si Bapak tadi.

            Sungguh dedikasi yan luar biasa ditunjukkan si Bapak ini. Setiap malamnya dengan setianya mengumpulkan si sampah berserakan walaupun harus masuk ke dalam selokan. Ketika diri ini dengan gampangnya mengeluarkan keluhan akan beratnya beban hidup, lantas bisa dipastikan tak akan ada apa-apanya jika dibandingkan beban si Bapak pengumpul sampah itu. Ingin rasanya bertanya, bagaimana kiranya menimbulkan dedikasi yang begitu tinggi akan pekerjaan yang tengah kita emban? Karena disadari atau tidak bayang-bayang mengenai pekerjaan sudah mulai sedikit terbayang. Bisakah diri ini menjadi seorang yang berdedikasi tinggi akan pekerjaan nanti? Bismillah, in shaa Allah dedikasi itu akan segera ku peroleh melalui pelajaran dari si Bapak tadi, walapun toh aku tak bertanya apapun, tapi ku telah dapatkan jawabannya. Jawaban tentang dedikasi yang Bapak itu berikan, sampai padaku melalui bisikan rintik hujan malam itu, dedikasi timbul karena adanya rasa bangga, bangga akan pekerjaan apa pun yang tengah kita kerjakan selama itu halal dan menjanjikan, menjanjikan tak hanya kebahagiaan dunia tapi juga kebahagiaan di akhirat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s