Akhirnya Menangis Juga

cryDinding pertahanan yang telah lama ku bangun dengan kokoh itu akhirnya runtuh.  Sekali lagi ku tegaskan, dinding itu ku bangun kokoh, tak main-main, sungguh. Tapi, dengan sekali sapuan air mata semuanya runtuh tak bersisa walapun awalnya utuh tak terkira. Ya, akhirnya ku menangis juga karena penelitian yang tak pasti kemana juntrungannya. Jika banyak temanku yang bilang telah banyak berurai air mata karena penelitian mereka, aku acuhkan mereka. Ku bangun bendungan dalam agar air mata tak akan ku rasa. Tapi semuanya sia-sia karena akhirnya hari ini ku menangis juga. Menangisi sesuatu yang entah apa itu. Menyesali sesuatu yang tak ku tahu pasti apa itu. Sebenarnya semuanya baik-baik saja, tapi ketidakjelasan memporak-porandakan semua. Sekarang ku mengerti mengapa banyak sekali wanita yang sakit hati ketika mereka disuruh menunggu akan sesuatu yang tak pasti. Lebih baik merubah arah menuju mata angin yang lain daripada menunggu si dia yang ada di dunia lain. Ya, ku merasakan itu semua walaupun ini tak seberat persoalan cinta yang mereka rasa. Tapi, sudah cukup mewakili akan apa yang mereka rasa, mungkin.

            Penelitian ini telah lama ku jalani, sebenarnya tak begitu lama, tapi terasa lama bagiku yang menunggu. Aku merasa dari awal mula penelitian ini dimulai, tak ada progress berarti. Aku merasa hanya berputar-putar di posisi yang sama, tak beranjak. Terburu-buru? Mungkin. Tapi aku merasa telah cukup bersabar, hingga sore tadi tak dapat ku tahan lagi, air mata karena penelitian yang selama ini teman-temanku alami terjadi padaku. Rasanya? Lega. Terasa ada beban yang hilang walaupun toh penelitian ini juga belum usai. Tak perlulah malu berurai air mata, toh kita tak merugikan siapa-siapa, hanya melepaskan beban yang menghimpit dada. Air mata juga itu juga menggambarkan aku yang sudah sedikit lelah dengan penelitian ini. Lantas, apakah aku akan menyerah? Tidak sama sekali. Coba saja buat aku lelah sampai dimana aku sudah tak bisa merasakan lelah itu sendiri, aku tetap tak akan menyerah. Bagaimana mungkin aku kan menyerah? Orang-orang di sekitarku telah dengan sekuat tenaga bertahan dengan rasa lelah yang mungkin berpuluh kali lipat dari rasa lelahku, mereka tetap bertahan kok untuk terus mendukungku. Lah, mereka bertahan bukan untuk diri mereka sendiri, tapi untuk diriku. Lantas, tak maukah aku berjuang melawan rasa lelah untuk masa depanku sendiri? Malu dong. Terimakasih untuk keluarga dan teman-teman yang senantiasa mendukung hingga saat ini. Air mata ini menunjukkan bahwa aku akan tetap bertahan hingga pertempuran ini usai. Jika kamu mahasiswa, tingkat akhir, menjalani penelitian, siap-siaplah berurai air mata. Hahahaha.

Advertisements

4 thoughts on “Akhirnya Menangis Juga

  1. Wow. #akuterkejut
    Hmm.. Alhamdulillah se-stres-stres-nya mengerjakan penelitian belum sampai mengeluarkan air mata. Palingan cuma sampai ubanan (karena kebanyakan pikiran), haha..

    • udah berapa lama emang penelitian? Eh jangan salah, aku juga dlu pas temenku bilang nangis aku bilang ke diriku sendiri ga bakalan nangis. tapi buktinya? akhirnya menangis juga. mungkin kamu belum waktunya nangis kali, jadi tunggu aja ya, waktunya tiba hahahahaha #berasaJahat :D.

      NB: kalo udah nangis nanti kasih tahu ya, jgn lupa tulis di blog #MakinTambahJahat

  2. jadi inget waktu nyusun skripsi dulu … ga sempat nangis siy, tp serasa sesak saat ratusan halaman seenaknya di coret-coret dosen pembimbing, hiks. keep strong blogger!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s