Sumringah

Happy Baby Wearing HatBeberapa bulan ke depan akan menjadi rutinitas rupanya, menantang jalan raya dari kosan ke tempat penelitian, tepatnya di balai Pusat Studi Biofarmaka, taman kencana, Bogor. Tempat ini ku jangkau dengan perjalanan selama kurang lebih 30 menit, itu pun jika jalanan tak macet. Berkutat dengan jalanan, berebut jalan raya dengan para pengendara yang lain, sikut sana, sikut sini, nyempil sana, nyempil sini. Memperhatikan wajah mereka yang seringkali ditekuk membuatku tanpa terasa juga menekuk wajah. Ya semacam induksi, yang lain begitu maka aku pun juga ikut begitu. Di sini banyak sekali abang-abang –entah siapa yang melantiknya- mendedikasikan diri sebagai pengatur jalanan. Mereka biasanya menempati pertigaan atau tempat untuk berputar arah, biasanya para pengendara mobillah yang memberikan insentif pada mereka. Bila ku perhatikan, ada yang memberinya 1000 atau 2000 rupiah. Karakter mereka biasanya keras dan tegas agar para pengendara mematuhi apa yang mereka kodekan, walaupun toh mereka tak memakai seragam apa pun untuk menguatkan peran mereka di sana.

            Karakter keras dan tegas ini mungkin adalah tempaan lingkungan jalanan yang begitu keras dan tegas. Ku maklumi itu semua, sehingga jarang sekali orang-orang ini menyunggingkan seulas senyum. Berkali-kali ku melintas, taka da secuil pun senyuman yang mereka tawarkan, yang ada hanyalah ketegangan. Pak polisi juga begitu. Jadi cara membedakan pak polisi dengan para polisi dadakan ini hanyalah seragam mereka, setidaknya begitulaj menurutku. Tapi, ku menemukan satu hal berbeda ketika melintasi jalan di depan istana bogor, tepatnya di pertigaan menuju kantor wali kota Bogor. Di sana kalian akan menemukan seorang Bapak berseragam Dinas Perhubungan (DISHUB) yang menawarkan pemandangan berbeda dengan para polisi beneran maupun polisi dadakan itu, sebuah senyuman yang dibarengi wajah beliau yang selalu sumringah.

Continue reading