Pagar

pagar-besi-minimalis-03Bicara masalah pagar, artinya bicara masalah pembatas. Sebuah pagar pada hakikatnya bisa memisahkan hal-hal yang harus dibatasi. Bukan pagar namanya jika tak punya fungsi sebagai pembatas. Lantas jika ada pagar yang hanya memagar-magari tapi sejatinya tak membatasi? akan kita sebut apa pagar bersangkutan? Pagar-pagaran kali ya, hahahaha. Pagar dipasang tentunya dengan maksud dan tujuan tertentu. Topik tentang pagar tiba-tiba terlintas dalam pikiranku ketika beberapa minggu yang lalu aku dan temanku mencari sebuah bengkel milik seseorang yang tak kami kenal sebelumnya. Bengkel itu terletak tak begitu jauh dari kampus. Letaknya di sebuah wilayah yang kelihatannya memang didesain untuk berkumpulnya berbagai bengkel. Tiap petak jalan yang kita lewati di kanan atau di kirinya akan berdiri bengkel dan bengkel yang paling mendominasi adalah bengkel yang spesialisasinya untuk membuat pagar. Ku perhatikan tiap bengkel sepertinya sedang sibuk dengan kegiatan las mereka untuk menghasilkan pagar sesuai pesanan.

            Banyaknya bengkel pagar di sana tak pelak membuat rumah-rumah yag di sekitarnya hampir semuanya mempunyai pagar. Tak seperti di desaku, hanya bisa dihitung dengan jari rumah yang berpagar. Mungkin inilah penyebab kenapa kehidupan bertetangga di desa terasa lebih hidup dibandingkan di kota. Tanpa pagar, rumah akan terkesan bersedia menerima hadirnya tamu dari kalangan apapun. Lantas jika sudah begitu, orang tak akan segan datang dan otomatis kehidupan bertetangga akan semakin hidup. Bagaimana dengan rumah yang berpagar? Menurutku rumah yang berpagar terkesan menutup diri dan tak sembarangan orang bisa masuk. Lantas, jika aku sudah punya rumah nanti, akan memilih yang berpagar atau tidak? Kalau aku sih akan memilih yang berpagar. Lho kok? Kontradiksi ya kesannya, hahaha. Pasti ada alasan lah kenapa aku memilihmu, eh memilih rumah yang berpagar maksudnya. Semuanya berdasar pada pengalaman yang hilir mudik dari kehidupanku sampai detik ini.

Continue reading