Induksi

danbo_looking_up_in_the_sky_of_penang_by_fighteden-d5gt5odTak mengisi bukan berarti tak berinteraksi. Begitulah kiranya kalimat yang pas untuk menggambarkan hubungan kita. Hubungan yang telah lama terjalin walaupun akhir-akhir ini semakin renggang, rentan tak terjalin. Tak kurang tiap hari ku sempatkan untuk sesekali mengamati keseharianmu lewat media maya ini. Satu-satunya yang bisa menghubungkanku denganmu, walaupun toh kau tak pernah tahu itu. Tak apalah, cukup aku saja yang tahu, itu saja sudah cukup bagiku. Banyak sekali kejadian yang ku alami tiap harinya yang ingin sekali ku lontarkan dan curahkan padamu. Tapi rasanya ada hal yang menahan diri ini untuk bercerita, malu. Ya mungkin rasa malu lah yang menjadi penghalang. Ku takut kau akan salah paham. Sebenarnya bukan kau, aku yakin kau tak akan salah paham. Ya, aku takut mereka salah paham, salah paham akan hubungan yang kita jalin. Salah paham akan cerita-cerita yang hendak ku sampaikan. Tapi, malam ini tak dapat ku tahan lagi. Ku buang rasa malu karena rasa rindu yang menderu. Rindu padamu yang hanya akan terobati jikalau bertemu, bertemu denganmu, blogku. Malam… long time no see. Cerita kali ini adalah resume hal-hal yang ku alami beberapa minggu ini. Minggu-minggu yang menurutku penuh dengan bumbu-bumbu rasa sendu karena menanti penelitian yang tak kunjung ku tahu kapan kan beradu.

Sejenak ingin ku lupakan masalah penelitian itu, bolehkan aku? Aku ingin bercerita mengenai diri sendiri, bolehkan? Boleh lah ya, blog-blog aku ini, wkwkwkwk. Satu hal mengenai diri ini yang baru ku sadari yang ternyata mudah sekai terinduksi. Mengacu pada pelajaran fisika yang hanya secuil ku mengerti, induksi adalah suatu keadaan dimana suatu benda jika benda didekatkan dengan benda lain yang punya gaya (misal: gaya magnet) maka benda tersebut akan punya gaya itu juga. Bener ga? Kayaknya sih bener. Nah, kurang lebih seperti itulah sifatku yang baru-baru ini ku sadari, mudah terinduksi, dengan kata lain mudah dipengaruhin, mudah didoktrin, dan mudah mudah yang lainnya. Baiknya aku sekarang (jika aku baik ya) tak lepas dari peran orang-orang di sekitarku yang juga baik. Benernya aku sekarang (jika aku bener ya) itu pun juga karena peran orang-orang di sekitarku yang bener. Pengen sih sebenernya punya pendirian sendiri tanpa induksi dari manapun, murni dari dalam diri, tapi sangat sulit rasanya mengabaikan induksi-induksi itu. Parahnya lagi induksi ini tak hanya mempengaruhiku dalam hal sifat dan tingkah laku tetapi juga dalam hal yang lain, misalnya saja selera. Ya selera mengenai hal-hal yang aku suka, baik itu makanan, pakaian, dan kamu.

Berkali-kali ku dengar kebaikanmu dari mereka, kehebatanmu dari mereka, dan kecemerlanganmu di mata mereka. Sebenarnya aku juga merasakan itu, tapi ya hanya sebatas biasa-biasa saja. Ya tak pernah lebih dari kata biasa. Tiap kali mereka bercerita tentangmu aku iya kan saja karena memang yang mereka ceritakan benar adanya. Parahnya lagi, tak pernah kekuranganmu yang mereka ceritakan di depanku semuanya tentang kecermelanganmu. Jadi, jangan salahkan diriku jika sedikit demi sedikit ku mulai meneliti keberadaanmu yang entah sejak kapan mulai sedikit-demi sedikit mendapat ruang di otakku (cikakakakak). Sebisa mungkin ku acuhkan keberadaanmu, sungguh, karena aku tahu ini dilarang dan tak diperbolehkan. Tapi ternyata aku tak cukup berhasil, kau malah turun peringkat. Dari otak turun ke hati (huahahahaha, seriusan T.T). Menurutku kau turun peringkat karena berdasarkan morfologi tubuh yang ku tahu, hati terletak di bawah otak. Tapi ternyata aku salah faham, karena berpindahnya kau ke hati menandakan bahwa kau telah sungguh-sungguh tak hanya naik kelas, tapi juga akselerasi, karena berpindah ke hati artinya tak hanya hanya menguasai hati tapi juga menguasai semua sistem organ dalam tubuh ini termasuk otak, hati, dan semua yang berkaitan dengan perasaan. Sudah-sudah, ingin ku sudahi saja tulisan ini karena jika diteruskan akan semakin menggali ingatanku tentangmu dan tak pelak kau akan kembali naik peringkat walaupun aku juga tak tahu peringkat apa kiranya yang lebih tinggi daripada hati. Ngomong-ngomong masalah induksi, gimana ya cara ngilangin pengaruh induksi? Hahahahaha. Malem semua… 😀

Advertisements

2 thoughts on “Induksi

  1. Bisa jadi kita memang tidak bisa lepas dari induksi. Kalau ingin teguh pendirian (tapi teguh di jalan yang benar), mungkin kita harus terinduksi secara vertikal (baca: dekat dengan Rabb).

    #Walah, ngomong apa aku ini

    • iya sih, tapi kita juga harus menyeleksi mana induksi yang baik dan yang tak baik, biar induksinya tak merusak diri kita. Induksi secara vertikal sudah pasti harus ditingkatkan hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s