Marah, Murah, Murahan

belanja            Perempuan dengan segala dinamika kehidupannya, dengan segala problematika pemikirannya, dan entah apapun itu dapat dipastikan suka yang namanya belanja. Kenapa aku begitu yakin akan hal ini? Ya karena tak dapat dipungkiri aku pun juga seorang wanita yang sebelas duabelas lah sama wanita-wanita yang lain. Tapi, ya aku ga gitu-gitu banget sih. Gitu gimana maksudnya? ya yang dikit-dikit belanja, geser dikit belanja, jalan dikit belanja, aku bukan tipe yang seperti itu. Selain terkendala dana aku juga kurang bisa berada di tempat ramai –exp, mall atau pasar- dalam waktu yang relatif lama, ditambah lagi kelainan pada metabolisme dalam tubuhku yang menyebabkan aku tak bisa berdiri dalam jangka waktu yang cukup lama. Mengapa begitu? Begini alasan ilmiahnya, ketika dalam suatu ruangan terdapat banyak manusia, maka kebutuhan akan oksigen meningkat padahal oksigen yang tersedia sama saja. Sehingga terjadi distribusi oksigen yang sedikit pada setiap orang yang ada. Sedikitnya asupan oksigen ini akan mengganggu jalanya metabolisme glikolisis dalam tubuh untuk membakar glukosa menjadi ATP (energi). Berkurangnya produksi ATP ini akan menyebabkan seseorang mudah mengalami 5L (lemah, lesu, lunglai, 2L yang lain lupa hahaha). Tuh kan kok jadi kayak kuliah, tak tahulah, intinya aku suka belanja kalau perlu aja, kalau nggak ya nggak suka. Apalagi nemenin belanja, sungguh aku benar-benar tidak suka.

            Sebenarnya bukan nggak suka banget sih, tapi nggak suka aja. Tepatnya kemarin aku diajak sama saudaraku buat belanja di sebuah mall yang ada di kota ini. Setelah menyelesaikan kewajiban penelitianku hari itu di balai, kita langsung menuju tempat yang telah disepakati sebelumnya. Sungguh, ramainya minta ampun, tumben. Ternyata kita salah prediksi, kita keluar di saat yang tidak tepat, ya belanja di hari kemarin (14 februari –tahu lah ya hari apa-) sungguh keputusan yang benar-benar salah menurutku. Bagaimana tak salah, mau masuk aja, jalan menuju mall itu sungguh macet parah, tak hanya berangkatnya, pulangnya pun juga demikian, antrean memanjang sepanjag jalan di tempat parkirnya juga demikian. Sempat terjadi ketegangan antara aku dan saudaraku. Aku yang notabene memang tak begitu suka belanja, apalagi nemenin belanja, ditambah nemenin belanja sambil muter-muter tapi ga dapet-dapet apa yang dicari walaupun udah muter-muter, tanpa bisa ku kendalikan telah menunjukkan wajah yang tidak enak. Ketegangan yang terjadi tak dapat dipungkiri membuat kita berdua marah. Ok, marah. Hingga kepulangan pun ketegangan itu masih ada. Setelah melewati panjangnya jalan, kemarahan itu pun mulai memudar di bawa angin yang berhembus di sore itu.

            Kalau lagi belanja, terus nemuin barang murah, seneng nggak? Ya seneng lah. Itu juga yang kita berdua rasakan kemarin. Ketika pas perjalanan pulang, di tengah macetnya jalan, ada sesuatu di pinggir jalan yang menarik perhatian. Sebuah mobil pick up yang penuh muatan, muatannya bukan sembarang muatan, muatannya adalah setumpuk durian. Dari kejauhan kita melihat hal yang tak biasa, sebuah papan nama bertuliskan, 5000. Demi apa durian harganya 5000? Murah banget. OK murah. Kita pun tanpa pikir panjang memarkir motor di depan sebuah indomaret dan berjalan menuju tempat si abang-abang penjual durian. Yah… lumayan lah ya, itung-itung ngobatin rasa capek pas muter-muter di mall tadi. Kita tak tertarik sama durian yang 5000 karena digelatikn di tanah, kita lebih tertatik sama durian yang di tumpuk di singgasana pick up. Kita tambah terperangah ketika si abangnya bilang harganya 10.000. Murag banget nggak sih? Kita pun langsung memilih 2 durian atas saran si abang-abang. Sempet curiga sih, pertama kenapa bisa semurah itu, kedua si abang-abang bilang nggak bawa pisau, ketiga jualannya di tempat yang remang-remang penerangannya, tapi ya sebodo amat yang penting bisa makan duren murah hahaha.

            Kita pun puas dengan pilihan untuk membeli si durian, terbayar sudah rasa capek yang dirasa. Seriusan capek banget, jalanannya macet banget nget nget. Nyampe kosan, tanpa babibu ku buka si durian murah. Ternyata saudara-saudara duriannya sebagian besar busuk. Sungguh barang murah murahan. Ok murahan. Ada sih beberapa potong yang masih bisa dimakan tapi udah ga murni gitu, ada kontaminasi dari durian busuk lainnya. Saudaraku pun menertawakanku karena membeli si durian yang busuk, punya dia duriannya lebih besar dan lebih segar. Setelah ku selesai dengan eksekusiku, mulailah dia dengan eksekusinya. Telah banyak tenaga yang dikerahkan untuk membelah si durian, tapi duriannya tak bergeming. Anehnya lagi, taka da aroma tajam khas durian yang keluar ketika ada sedikit celah yang terbuka. Kecurigaan pun mulai menjadi jadi. Tenaga super pun kembali dikerahkan dan yak… durian berhasil dibelah. Tapi sungguh, kecurigaan menemui pembuktian, ternyata duriannya mentah saudara-saudara, hahaha. sungguh lengkap sudah penderitaan hari kemarin. Dimulai dengan sesuatu yang tak baik maka berakhir pun juga dengan sesuatu yang tak baik. Ok lengkap sudah, marah, murah, dan murahan. Cukuplah kita yang menjadi korban rayuan barang murah murahan yang membuat kita tak bisa untuk tak marah.

Advertisements

6 thoughts on “Marah, Murah, Murahan

  1. Baru baca.
    Haha, kalau saya aneh.. Kadang niat belanja tapi malah gk beli apa-apa, trus kadang gak niat belanja tapi malah beli ini-itu..
    Tapi itu “kadang-kadang” sih, gak selalu terjadi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s