Sepenting Itukah Dabba?

2htongbleng-H60-pwkAku bukan Stanley yang tak membawa dabba karena tak punya, tapi lebih tepatya memang tak pernah tahu bahwa dabba adalah hal yang harus dibawa.  Sedari kecil hingga sebesar ini, bisa dihitung dengan jari berapa kali kiranya aku membawa si dabba. Pernah suatu ketika ku bawa, tapi sungguh tak efektif menurutku membawa dabba. Maka selanjutnya ku putuskan untuk tak kembali membawanya. Lain diriku, lain pula si Stanley. Stanley ingin sekali membawa dabba. Tapi, dia tak punya daya apalagi upaya untuk membawanya. Orang tuanya yang telah meninggal tak mungkin lagi dengan sengaja memberinya dabba. Ngomong-ngomong masalah dabba, udah pada tahu belum dabba itu apa? Dabba adalah bahasa India yang kalau di Indonesiakan berarti kotak makan siang (lunch box).

            Cerita kali ini diilhami dari film yang ku tonton beberapa hari yang lalu. Telah dengan sengaja ku bercerita lewat twitter dengan hashtag #STD (Stanley ka dabba) dan sengaja pula ku tuliskan kembali di blog karena malam ini kembali diingatkan tentang cerita ini. Film ini bercerita tentang dabba, unik sih menurutku karena seperti yang telah aku tuliskan sebelumnya, tak pernah sedikitpun ku anggap membawa dabba ke sekolah adalah hal yang penting, sunggguh.

            Stanley sedang dalam masalah karena dia satu-satunya anak yang tak membawa dabba. Tak pelak ketika makan siang tiba, dia bingung harus apa. Di saat anak lain sibuk menikmati isi dabba, Stanley bingung harus mengisi perutnya dengan apa. Teman-teman Stanley yang memang di desain untuk menjadi anak baik dengan senang hati membagi makanan yang mereka bawa. Hal ini membuat Stanley dan cacing di perutnya menjadi bersuka cita. Bukan hidup namanya kalau tanpa halangan dan rintangan. Masalah kembali datang ketika seorang guru –yang aneh- melarang Stanley untuk memakan makanan dari dabba yang di bawa teman-temannya. Padahal, usut punya usut, si gurulah yang berniat untuk meminta makanan itu karena dia –yang aneh- juga tak pernah membawa dabba. Jadilah, Stanley menjadi pembohong pada hipotalamus di otaknya dengan mengisi perutnya hanya dengan air keran kamar mandi. Tak hanya pada hipotalamus, dia juga berbohong pada teman-teman sekelasnya bahwa dia telah membawa dabba yang nikmat karena sungguh Stanley benar-benar malu dengan hinaan yang dilakukan si guru –yang aneh- yang beberapa hari lalu memarahinya.

            Masalah tak berhenti sampai di situ. Pihak sekolah akan menerapkan yang namanya full day school yang artinya dabba yang dibawa juga harus full. Stanley kembali gelisah, dabba dengan ukuran standar saja belum pernah berhasil dia bawa, bagaimana dengan dabba dengan kapasitas full? Tapi sungguh, masalah dabba tak pernah menyurutkan niat Stanley untuk tetap bersekolah. Teman sebangku Stanley memergoki bahwa sesungguhnya selama ini Stanley berbohong dan berniat bersama teman-teman yang lain akan membagi dabba yang mereka bawa dengan Stanley tanpa sepengetahuan si guru –yang aneh-.

            Perlu diketahui juga bahwa si guru –yang aneh- telah menggantungkan makan siangnya pada makanan yang dibawa teman-teman sekelas si Stanley. Akhirnya, munculah kreativitas mereka untuk mengakali agar si guru –yang aneh- tak mampu untuk dengan sengaja mengambil dabba mereka. Mereka sekelas kerap kali berpindah-pindah tempat untuk menikmati isi dabba, dari tempat persembunyian yang satu ke tempat persembunyian yang lain. Kegiatan nomaden yang mereka lakukan ini dikarenakan si guru –yang aneh- terus menerus mencari tempat persembunyian mereka dengan maksud untuk ikut menikmati isi dabba. Sepandai-pandainya anak SD menyusun strategi, pasti akan kecolongan juga. Si guru –yang aneh- suatu ketika tanpa mereka duga berhasil menemukan tempat mereka menikmati dabba. Nafas terengah dengan muka merah padam menemani kaluarnya kata-kata kasar dari mulutnya pada Stanley tentunya, karena dia beranggapan Stanley lah akar dari permasalahan ini. Di antara kata-kata kasar yang keluar hanya kalimat inilah yang terekam jelas dalam ingatanku “no dabba, no school”. Yaelah pak, nggak segitunya juga kali, perasaan si bapak juga kagak bawa juga tuh dabba, kenapa cuma saya yang nggak boleh sekolah? Bapak juga dong –itu hanya sekedar kalimat yang terlontar dalam alam sadarku jika aku jadi si Stanley-. Berhubung si Stanley hanya seorang anak SD kelas 4, jadilah dia menganggap bahwa masalah ini adalah masalah paling besar dalam hidupnya yang membuat dia benar-benar tidak masuk untuk beberapa hari.

