Punya Motor dan Punya Pacar

danbo___i_give_you_my_heart_by_christianalder-d5l0ijjBeberapa bulan terakhir ini kegiatanku banyak terbantu karena adanya benda yang satu ini. Ke sana kemari menjadi lebih cepat dan lebih mudah. Tak ada lagi istilah Institut Perbesaran Betis (IPB). Ya benar sekali, istilah itulah yang ku amini selama 3 tahun kuliah di kampus ini. Gimana nggak perbesaran betis? Jarak kosan ke departemenku dari ujung ke ujung. Tiap pagi harap-harap cemas dari kosan ‘ada bis nggak ya, ada bis nggak ya’. Kalau lagi hoki, ada tuh bis terakhir tapi kalau lagi apes sih nggak bakalan ada tuh si bis. Harap-harap cemas ini terjadi karena kedisiplinanku yang tak pernah beranjak dari kata malas, nunda-nunda buat berangkat kuliah, ya jadinya harap-harap cemaslah hasilnya. Sebenarnya kalau nggak ada bis, masih ada alat transportasi lain, yaitu si abang-abang ojek yang selalu setia menawarkan jasa. Tapi, sungguh berat diri ini mengeluarkan uang 3000 rupiah untuk membayar jasa si abang-abang. Uang 3000 kan lumayan buat beli siomay atau gorengan, pikirku. Jadi, kalau nggak ada bis, pilihan lain kalau lagi nggak buru-buru adalah jalan kaki, yang artinya perbesaran betis, hahaha.

            Sudah sejak tingkat satu dulu rasanya pengen banget punya motor. Terbayang bagaimana indahnya melewati jalanan kampus tanpa harus bercapek-capek ria. Ditambah lagi, ku dengar selentingan kabar bahwa hampir semua teman-teman SMA ku dulu membawa motor ke kampus mereka, dan mereka agak kaget ketika kita -aku dan teman-temanku yang kuliah di IPB- tak satu pun yang membawa motor. Tapi, ku nikmati saja fasilitas yang belum waktunya ku miliki, toh ngejar-ngejar bis dan menyusuri jalanan itu telah menjadi kenangan sendiri ketika ku telah berada pada tahap ini. ku tahan semua godaan, ku tahan semua keinginan, ku halangi semua ego untuk punya motor karena ku yakin semuanya akan datang dan ada pada waktu yang tepat nantinya. Dan kawan, setelah semua proses ku lalui dengan penuh kesabaran ini, akhirnya ku punya kesempatan untuk punya motor, yeyeye. Tapi bukan motorku juga sih, tapi motor orang tuaku. Mereka mengizinkanku untuk membawa motor setelah proposal yang ku ajukan. Proposal bahwa aku telah siap dan pantas untuk punya motor. Alasanku sangat kuat sehingga tak ada alasan bagi orang tuaku untuk tak mengabulkan proposalku. Penelitianku yang harus dilaksanakan di kota sana mengaharuskanku untuk bolak balik kota dan kampus tiap hari. Sungguh benar-benar berat diongkos karena harus menumpang 2 kali angkot dengan ongkos 5000, sehingga dalam sehari aku akan menghabiskan 10000 hanya untuk ongkos. Sungguh, sangat disayangkan. Bayangkan saja jika aku bawa motor, 10000 itu bisa buat beli bensin dan bisa buat jalan-jalan muter-muter sepuasnya ditambah lagi lebih efisien.

            Setelah aku pikir-pikir, pengalamanku punya motor ini mirip –kalau tak mau dibilang sama- dengan punya pacar. Seriusan. Walaupun toh aku tak pernah punya pacar sih. Ini Cuma analisis dangkal –agak dalam sih- seorang aku. Ya, punya motor dan punya pacar adalah hal yang sama, semacam analogi gitu lah. Kok bisa? Ya begini lengkapnya. Memiliki motor bagiku pada tingkat empat ini sungguh pas sekali waktunya. Punya di saat dan situasi yang tepat. Bayangkan saja jika aku tak sabar sehingga memaksa orang tuaku untuk memperbolehkanku membawa motor sejak tingkat satu, pasti kesenangan yang ku rasakan tak akan semaksimal sekarang. Punya motor di tingkat empat itu, senengnya maksimal –menurutku-. Kenapa begitu? Ya karena di tingkat ini aku hanya disibukkan sama peneitian, tidak sama kuliah, praktikum, laporan, atau makalah-makalah itu. Tak pelak hal ini membuatku punya banyak waktu untuk sejenak berkeliling bersama motorku. Makan di rumah makan yang dulu hanya bisa ku lihat dari dalam angkot, mengunjungi tempat yang hanya bisa ku datangi jarang sekali, atau membeli buah-buahan murah di pasar buah itu. Sama hal nya dengan punya pacar, ketika kita punya pacar tidak pada waktu dan situasi yang tepat, maka kebahagiaan yang kita rasakan tidak akan maksimal. Terkikis selama proses pacaran itu. Emang kalian rela kebahagiaan yang kalian rasakan nantinya tak bisa maksimal hanya karena tak bisa bersabar untuk tak membuang-buang waktu buat pacaran? Kalau aku pribadi sih nggak rela. Mending melewati proses menahan rasa dan terus bersabar untuk menunggu datangnya kebahagiaan yang maksimal itu ketika punya pacar –baca: suami/istri- di saat dan situasi yang tepat. Pun demikian orang tuaku pasti nggak bakalan setuju karena bakalan banyak alasan yang akan membuat mereka tak akan setuju dengan jalan yang aku pilih kalau memutuskan pacaran atas dasar buru-buru. Pastinya larinya bakalan backstreet. Kan dosanya bakalan numpuk-numpuk tuh, mulai dosa pada orang tua hingga dosa pada sang pencipta. Alhamdulillah sebesar-besarnya aku bisa bertahan di jalan yang seharunya ku jalani untuk tak pacaran. Semoga terus diistiqomahkan untuk terus bisa menahan rasa di hati dan terus memperbaiki diri hingga bisa bersanding dengan doi yang diridoi ilahi, cieee.

Advertisements

4 thoughts on “Punya Motor dan Punya Pacar

  1. Suka dengan analoginya, 🙂
    Albert Einstein pernah berkata, “the most beautiful in experience is the mysterious thing. In it all the true and art,”
    sesuatu yang misteri itu indah, jadi biarlah perasaan itu menjadi misteri. Dan akan terjawab pada waktunya oleh keindahan. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s