Maaf Pak, Saya Tak Punya Solusi

sedih            Hal satu inilah yang membuat hari ini hampir tidak efektif dan tidak produktif, ya gara-gara ketidakpastian. Jika masih ada yang pasti, kenapa harus bermain-main dengan ketidakpastian. Tak masalah menunggu dalam penantian yang lama, asalkan pasti kapan kiranya penantian itu akan berakhir, haha #curhat. Gini nih ceritanya, jadi di balai tempat aku penelitian itu ada sebuah alat yang sedang menjadi primadona, diperebutkan oleh hampir semua orang yang ada di sana, termasuk aku. Alat itu bernama rotary evaporator. Alat itu sekarang sedang dikuasai oleh seorang pegawai tetap di sana yang memang sedang mengerjakan sampel punya orang lain. Balai ini memang menerima layanan untuk melakukan identifikasi terhadap suatu sampel –exp. Analisis proksimat-. Berhubung orang yang nyuruh itu bayar dan biasanya mendesak, akhirnya sampel orang itulah yang didahulukan, yang artinya aku dan teman-temanku harus antre.

            Tadi udah aku bilang kan, ga masalah sama sekali menanti asalkan pasti kapan akhir dari penantian itu selesai. Tapi, masalahnya si mas-mas yang menguasai alat itu tak memberikan kepastian kapan alat itu bisa kita pakai. Kalau ditanya pasti jawabannya, mungkin besok bisa, datang aja besok ke sini. Dan bisa ku prediksi, pas aku datang besoknya, pasti alatnya ga bisa dipake. Si mas-masnya itu ga tahu apa pura-pura ga tahu, berapa banyak pengorbanan yang harus aku dan temenku keluarin hanya cuma buat dateng ke balai itu. Korban bensin, tenaga, pikiran, harta, jiwa, dan raga –lebay sih-. Daripada aku buang-buang semua itu, mending aku SMS aja atau nungguin kabar dari temenku yang hari ini bakalan ke sana. Dan saudara-saudara, benar perkiraan awalku, alatnya tak bisa dipake. Horeee, setidaknya aku ga mubadzir segala hal hari ini buat datang ke balai. Lantas, apa yang aku kerjakan hari ini? ya, aku menuju departemenku untuk mengurus berbagai surat. Surat itu ku buat untuk dua lab yang akan aku gunakan untuk penelitian selanjutnya, lab. kimia fisik dan lab. biofisika material. Setidaknya beberapa hari ke depan aku tak harus berjibaku di jalanan untuk pergi ke balai itu.

            Siangnya ku jemput saudaraku di rektorat IPB. Dia sedang mengurus KRS nya yang sedang bermasalah. Sembari menunggu aku memperhatikan sekitar barang sejenak dan aku melihat sesuatu yang membuatku menyesal telah begitu tak bersyukurnya akan ketidakpastian yang ku alami. Sebenarnya apa yang aku lihat? Yang ku lihat adalah beberapa bapak-bapak yang menunggu sesuatu yang tak pasti, ya mereka menunggu ketidakpastian dengan harapan yang pastinya tak berharap sesuatu yang tak pasti. Mereka adalah bapak-bapak tukang becak yang dengan setia menunggu para pegawai ataupun mahasiswa yang bersedia menaiki becak mereka. Mereka sungguh tak gentar bersaing dengan para abang-abang tukang ojek yang jauh lebih digemari daripada becak tua yang ternyata bapak-bapaknya juga sudah tua. Miris rasanya melihat mereka menunggu dengan tatapan yang tak bisa ku maknai. Tak bisa ku prediksi berapa kiranya penghasilan tetap mereka yang mungkin tak tetap, mungkinkah 10.000, 50.000, atau ah tak tahulah, yang pasti sangat jarang ku lihat orang yang memakai jasa mereka. Padahal, pastilah istri dan anak-anak bapak-bapak itu menggantungkan harapan dan masa depannya pada si bapak-bapak tukang becak.

            Sedih rasanya di saat banyak mobil-mobil mewah dan motor-motor yang melintas di depan mereka. Sakit rasanya melihat perbedaan pakaian yang mereka pakai yang sungguh sangat berbeda dengan pakaian para pegawai dan para mahasiswa itu. Sempat terlintas pertanyaan, mereka udah makan nggak ya? Mereka punya anak nggak ya? Anaknya sekolah nggak ya? Anaknya kuliah nggak ya? Pastilah ada keinginan untuk menyekolahkan anak mereka di kampus rakyat ini, pasti ada. Setelah itu, aku mikir lagi kiranya apa ya yang bisa ku lakukan buat mereka? Apa aku kasih uang –lagi boke-, apa aku kasih modal buat usaha –tapi usaha apa, lagian modalnya siapa yang mau dikasih-, apa aku kasih lahan buat bertani –lahannya siapa-, apa aku ini apa aku itu, dan akhirnya saya menyerah pada satu kalimat, maaf pak saya tak punya solusi. Di tengah banyaknya kelemahan yang saya punya, mana bisa saya menolong bapak, sedangkan menolong diri sendiri saja masih tak mampu. Tapi, itu bukan alasan sih, Stanley aja bisa berbagi dalam kekurangan, tapi sekali lagi ku tekankan, aku bukan Stanley. Sampai di titik ini ingin rasanya berlari menjemput kekuasaan sehingga dengan leluasa ku bisa membantu para bapak-bapak itu dan tak ada lagi ceritanya ku hanya menyerah pada kalimat, maaf pak saya tak punya solusi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s