Memperjuangkan Hak Asasi Kucing

kucing-lucuHari ini terasa begitu produktif, setidaknya itu yang ku rasakan jika dibandingkan dengan hari-hari sebelum hari ini. Bagaimana tidak disebut produktif? Entah sudah sepanjang apa jalan yang ku lalui hari ini. Bandingkan saja dengan hari sebelum hari ini, hanya bergelayut di atas kasur yang entah sejak kapan menebarkan pesonanya yang tak sanggup ku menolaknya. Bolak ke sana, balik ke sini, mondar ke sana, mondar ke sini. Capek sih, tapi senengnya bukan kepalang. Setidaknya hari ini percepatannya maksimum, entah percepatan dalam hal apa, apapun itu, intinya aku senang. Ditambah lagi jalanan bogor yang biasanya mampet eh macet, agak sedikit lengang. Tak pelak kondisi ini membuat hati menjadi senang bukan kepalang.

            Memulai aktivitas sekitar jam 9 pagi terus menerus hingga tak terasa hari telah beranjak sore, kalau tak salah sekitar jam 18.00 aku dan temanku baru selesai konsultasi dengan seorang dosen. Baru terasa ternyata seharian belum makan nasi sama sekali sehingga kita putuskan untuk membeli si nasi. Masalah terbesar kita ketika akan makan adalah menentukan menu apa yang akan dimakan. Banyak sekali pilihan tapi tak semuanya sesuai dengan keinginan. Setelah menimbang baik buruknya, akhirnya kita putuskan untuk membeli nasi -dengan lauk tentunya- di sebuah warung yang tak jauh dari kosan.

            Warungnya cukup ramai, baiklah, mengantri adalah pelarian. Pesan menu yang diinginkan dengan embel-embel dibungkus ya bang, kemudian kita mengantre sambil duduk. Ketika akan duduk, ada seekor kucing yang menghalangi kakiku untuk menuju tempat duduk. Kucing itu bukan kucing sembarangan, dia punya ekor yang panjang yang pergerakannya tak bisa diprediksi. Ku langkahkan kaki untuk melangkahinya, prediksiku tepat, ku berhasil untuk tidak menginjak si ekor kucing. Selanjutnya adalah giliran temanku, dia mengamati pergerakan ekor kucing, hap hap hap, yup berhasil. Berhasil menduduki tempat duduk bukan akhir dari segalanya, sekarang giliran menunggu pesanan.

            Si abang-abang terlihat sibuk membungkus ini membungkus itu. Satu plastik besar berisi berbagai pesanan telah selesai, tapi sayangnya bukan pesenanku. Isi plastik itu adalah milik dua mbak-mbak yang duduknya persis di sebelahku, sepertinya mbak itu telah lebih dulu menunggu dari pada aku. Kedua mbak ini terlihat begitu asiknya mengobrol hingga tak sempat memperhatikan kucing yang sedang bersantai di bawahnya. Si mbak-mbak berdiri dan tanpa siapapun sadari dia telah melakukan kesalahan besar, menginjak ekor kucing yang panjang itu. Si kucing serta merta kaget dan mencengkeram kaki si mbak tanpa ampun. Untung si mbaknya pake celana jeans, jadi cakaran si kucing ga kena kulit si mbak. Si mbaknya kaget bukan kepalang, berteriak dengan nada standar sambil mengangkat kakinya sehingga ekor si kucing bisa terlepas dari injakannya. Serta merta si kucing langsung melarikan diri tanpa siapa pun sempat melihat. Dari kejadian itu terkesan si kucinglah yang bersalah di mata semua orang yang detik itu ada di sana. Tapi, tidak denganku. Si mbak yang kaget menoleh ke belakang, ke arah larinya si kucing dan bertanya pada temannya,

“aku nggak nginjek kucingnya kan tadi?”

“nggak kok” jawab si temen mbaknya yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi

Aku pun langsung menyela demi memperjuangkan hak asasi kucing “nginjek tadi mbak, nginjek ekornya” jawabku tanpa diminta

“eh… iya iya” jawab mbaknya dengan rasa bersalah pada si kucing

            Aku pun puas dengan apa yang ku lakukan tadi, memperjuangkan hak asasi kucing di mata orang-orang yang menganggapnya bersalah. Bak seorang pengacara yang telah berhasil memperjuangkan kliennya yang tak bersalah tapi dituduh sebagai tersangka. Berkat kesaksianku tadi, kini semuanya telah terlihat jelas, siapa yang salah dan siapa yang tak salah. Hak asasi haruslah diperjuangkan, bukan hanya hak asasi manusia saja, hak asasi makhluk hidup lain juga penting untuk kita perjuangkan, hahaha #Random #ngomongNaonEtaTeh :D. Maaf ya kalau tulisannya agak ngaco tapi dipikir-pikir bener juga kan? Haha.

Advertisements

4 thoughts on “Memperjuangkan Hak Asasi Kucing

    • hahaha…. ketahuan nih Rini pecinta kucing, itu kejadian yang g begitu pnting sih rin tapi ga tau kenapa pengen aku ceritain, kirain bakalan dibilang ga pntg, eh Rini malah ngasih tanggapan positif, gumawo RIni 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s