            Semua teman sekelas Stanley merasa kehilangan karena hilangnya si Stanley. Mereka hanya bisa memandang dengan rasa benci ketika si guru –yang aneh- mengajar mereka. Suatu ketika Stanley memberanikan diri masuk sekolah tapi hanya sampai di gerbang sekolah. Teman-teman akrabnya menemuinya dan menyuruhnya untuk mengikuti sebuah klub menari agar dia bisa bergabung dalam pentas seni nantinya. Stanley yang memang hidupnya antimainstream menerima tantangan itu agar bisa kembali ke sekolah. Singkat cerita si Stanley terpilih dari klub tersebut untuk tampil di pentas seni sekolahnya. Semua teman-teman Stanley bersuka cita akan kabar bahagia tersebut. Sehari sebelum pertunjukan, Stanley berangkat ke sekolah dengan membawa dabba ukuran jumbo. Dia sama sekali tak berniat untuk memakannya sendiri, tapi akan dia berikan pada orang yang spesial. Siapakah dia? Dia adalah si guru –yang aneh- tadi, yang telah membuatnya malu setengah mati hingga tak sanggup untuk masuk sekolah. Tak setitik pun rasa benci tertoreh di hati Stanley, sebaliknya dengan polosnya dia menyajikan semua makanan di dabba nya untuk si guru –yang aneh-. Si guru –yang aneh- kaget bukan kepalang, tak menyangka hingga tak sanggup berkata-kata, jadilah hanya satu yang bisa dia kira, yaitu mengundurkan diri dari sekolah tercinta. Pengunduran diri yang dia lakukan bukan karena apa-apa, tapi karena sikap baik si Stanley yang ternyata tak pernah sedikit pun menaruh dendam padanya yang telah dengan kasar menghina dinakannya.

            Stanley tampil memukau di pertunjukkan sekolah hingga kepala sekolah dengan rela hati mengantarnya pulang. Mobil kepala sekolah tak berhenti di halaman rumahnya, Stanley memilih untuk turun di jalan menuju rumah yang sesungguhnya bukan rumahnya. Seperti yang telah ku ceritakan sebelumnya, Stanley adalah anak yatim piatu tapi tak tinggal di panti asuhan. Ia tinggal bersama pamannya, seorang pemilik restoran yang sungguh tiran. Mempekerjakan Stanley bak seorang budak yang tak punya rasa lelah. Dia lupa bahwa stanley hanyalah seorang anak SD yang tak sepatutnya bekerja seberat itu. Pulang sekolah hingga larut malam, Stanley harus bekerja di dapur restoran tanpa istirahat sedikit pun karena kasur tak akan tergelar hingga restoran tutup. Mengapa begitu? Karena kamar Stanley ya dapur itu. Dabba yang pernah dia bawa adalah makanan sisa yang tak laku dari restoran pamannya yang dia minta pada pegawai pamannya. Si pegawai itu menyayangkan kenapa Stanley baru memberi tahunya bahwa dia harus membawa dabba, tahu gitu kan dari dulu dia sisihkan dabba untuknya, toh restoran itu milik pamannya sendri. Tapi si Stanley bilang jika itu milik pamannya, tak sedikitpun ada haknya, sungguh anak yang jujur.

            Akhirnya sejak hari itu, secara rutin Stanley membawa dabba ke sekolahnya. Dia membagi-bagikan dabba yang dia bawa tidak hanya pada teman-temannya tapi hampir ke semua lapisan sekolah, mulai dari guru, penjaga sekolah, hingga kepala sekolah. Jadilah Stanley terkenal dengan sebutan Stanley ka dabba (Stanley membawa kotak bekal). Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini, salah dua di antaraya adalah berbagi karena tak berkecukupan bukan alasan, Stanley saja bisa, dan fokus pada kekurangan sangat tidak disarankan, justru kekurangan itulah bisa menjadi ladang untuk kita menempa diri dalam rangka membuat yang kurang menjadi cukup bahkan lebih. Stanley ka dabba adalah sebuah film yang didedikasikan untuk para pekerja anak yang jumlahnya banyak sekali di India, film ini dibuat dalam rangka mengkapnyekan larangan memperkerjakan anak di bawah umur, dan Stanley adalah salah satu contonya. Sungguh film yang menginspirasi, semoga kalian yang menonton atau yang hanya mambaca tulisan ini juga ikut terinspirasi, semoga saja.

279434-stanley-ka-dabba

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s